
Siang itu, Zee langsung berangkat menuju tempat pertemuan setelah beristirahat. Johan juga mengikuti Zee untuk menemaninya pada acara pertemuan tersebut.
"Berapa banyak yang akan hadir saat rapat nanti, Om?" tanya Zee saat mereka dalam perjalanan menuju tempat pertemuan.
"Sekitar tiga puluh orang, Mas Zee."
"Ini yang dari Jakarta dan Jawa Barat?"
"Iya. Tapi ada beberapa yang dari Surabaya juga."
Zee mengangguk mengerti. Tak berapa lama kemudian, mereka sudah tiba di tempat acara. Sebenarnya, pertemuan kali ini adalah pertemuan rutin. Mereka melaporkan beberapa hal tentang perusahaan yang mereka bawahi.
Hari itu, Zee menggantikan papa Vanno menghadiri pertemuan tersebut. Zee mendengarkan beberapa laporan dan juga usulan dari semua orang yang hadir. Johan dengan cepat mengetik inti dari semua yang disampaikan oleh semua yang hadir saat itu.
Zee juga tampak mendengarkan, dan sesekali memberikan beberapa respon terkait laporan dan juga usulan dari semua yang hadir. Hingga ada salah seorang yang hadir saat itu, mengajukan beberapa usul.
"Silahkan, Pak. Anda perwakilan dari Surabaya, kan?" tanya Zee.
"Benar, Mas Zee. Lebih tepatnya, saya dari cabang di Kota M. Saya mewakili Pak Sukarji untuk menghadiri pertemuan ini. Beliau sedang dirawat di rumah sakit."
Zee mengertikan hal itu. Setelahnya, dia mempersilahkan laki-laki itu untuk menyampaikan usulannya. "Silahkan jika ada yang ingin disampaikan."
"Baik. Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih untuk waktu yang diberikan. Begini, Mas Zee, di cabang kami, banyak sekali perekrutan karyawan baru yang masih fresh graduate. Mereka belum mempunyai pengalaman dan cenderung tidak disiplin. Saya pribadi pernah menegur pihak HRD terkait hal itu. Namun, hal itu seperti percuma. Perekrutan seperti itu akan terus berulang hingga membuat banyak sekali polemik di sana."
"Yang jadi kekhawatiran adalah nanti para senior yang memang kompeten di bidangnya akan hengkang dari perusahaan kita dan lebih memilih bekerja di tempat lain, karena merasa tidak bisa berkembang di perusahaan kita, Mas."
__ADS_1
"Yang jadi masalah, kami tidak bisa menegur pihak HRD secara langsung karena putra Pak Sukarji lah yang bertanggung jawab di HRD, Mas Zee."
Zee tampak mencoba mencermati apa yang disampaikan. Keningnya berkerut dan terlihat sedang berpikir. Sepertinya, kantor cabang di kota M memang sudah tidak sehat, batin Zee.
"Apakah Pak Iskandar masih ditempatkan di sana?" tanya Zee.
"Iya, Mas. Beliau masih di kantor sana."
Zee mulai memikirkan sesuatu. Setelah itu, dia meminta pertemuan segera diakhiri jika tidak ada pertanyaan ataupun usulan lagi. Untuk permasalahan di kantor cabang di Jawa Timur, dia sendiri yang akan menyelidikinya.
Pertemuan tersebut akhirnya benar-benar berakhir setelah pukul tujuh malam. Zee tampak benar-benar sangat lelah. Dia bahkan lupa memeriksa ponselnya dan tidak memberi kabar kepada Kiara. Malam itu, Zee terpaksa menginap karena besok harus melakukan survei untuk lahan Prasojo.
Menjelang pukul delapan, mobil yang dikendarai Johan sudah memasuki halaman villa keluarga Geraldy. Malam itu, Johan juga akan menginap di sana.
Zee mengambil ponselnya dan berjalan untuk memasuki villa tersebut. Saat itu, dia baru sadar jika belum menghubungi sang istri. Zee mulai membuka ponselnya sambil berjalan. Belum sempat dia mencapai teras villa, langkah kaki Zee terhenti dengan kedua bola mata membesar dan mulut terbuka.
Belum sempat Zee memencet tombol berbentul telepon untuk menghubungi Kiara, panggilan dari istrinya tersebut sudah lebih dulu muncul. Zee buru-buru menggeser ikon berwarna hijau tersebut pada dering pertama.
"Hallo, Yang. Ada apa? Apa ada masalah? Kamu nggak apa-apa, kan?" Zee mendadak panik.
Bukan jawaban yang di dengar Zee, tapi justru suara isak tangis yang terdengar di sana.
"Hiks- hiks, Mas. Kamu kemana saja? Kenapa belum pulang?"
Zee buru-buru mengubah panggilan telepon menjadi panggilan video. Terlihat wajah Kiara sudah sangat sembab di seberang sana.
__ADS_1
"Maaf, Sayang. Tadi masih rapat. Dan maaf, sepertinya aku belum bisa pulang malam ini. Besok masih harus survei lahan. Maaf, ya."
Air mata Kiara semakin menganak sungai di seberang sana. Zee yang melihat hal itu menjadi semakin bersalah.
"Sayang, maafkan aku. Jangan menangis begini. Aku jadi ingin cepat pulang." Zee meraup wajahnya dengan kasar.
"Hiks, hiks, hiks, aku kangen, Mas." Tangis Kiara semakin tak terbendung. Entah mengapa dia menjadi semakin lebay seperti ini.
"Sayang, maafkan aku. Aku belum bisa pulang malam ini. Besok, pagi-pagi sekali aku janji akan segera melakukan survei lahan agar bisa segera pulang, ya."
Kiara tampak mengusap-usap hidungnya. "Janji?"
"Iya, Yang."
Kiara menjadi sedikit lebih tenang. "Mas?"
"Apa?" tanya Zee sambil berjalan memasuki kamarnya untuk membersihkan diri.
"Aku lapar. Mau disuapin." Kiara menundukkan kepala.
"Astaga, Yang. Aku di puncak, dan kamu di Jakarta, bagaimana cara suapinnya? Tanganku sepanjang apa?"
Kiara mencebikkan bibir kesal dan menatap ke arah Zee dengan sisa-sisa air matanya. "Aku nggak mau tangan kamu panjang, Mas. Aku mau yang panjang 'itunya' saja."
Seketika Zee langsung cengo setelah mendengar perkataan Kiara. "Mau dipanjangin biar sampai tenggorokan dan ubun-ubun, Yang?"
__ADS_1
\=\=\=
Opo to Zee? 😩