
"Emang Daddy bisa ngelakuin itu?" tanya Zee sambil masih menatap wajah daddynya.
"Ya, bisa sih. Bahkan Daddy bisa tahan satu satu minggu lebih," jawab Ken dengan ekspresi sungguh-sungguh.
Zee hanya bisa mencebikkan bibir. "Iya, dan itu pasti terpaksa karena mommy sedang kedatangan tamu bulanannya."
"Nah, itu kamu tahu."
Setelah itu, Ken segera beranjak pulang. Begitu sang daddy pergi, Zee langsung membawa Gen ke tempat tidurnya. Dia hendak menurunkan Gen di atas tempat tidur, namun kaki putranya tersebut langsung ditekuk. Dia bergidik tidak mau turun di atas tempat tidur sambil masih berpegangan pada leher Zee.
"Kenapa, Sayang? Tidak mau turun?" tanya Zee bingung.
"Indak yapi. Whewhek. (Tidak rapi. Kotor)" Ucap Zee sambil bergidik saat melihat tempat tidur Zee yang masih berantakan.
Maklum saja, ring empuk tersebut baru saja digunakan untuk pertandingan gulat dimana pemainnya tidak ada yang kalah. Semuanya menang.
Zee menghela napas panjang. Setelah itu, dia berjalan menuju sofa dan menurunkan Gen di sana.
"Tunggu dulu di sini, okay? Daddy akan membereskan tempat tidurnya dulu."
"Ote."
__ADS_1
Zee meninggalkan Gen dan langsung beranjak menuju tempat tidur. Dia segera melepaskan sarung bantal dan guling, serta tak lupa juga melepaskan sprei yang sudah penuh dengan, ah sudahlah.
Beberapa saat kemudian, Kiara terlihat sudah keluar dari kamar mandi. Rambunya sudah dibungkus rapi dengan handuk. Rupanya, Kiara terpaksa mandi kembali setelah ulah sang suami yang menggodanya. Eh, tadi siapa yang menggoda siapa ya? 🤔
Gen yang melihat sang mommy langsung berdiri di atas sofa dan melompat-lompat bahagia.
"Mimi cempeng, Mi. Au mimi cempeng." Gen langsung melambai-lambaikan tangan ke arah Kiara.
Melihat sang putra tampak antusias, Kiara langsung beranjak menghampiri Gen yang tengah berdiri sambil bersandar pada sandaran sofa.
"Awas jatuh, Sayang. Jangan lompat-lompat." Kiara langsung mendekap tubuh Gen dan membawanya ke dalam pelukan.
Menuruti sang putra, Kiara langsung bergegas membuka kancing-kancing bajunya. Zee yang saat itu sedang memasang kembali sprei yang baru, menoleh ke arah istri dan putranya.
"Nih, tempat tidurnya sudah rapi. Gen mau mimi disini?" tanya Zee sambil menoleh.
"Ja," ucap Zee penuh semangat.
Kiara langsung beranjak berdiri sambil menggendong Gen. Dia membawa sang putra menaiki tempat tidur. Namun, Gen terlihat sangat tidak sabar. Dia buru-buru mengeluarkan sumber nutrisi alaminya. Bahkan, sebelum Kiara merebahkan diri, Gen sudah langsung menyerbu sumber nutrisinya tersebut.
Zee yang melihat tingkah sang pitra, langsung berjalan mendekat.
__ADS_1
"Gen, mimi nya yang bagus, dong. Masa iya naikin mommy begitu. Kasihan, Sayang."
Rupanya, Gen sudah tidak menggubris ucapan Zee. Dia masih asyik mengenyot sumber nutrisinya sambil mulai bergerak-gerak ke segala penjuru arah. Zee yang melihat hal itu, menjadi semakin khawatir.
"Yang, itu kenapa Gen jadi seperti reog begitu nyen nyen nya? Perasaan dulu dia anteng, deh. Tapi, kenapa semakin hari jadi semakin parah ngereognya?"
Kiara masih berusaha mengusap-usap punggung sang putra. Dia menoleh ke arah Zee yang terlihat khawatir jika 'boba alaminya' semakin kemana-mana karena ulah reog Gen.
"Nggak apa-apa, Mas. Nanti kalau capek juga dia diam sendiri. Lagian, nggak selalu seperti ini juga, kan? Mungkin, dia sudah terlalu haus tadi."
"Nggak bisa, Yang. Itu 'boba' kamu jadi molor jika ditarik kesana kemari nanti."
Kiara langsung menatap tajam ke arah Zee.
"Astaga, Mas! Jadi itu yang kamu khawatirkan sejak tadi?" Kiara tidak menyangka jika hal itu yang dikhawatirkan Zee.
"Ehm, i-itu…,"
•••
Hayo, itu apa Zee?
__ADS_1