
Gitta langsung mendorong kepala Ken dan segera membenahi dasternya. Setelah itu, Gitta buru-buru meraup Zee ke dalam gendongan. "Apa-apaan sih, Mas. Nggak usah aneh-aneh, deh!" Gitta masih menggerutu kesal sambil menatap Ken tajam.
Dari arah samping, terdengar suara derap langkah kaki tergesa-gesa. Terlihat Dino berjalan terburu-buru menghampiri Ken dan Gitta.
"Ada apa, Pak?"
Ken menoleh ke arah Dino sambil menggelengkan kepala. "Nggak ada apa-apa, Din. Tunggulah di luar sebentar. Aku ganti baju dulu," ucap Ken sambil berbalik.
Dino segera mengangguk dan beranjak menuju teras kembali. Sementara Gitta, dia masih menenangkan sang putra yang masih menangis tersedu-sedu.
"Ami, anti angan agi mimi cucu Ji ama Tedi, hiks. Ji tak cuka, hiks. (Mommy, nanti jangan bagi mimi susu Zee sama Daddy. Zee tidak suka)"
"Iya, Sayang. Mommy minta maaf, ya. Nanti kita tidak akan bagi-bagi kepada Daddy, okay?"
Zee hanya mengangguk-anggukkan kepala. Sambil mengusap air matanya. Gitta segera membantu sang putra membersihkan air mata sambil sesekali menciumi pipi gembulnya. Setelah itu, Zee terlihat ceria kembali saat sang mommy mengajaknya menata semua barang belanjaan mereka di dalam kulkas.
Tak berapa lama kemudian, Ken terlihat sudah berganti pakaian dan turun. Dia berjalan menuju dapur untuk menghampiri istri dan putranya. Bukan Ken namanya jika tidak menjahili Zee.
Zee yang saat itu tengah berdiri di atas kursi dan menghadap kulkas, langsung dipeluknya dari belakang dan diberikan banyak kecupan pada pipi gembulnya. Sontak saja hal itu membuat Zee kesal bukan main. Dia langsung menjerit-jerit histeris.
"Kyaaaaa, Tedi angan tium-tium. Huaaaa."
__ADS_1
Gitta yang melihat hal itu langsung mendelik tajam. "Nggak usah jahilin anak kamu deh, Mas."
"Hehehe, gemes, Yang." Ken menjawab dengan santainya dan meninggalkan sebuah kecupan untuk sang istri, sebelum meninggalkan mereka di dapur.
Gitta hanya bisa mendengus kesal sambil berusaha menenangkan sang putra. Setelah itu, Ken melanjutkan obrolan dengan Dino.
***
Keesokan hari, Ken sudah di jemput oleh Dino. Mereka akan membahas beberapa solusi alternatif untuk masalah yang terjadi pada proyek di Jawa Timur. Sementara Gitta sedang menyiapkan perlengkapan Zee. Hari ini, Gitta akan mengajak Zee ke kampus sebentar sebelum ke butik.
"Ami ana? (Mommy mau kemana?)"
"Ante Ayin?"
"Iya. Zee nggak kangen sama Tante Arin?"
"Angen. Ji au beyyi ojak uh ah uh ah. (Kangen. Zee mau beli rujak pedas)"
Gitta yang sudah mengerti maksud perkataan Zee langsung mengerutkan kening. "Eh, Zee mau rujak pedas?" Gitta memastikan keinginan sang putra.
"Ja. Ante Ayin beyyi Ji. (Iya. Tante Arin membelikan Zee)"
__ADS_1
"Jangan makan rujak banyak-banyak ya, Sayang. Nanti sakit perut."
"Cikit, Mi." Zee menjawab sambil menunjukkan Jari jempol dan telunjuknya membentuk ukuran yang kecil.
Gitta hanya bisa tersenyum melihat tingkah sang putra. "Iya, sedikit boleh. Tapi nggak boleh banyak-banyak, okay?"
"Ote!"
Setelah itu, Gitta dan Zee dengan diantar oleh sopir, langsung berangkat menuju kampus. Ada yang harus Gitta kumpulkan hari itu. Tak butuh waktu lama, Gitta dan Zee sudah sampai di kampus. Gitta langsung menoleh ke arah sang putra.
"Sayang, Mommy kedalam dulu sebentar ya. Kamu di sini sebentar bareng Mamang."
Zee tampak menatap wajah sang mommy. "Ami ana? (Mommy kemana?)"
"Mommy mau bertemu seseorang sebentar. Zee tunggu dulu, ya," bujuk Gitta.
Namun, Zee langsung menggelengkan kepala tidak setuju. "Ituuut!"
\=\=\=\=
Atu titat titut… lanjutkan euy 🤭
__ADS_1