
El begitu terkejut setelah mendengar perkataan Zee. Bukanya mengejar Revina, El justru memaksa Zee untuk menjelaskan semuanya. El mengatakan jika Revina pasti akan baik-baik saja. El juga mengatakan, jika Revina sedang sedih, dia pasti akan pergi kerumah neneknya.
Setelah berhasil meyakinkan Zee jika Revina baik-baik saja, El terus mendesak Zee agar menjelaskan apa maksud dari perkataannya. Dan, disinilah mereka sekarang berada. Zee dan El berada di depan rumah Zee. Sejak tadi, El memaksa ingin bertemu dengan istri Zee.
Setelah memarkirkan sepeda motornya, mereka segera berjalan menuju pintu utama rumah Zee. Zee segera membuka pintu dan mempersilahkan El untuk segera masuk.
"Dimana istri lo?" Tanya El sambil mendudukkan diri di sofa yang berada di ruang tengah rumah Zee.
Zee mengedarkan pandangan dan tidak menemukan siapa-siapa di rumah. Zee menggelengkan kepalanya sebagai jawaban pertanyaan El.
"Sepertinya belum pulang. Tadi sepertinya ikut mama ke yayasan." Jawab Zee. "Tunggu sebentar, gue ganti baju dulu." Lanjut Zee sambil beranjak menuju kamar tidurnya yang berada di lantai dua rumah mereka.
Tak berapa lama kemudian, Zee terlihat sudah turun dan berjalan menuju dapur. Dia menoleh menatap El yang tengah memainkan ponselnya.
"Mau minum apa?" Tanya Zee.
"Apa aja boleh, yang penting dingin. Siang-siang gini enak yang seger-seger."
"Oke."
Zee segera menuangkan jus jeruk yang memang selalu ada di lemari pendingin. Entah mengapa keluarga Geraldy itu selalu suka dengan jus jeruk. Setelah siap, dia segera membawa jus jeruk tersebut ke ruang tengah. Saat meletakkan gelas di atas meja, terdengar suara pintu depan terbuka. Zee dan El langsung menoleh menatap ke arah pintu. Letak ruang tengah dan ruang tamu yang hanya tersekat oleh partisi yang terbuat dari kayu memungkinkan mereka untuk mengetahui siapa orang yang baru saja masuk ke dalam rumah tersebut.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Jawab Zee dan El bersamaan.
Seketika Zee berjalan menghampiri perempuan tersebut. Ya, perempuan yang baru saja datang tersebut adalah Kiara, samg istri.
Kia yang sedang membawa barang belanjaan, segera meletakkannya dan langsung meraih tangan sang suami untuk dikecupnya.
"Dari mana?" Tanya Zee setelah Kia melepaskan tangannya.
"Dari yayasan sama mama, Mas. Setelah itu belanja ini." Jawab Kia.
__ADS_1
"Kenapa tidak mengirim pesan? Aku sudah bilang tadi akan menjemputmu."
"Ma-maaf, Mas. Ponselku tertinggal di mobil. Dan pak Karyo sudah kembali ke kantor papa." Jawab Kia merasa bersalah.
Zee menghembuskan napas beratnya. Entah mengapa hatinya kini sudah merasa lega saat sang istri sudah pulang.
"Ya sudah. Lain kali jangan sampai lupa lagi. Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu."
"I-iya, Mas. Maaf."
Setelah itu, Zee membantu membawakan barang belanjaan Kia dan hendak membawanya ke dapur. El yang masih berada di ruang tengah hanya bisa diam memperhatikan. Zee dan Kia menghentikan langkahnya dan berhenti di depan El.
"El, kenalkan ini Kiara, istri gue. Kia, ini El sahabatku." Kata Zee.
El dan Kia nampak saling berjabat tangan dan saling menyebutkan nama masing-masin. Setelah itu, Zee dan Kia kembali melangkahkan kaki ke dapur untuk meletakkan barang belanjaan. Tak berapa lama kemudian, Kia pamit untuk membersihkan diri. Sementara Zee dan El mengobrol di ruang tengah.
"Ccckkk. Dapat dari mana istri seperti Kia, Zee?"
"Yyyeee, gue nanya serius kali. Pantesan lo sama sekali nggak melirik perempuan manapun, suguhannya modelan begitu di rumah." El terkekeh geli.
"Sama aja kek lo juga." Zee mendengus kesal sambil mengerucutkan bibir.
"Sama apanya?"
"Lo juga nggak melirik perempuan manapun karena di mata lo hanya ada satu perempuan, kan?"
"Eh, maksud lo?"
"Jangan kira gue nggak tahu, El. Lo sebenarnya suka sama Revina. Gue sudah tahu dari dulu jika lo punya perasaan sama dia. Lagian, lo kan cowok. Jika suka, sampaikan langsung, jangan diam-diam seperti. Nggak gentle tau."
__ADS_1
El terkejut bukan main. Dia sama sekali tidak mengira jika sahabatnya itu mengetahui perasaannya.
"Ba-bagimana lo bisa menyimpulkan hal itu?"
"Nggak penting gue tau dari mana. Yang penting sekarang, lo yakinkan dulu hati lo. Jika lo sudah yakin, katakan yang sejujurnya. Jika masih ragu, coba pahami dulu hati lo."
El mengangguk mengiyakan. Ya, El memang menyukai Revina sejak dulu. Dia tidak mau mengungkapkan perasaannya karena dia tidak mau ada yang berubah pada hubungan mereka, terutama keluarganya.
"Ehm, i-itu, sebenarnya…," El terlihat kikuk bagaimana menjelaskannya kepada Zee.
Melihat hal itu, Zee tidak mau membuat El semakin salah tingkah. "Sudah, sudah. Nggak usah dijelaskan juga. Ingat, El, jika lo beneran suka sama Revina, sebaiknya lo ngomong langsung ke dia. Jelaskan bagaimana perasaan lo ke Revina. Masalah nanti diterima atau tidak, itu urusan belakangan. Yang penting, lo bisa mengeluarkan ganjalan hati lo."
El terlihat menghembuskan napas beratnya. Dia menoleh ke arah sang sahabat.
"Gue nggak mungkin melakukan hal itu, El. Gue nggak mau persahabatan kita rusak hanya karena masalah ini."
Zee mencebikkan bibirnya sebelum menyesap minumannya. "Kita tidak akan tau apa yang terjadi setelahnya nanti, El. Tapi yang pasti, katakan semuanya sebelum terlambat. Sebelum lo menyesal nanti. Ungkapkan semua yang lo rasakan. Nggak usah ditutup-tutupi lagi."
El menoleh ke arah Zee. Saat itu, dia melihat Kiara yang sudah turun dari lantai dua dan sedang berjalan menuju ke arah mereka. El ingin mengetahui sesuatu.
"Lalu, apa lo sendiri sudah membuka hati untuk istri lo?" tanya El penasaran.
Zee meletakkan gelas dan mengulas senyumannya. "Tentu saja sudah. Bukan hanya hati, tapi baju pun aku sudah buka di depannya," jawab Zee dengan penuh semangat sambil menepuk-nepuk dadanya.
Sontak saja jawaban Zee membuat El melongo. "Jadi, selama ini lo udah lepas perjaka?"
Klonthang.
\=\=\=\=
Suara apa itu?
Hayo lho, kasih like dan komen yang banyak. Jika tadi yang atas belum kasih like, bisa dong geser lagi buat kasih jempol dan komen🤭
__ADS_1