Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Nasehat Zee


__ADS_3

Zee yang melihat tingkah sahabatnya hanya bisa tersenyum. Dia bisa mengerti maksud sahabatnya tersebut. Zee sudah bisa menebak ke arah mana pembicaraan yang akan dilakukan oleh El tersebut.


"El, kita tidak bisa menyamaratakan setiap cerita pernikahan. Cerita pernikahan lo dan gue, pasti akan sangat berbeda. Jalan yang dilalui sudah pasti tidak sama." Kata Zee.


El mengangguk mengiyakan. Dia juga mengerti maksud perkataan Zee. Namun, saat ini dia sedang membutuhkan pendengar yang sekaligus bisa memberikannya saran.


"Iya, gue juga mengerti hal itu. Tapi, gue bingung bagaimana cara memulainya, Zee."


Zee tampak mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, dia berusaha untuk membantu El dengan memberikan beberapa saran.


"Pertama-tama, lo harus berdamai dulu dengan hati lo. Ngomong-ngomong, lo belum cerita bagaimana bisa sampai lo menikah dengan Fara. Itu dadakan banget. Jangan bilang lo sudah nyicil celap-celup, El?" tanya Zee. Kedua matanya masih menyipit sambil menatap wajah El.


"Sembarangan celap-celup. Lo kira teh celup apa," gerutu El. Dia cukup kesal saat mendengar tuduhan sahabatnya tersebut.


Setelahnya, El mulai menceritakan awal mula pernikahannya. Mulai dari makan malam keluarga, hingga dia terpaksa mengatakan jika dia menyukai Fara dan ingin menikahinya dihadapan semua orang. Zee hanya bisa mendengarkan tanpa berkomentar apapun sebelum El selesai bercerita.


"Lo masih menyukai Revi?" tanya Zee setelah El selesai bercerita.

__ADS_1


El diam tidak menjawab pertanyaan Zee. Kalau boleh jujur, rasa itu masih ada meskipun tidak sebesar dulu. Zee yang melihat El masih dia tidak menjawab pertanyaannya kembali bersuara.


"Baiklah, gue ganti pertanyaannya. Lo masih mengharapkan Revi?" tanya Zee.


Seketika El menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Gue sudah tidak mengharapkan apa-apa lagi kepada Revi," jawab El dengan mantab.


Setelah mendengar jawaban El, Zee tersenyum. Setidaknya, sang sahabat sudah bisa mengendalikan hati dan logikanya.


"Jika lo sudah tidak mengharapkan apa-apa dari Revi, apalagi yang lo tunggu. Lo hanya perlu ngobrol dengan Fara untuk meluruskan niat. Kalau perlu, paksa diri lo sendiri untuk hanya melihat Fara seorang. Dia istri lo sekarang, istri sah lo yang sudah menjadi tanggung jawab lo dan sah buat lo apa-apain," jelas Zee.


"Eh, maksudnya siap diapa-apain itu bagaimana?" tanya El bingung. Entah mengapa dia mendadak lemot saat berbicara dengan Zee. Mungkin, Zee sudah lebih pro dari El untuk hal seperti itu.


Eh, hal seperti apa, thor? Entahlah. Othor masih lima belas tahun. Belum ngerti yang begitu-begituan. 🤧


"Ccckkk, masih saja bertanya. Ogah gue jelasin hal itu siang-siang. Gue puasa. Lagian, jika gue ikut terpengaruh bisa pusing nanti. Mommynya Gen lagi halangan, masa iya gue harus konser solo, ogah." Zee langsung mencebikkan bibir.

__ADS_1


Belum sempat El menyahuti ucapan sang sahabat, tiba-tiba terdengar sebuah suara.


"Makanya, otak kamu jangan kesana terus, Zee. Dulu saja bilangnya butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa membiasakan diri dengan Kiara. Eh, tahu-tahunya bilang jika daddy akan punya cucu. Ccckkk, dasar nggak sabaran," ucap Daddy Ken yang tiba-tiba sudah berada di belakang mereka.


Zee mendelik ke arah sang daddy.


"Itu kan juga gara-gara daddy dan mommy, ngapain juga memaksa pergi honeymoon. Ya mana tahan akunya, Dad," gerutu Zee.


"Halah, bilang saja doyan," ledek daddy Ken.


Zee tidak mau kalah dengan daddynya.


"Ya doyanlah. Mana ada orang nggak doyan mendaki bukit dan menjelajah lembah alami. Hanya orang-orang yang tidak normal yang tidak doyan dengan hal itu," ucap Zee.


Belum sempat Ken menyahuti ucapan sang putra, tiba-tiba El sudah nyeletuk.


"Eh, aku normal kok."

__ADS_1


"Lah."


Cerita El sudah tamat ya, bahkan sudah sampai anaknya juga. Bisa baca cerita othor di 'the CEO's proposal'


__ADS_2