
Tak berapa lama kemudian, Ken dan juga Zee sudah sampai di rumah orang tua pak Iskandar. Mereka segera memasuki rumah tersebut. Terdengar canda tawa di ruang tengah rumah tersebut. Ken dengan diikuti Zee, segera beranjak menuju ruang tengah tersebut.
"Eh, kalian sudah datang?" Gitta langsung menoleh ke arah suami dan sang putra.
Kiara juga melakukan hal yang sama. Netranya langsung bertabrakan dengan netra sang suami. Namun, Kiara buru-buru menundukkan wajahnya. Dia masih merasa malu menatap wajah sang suami.
Siang itu, mereka makan siang bersama di rumah orang tua pak Iskandar. Setelahnya, baru mereka berangkat ke kota untuk menginap di hotel.
Zee yang saat itu menyetir kendaraan dengan sang daddy berada di sampingnya. Istri dan mommynya tengah ngobrol di belakang. Mobil Ken sudah dibawa kembali ke Surabaya oleh sopirnya.
"Nanti mampir ke toko baju dulu, Zee. Kita beli perlengkapan untuk istri kamu." Gitta memberikan instruksi kepada sang putra.
"Eh, ti-tidak usah, Mom." Kiara masih belajar memanggil Gitta dengan panggilan mommy seperti Zee.
"Nggak apa-apa, Sayang. Kamu kan nggak bawa baju tadi. Lagi pula, kita nggak sempat pulang ke rumah kamu, kan?"
Kiara hanya bisa pasrah. Beberapa saat kemudian, Zee segera menghentikan mobilnya di depan sebuah butik yang cukup besar. Gitta segera menarik Kiara untuk memasuki butik berlantai dua tersebut. Sementara Ken dan juga Zee, memilih menunggu para wanita dengan mengunjungi coffee shop yang berada di seberang butik tersebut.
"Dad, setelah ini, apa yang harus aku lakukan?" tanya Zee setelah menyeruput kopinya.
"Maksudnya apa itu? Apa yang harus kamu lakukan dengan Kiara di kamar begitu?" Ken menatap wajah sang putra dengan ekspresi tanpa dosa.
Zee langsung mendengus kesal dengan pertanyaan sang daddy. "Apaan sih, Dad? Maksudku, apa yang harus aku lakukan dengan pernikahan ini secara keseluruhan," ucap Zee sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Ken mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Ya, dijalani dengan apa adanya, Zee. Kamu sudah memutuskan untuk menikahi seorang gadis. Kamu harus bertanggung jawab atasnya. Pesan Daddy, jangan sekali-kali memiliki niatan untuk berpisah, mengerti?"
Zee langsung menganggukkan kepal dengan mantab. Meskipun belum ada rasa apapun kepada sang istri, namun Zee juga tidak memiliki niatan untuk berpisah.
"Iya, Dad. Aku juga tidak mempunyai niatan seperti itu."
"Bagus. Daddy hanya bisa berpesan, mulailah untuk belajar saling menerima, saling terbuka dan saling mengerti. Tidak semua hal bisa dipaksakan dalam sebuah hubungan. Cobalah bicarakan baik-baik semuanya. Keluarkan semua unek-unek yang kalian rasakan dan inginkan. Jangan sampai ada salah satu yang merasa tertekan dan tidak nyaman."
"Lakukan hal itu di awal pernikahan kalian. Sebisa mungkin, kalian saling terbuka di awal agar tidak memiliki ganjalan di kemudian hari. Ingat pepatah Jawa, 'witing ketagihan jalaran soko kulino'. Kamu biasakan saja 'mentreatment' istri kamu. Lama-lama nanti dia juga ketagihan." Ken berucap dengan santainya.
Zee yang mendengar perkataan sang daddy hanya bisa melongo. Entah mengapa nasehat daddynya itu bisa langsung berbelok jalur seperti itu.
Tak berapa lama kemudian, ponsel Ken berbunyi. Ternyata, sang mommy yang menelepon.
"Kamu di mana sih, Mas? Ini banyak banget belanjaannya. Bantuin napa."
"Ini di cafe seberang butik, Yang. Iya, iya. Kami kesana sekarang."
Setelah panggilan berakhir, Ken dan Zee segera beranjak menuju butik. Terlihat ada sekitar dua puluh lebih paper bag yang berada di depan kasir. Ken dan juga Zee yang melihat hal itu hanya bisa menghembuskan napas berat.
"Ini apa saja, Yang? Kenapa banyak sekali?" Ken masih berdiri sambil menatap belanjaan tersebut.
"Macam-macam. Kami hanya membeli barang yang sekiranya Kiara butuhkan." Gitta masih mengulas senyumannya sambil menatap sayang ke arah sang menantu. Ciieee, menantu euy.
__ADS_1
Sementara Kiara hanya bisa menundukkan kepala. Dia merasa tidak enak dengan semua yang dilakukan oleh mertuanya tersebut.
"Eh, sebanyak ini kamu masih bilang sebagian, Yang? Lalu sisanya bagaimana?"
"Nanti dilengkapi jika sudah sampai di Jakarta. Sudah, sudah. Kamu bantuin bawa, Mas. Zee, kamu juga bantuin bawa. Dibagi dua saja biar adil. Nggak usah rebutan." Gitta mengatakan hal itu dengan santainya.
"Eh, ini kami berdua yang bawa, Mom? Lalu kalian?" Zee tampak belum bisa mencerna perkataan sang mommy.
"Kami sudah capek Zee sayang. Dari tadi kami sudah muter-muter kesana kemari. Kali ini, giliran kalian yang bawa. Lagi pula, Mommy harus siapkan tenaga. Malam nanti daddy kamu pasti nggak ngebiarin Mommy istirahat. Katanya mau lomba sama kamu." Gitta terkekeh geli sambil berjalan pergi dan menarik Kiara.
Mendengar hal itu, Ken langsung bersemangat. "Ayo, Zee. Kita bawa belanjaan ini ke mobil. Setelah itu, kita siapkan stamina untuk pertandingan nanti malam."
"Eh, masa iya aku langsung 'smash-smash' an, Dad? Aku kan belum kenalan." Zee langsung mengikuti sang daddy mengangkut belanjaan Kiara.
"Gampang, nanti malam kenalan, terus langsung seruduk."
"Dikira banteng apa," Zee
"Iya, banteng tak bertanduk. Tapi bertelur. Hahaha."
\=\=\=
Mulutnya si Ken minta di cubles 😫😫
__ADS_1