Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 25


__ADS_3

Menjelang petang, mommy Retta dan daddy Vanno mengantarkan Zee ke rumah Ken. Zee terlihat sudah segar dan wangi. Dia langsung berjalan cepat ke arah sang mommy untuk meminta asupan nutrisinya.


"Ami, Ji aus. Mimi cucu," rengek Zee saat memeluk kaki Gitta.


Segera Gitta langsung mengangkat Zee ke dalam gendongannya dan menghujami wajah Zee dengan ciuman. Sontak saja Zee kegelian dengan tindakan sang mommy.


"Ami, geyyi, geyyi. Ji aus, Mi." Zee masih berusaha menjauhkan wajah sang mommy dari wajahnya.


"Hehehe, maaf, Sayang. Ayo, mimi dulu." Gitta beranjak menuju kamar. Dia meninggalkan Ken yang tengah ngobrol dengan mommy Retta dan daddy Vanno.


Malam itu setelah makan malam, Ken masih membahas beberapa proyek di Jawa Timur dengan sang daddy. Mereka terlihat serius hingga lupa waktu.


Derrttt drrrttt drrrttrr.


Ponsel daddy Vanno bergetar. Dia langsung menyambar benda pipih tersebut dan melihat siapa yang meneleponnya. Namun, seketika kedua bola matanya membesar. Daddy Vanno langsung beranjak berdiri. Ken yang melihat tingkah sang daddy langsung mengerutkan kening.


"Ada apa, Dad?"


"Daddy pulang dulu. Daddy nggak mau dikunciin di luar kamar. Ken, kapan-kapan kamu pindahkan Nyedit kemari. Daddy nggak mau jika disuruh tidur nemenin nyedit lagi."


"Idiihh, ogah. Jika di rumah Daddy ada mommy, di sini juga ada Gitta. Aku nggak mau Gitta punya alasan untuk ngunciin aku di luar kamar."


"Cckkk, kamu ini. Apa kita kasih racunn aja ya si Nyedit?"


"Nggak usah aneh-aneh deh, Dad. Jika mommy tau, Daddy siap menghadapinya?"


"Enggak!"


"Lha itu tau."


Hhhh. Suara helaan napas kedua laki-laki tersebut tampak keras. Setelah itu, daddy Vanno langsung beranjak pulang.


***


Setelah membereskan pekerjaannya, Ken segera beranjak ke kamar. Dia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Ken melihat Zee dan Gitta masih tertidur di atas tempat tidurnya. Rupanya, Zee belum dipindahkan. Mungkin karena Gitta sudah mengantuk, dia ketiduran. Ken berjalan mendekat ke arah Gitta. Dan, betapa terkejutnya dia saat melihat sumber nutrisi Zee terpampang jelas dan nyata di depannya. 


Ternyata Gitta bukan hanya lupa memindahkan Zee, namun dia juga lupa mengancingkan bajunya. Ken pelan-pelan memindahkan Zee ke kasurnya yang berada di kamar sebelah (ada pintu penghubung antara kamar Ken dan kamar Zee).

__ADS_1


Setelah memastikan sang putra terlelap, Ken segera kembali ke dalam kamarnya. Dia langsung beranjak menuju tempat tidur. Senyum terbit pada bibirnya saat wajah Ken tepat berada di depan pabrik nutrisi sang putra. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ken mulai memainkan benda kenyal tersebut.


Jangan tanya apa yang dirasakan Gitta, tentu saja dia langsung terbangun. Namun, bukannya mendorong kepala Ken agar menjauh, Gitta malah menekan kepala sang suami tepat pada lembah alaminya.


"Eehmmm, Masss. Kok kamu curang, sih."


Seketika Ken melepaskan tangan Gitta dari kepalanya. Wajahnya mendongak menatap wajah Gitta. "Curang kenapa?"


"Main yang enak-enak kok nggak bangunin," Gitta mencebikkan bibirnya.


Namun, hal itu menjadi kesalahannya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ken langsung menyambar bibir tersebut.


Hap, eemmmpppphhh.


Malam itu, pertempuran demi pertempuran Ken dan Gitta lakukan beberapa kali. Hingga mereka berhasil mencapai apa yang mereka kejar bersama-sama.


***


Keesokan pagi, Ken masih bergelung di dalam selimut bersama dengan Zee. Mereka kembali tertidur saat Zee bangun dan menyusul kedua orang tuanya. 


Gitta yang sudah sejak pagi berkutat di dapur untuk membuatkan sarapan, segera menyiapkannya di atas meja makan. Meskipun ada asisten rumah tangga, Gitta lebih suka turun tangan sendiri untuk membuatkan sarapan keluarga kecilnya.


"Bi, ini tolong di bereskan ya. Aku akan membangunkan mas Ken dan juga Zee dulu." Kata Gitta sambil melepas apron yang dipakainya.


Setelahnya, Gitta segera beranjak menuju kamar tidurnya. Dia harus membangunkan kedua orang laki-laki paling berharga di hidupnya tersebut. Meskipun hari ini weekend, Gitta tetap akan mengajarkan kedisiplinan kepada sang putra.


Ceklek.


Gitta membuka pintu kamarnya. Terlihat Zee tengah tidur tengkurap di atas perut sang daddy. Jangan lupakan air liurnya yang sudah membasahi kaos daddynya. Mulut yang terbuka tersebut membuat gemas siapapun yang melihatnya.


Gitta segera berjalan menuju tempat tidurnya. Dia menepuk-nepuk punggung sang putra untuk membangungkannya.


"Zee Sayang, bangun yuk. Mandi." Kata Gitta sambil masih menepuk-nepuk punggung sang putra.


Bukannya bangun, Zee justru malah menggeliat dan berpindah posisi. Kedua tangannya malah melingkar erat pada leher sang daddy.


Melihat hal itu, Gitta hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Mau tidak mau, dia harus membangunkan sang suami agar sang putra ikut bangun.


"Mas, bangun ih. Sudah siang ini." Kata Gitta sambil menggoyang-goyangkan paha sang suami.

__ADS_1


"Hhhhmmm,"


"Jangan ham hem ham hem saja ih, Mas. Sudah siang ini. Zee kan mau di ajak mommy dan daddy lagi jalan-jalan hari ini. Ayo cepetan bangun, Mas. Anak kamu nggak mau bangun nanti."


Ken menolehkan kepala dan membuka kedua matanya perlahan-lahan. Dia mengusap-usap punggung sang putra dengan lembut sambil sesekali mencium kepala Zee yang berada di depan wajahnya.


"Boy, ayo bangun dulu. Mandi bareng Daddy." Kata Ken mencoba membangunkan sang putra.


Masih belum ada gerakan dari Zee. Ken beranjak duduk perlahan-lahan sambil memegangi tubuh sang putra hingga kini dia berhasil duduk dan memangku Zee.


"Hei Boy, ayo bangun. Nanti jika nggak bangun-bangun, jangan salahkan daddy jika mimi mommy daddy habiskan," kata Ken sambil mengusap-usap punggung Zee.


Dan benar saja. Zee langsung menjauhkan wajahnya dari tubuh sang daddy dan melepaskan pelukannya. Zee mendongakkan wajahnya sambil menatap wajah Ken dengan sengit.


"Indak oyeh ambin mimi ami. Tu punya Ji." Kata Zee sambil beranjak berdiri dan menghambur ke dalam pelukan sang mommy.


Tanpa dikomando lagi, Zee langsung membuka kancing baju Gitta dan mencari sumber nutrisinya. Hap. Dia langsung mengenyot sumber nutrisinya dengan rakus. Zee melirik ke arah sang daddy seolah pamer jika dia sudah berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.


Melihat hal itu, Ken tidak tinggal diam. Dia mengikuti apa yang dilakukan oleh Zee dan membuka sumber nutrisi sang satunya dan mengeluarkannya dari tempatnya.


Gitta yang kaget dengan apa yang dilakukan oleh Ken langsung mencubit perutnya.


"Mas?! Apa-apaan sih! Jangan aneh-aneh, deh."


Zee yang melihat tingkah sang daddy langsung melepaskan kenyotanya. Dia menampik tangan sang daddy yang sudah nangkring di sumber nutrisi miliknya.


"Angan ambin. Jauh-jauh. Ini milik Ji. Tak oyeh!" Kata Zee dengan ekspresi galaknya yang justru terlihat imut.


Ken hanya bisa mencebik sambil beranjak berdiri. Untuk menuju kamar mandi.


"Nggak tahu apa si bocil jika setiap malam aku yang selalu menyabotasenya tanpa harus repot-repot memeras isinya." Kata Ken sambil berjalan.


Gitta yang mendengarnya langsung mengerutkan keningnya karena tidak mengerti maksud perkataan Ken.


"Apa maksudnya itu?"


Ken menghentikan langkahnya saat hendak memasuki kamar mandi dan berbalik menatap wajah sang istri.


"Aku cukup mengerjai yang bawah tapi yang atas ikut mengalir. Dan begitu juga sebaliknya."

__ADS_1


\=\=\=\=


Bisa di skip ya jika tidak berkenan. 🙏


__ADS_2