Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 110


__ADS_3

"Siapa yang kawin?" 


Tiba-tiba Zee sudah berdiri di belakang daddy dan papanya. Sontak saja kedua orang tua tersebut langsung menoleh.


"Sudah bangun?" tanya Ken.


"Sudah dari tadi, Dad." Zee menarik kursi dan duduk di samping sang papa. Dia mencomot potongan buah melon yang berada di depannya.


"Jika sudah bangun dari tadi, ngapain masih ngerem di dalam kamar?" Kali ini sang kakek yang bertanya.


"Masih ngantuk, Pa. Semalam juga malam banget pulangnya."


Daddy Vanno hanya bisa mencebikkan bibirnya. "Bilang saja masih terbayang-bayang dengan 'degan' istri kamu."


Zee langsung menolehkan kepala ke arah sang kakek. Bibirnya mengerucut sambil mendengus kesal.


"Ccckkk, Papa apaan, sih? Mana ada yang seperti itu?" ucap Zee sambil melirik ke dalam rumah. 


Ketika melihat tidak ada siapa-siapa di dalam rumah, Zee mendekatkan kursinya ke arah daddy dan papanya.


"Dad, Pa, aku ingin tanya sesuatu," bisik Zee.


Kening Ken dan daddy Vanno berkerut. Mereka saling pandang sebelum menatap kembali ke arah Zee.


"Mau tanya apa? Resep rahasia papa?" daddy Vanno bersuara.

__ADS_1


"Cckkk, sembarangan Papa ini. Bukan itu, ih." Zee memprotes perkataan sang kakek.


"Lalu, mau tanya apa?" Ken cukup penasaran.


"Ehm, itu, anu, apa perempuan kalau tidur suka melepas kacamatanya, ya?" tanya Zee sambil masih berbisik.


Ken dan daddy Vanno yang sudah paham maksud Zee pun berniat menggodanya dengan mengorek informasi.


"Memangnya kenapa kamu tanya seperti itu? Kamu tau jika istri kamu melepas kacamatanya sebelum tidur? Atau jangan-jangan, kamu membantunya untuk melepaskan kacamata itu ya, Zee?" Daddy Vanno masih menatap ke arah Zee.


"Bukan begitu, Pa. Awalnya aku sih nggak tau jika Kiara nggak pakai kacamata karena baju tidurnya kan berwarna hitam dan ada motifnya, jadi nggak kelihatan. Tapi, tadi pagi saat hendak bangun untuk ambil wudhu, aku tidak sengaja melihatnya. I-itu seperti mangkuk terbalik, Pa. Bulet let let. Masa iya bisa penuh begitu?" Zee bertanya dengan polosnya.


Sontak saja daddy Vanno dan Ken langsung tergelak. Mereka benar-benar tidak menyangka jika Zee kecil mereka sudah mulai jadi pengamat, alias pengamat mangkuk terbalik milik sang istri.


"Kenapa daddy dan papa jadi ngetawain aku?" Zee masih menggerutu kesal.


"Hahahaha, ternyata mata kamu sudah mulai jeli ya, Zee. Bisa-bisanya sampai mengetahui hal itu. Tapi memang begitu adanya. Kebanyakan, para wanita itu suka melepas kacamatanya saat tidur. Katanya, biar tidak 'slempeg', tidak engap," ucap daddy Vanno.


Belum sempat Zee menyahuti perkataan papanya tersebut, terdengar suara dari dalam. Ternyata mama Retta tengah berjalan ke arah mereka bertiga sambil membawa toples berisi pakan Ngeness.


"Kalian semua cepat mandi dulu sana. Hari ini, kita seharian banyak acara," kata mommy Retta.


"Eh, ada acara apa, Mom?" Ken membalikkan tubuhnya untuk menatap sang mommy.


"Daftarin pernikahan Zee di KUA."

__ADS_1


"Eh, harus sekarang juga ya, Ma?" Kali ini Zee cukup terkejut mendengarnya. Pasalnya, sang daddy baru tiga hari yang lalu meminta Om Dino untuk mengurus semua persyaratan pendaftaran pernikahannya, namun hari ini semuanya sudah siap. Zee benar-benar tidak menyangka jika bisa secepat itu.


"Ya kalau bisa sekarang, ngapain harus menunggu besok-besok, Zee. Mama ingin pernikahan kamu sah secara hukum juga. Agar nanti, kamu nggak bisa macam-macam lagi." Mommy Retta masih menatap Zee.


"Memangnya Zee mau ngapain sih, Ma?" Zee tidak terima. Dia memprotes perkataan sang mama.


"Kamu kan keturunan daddy dan papa kamu. Mama sudah sangat hafal dengan tingkah pendahulumu itu. Mereka tidak akan bisa bertahan untuk tidak 'macam-macam' dengan para istri. Mama hanya ingin membuat Kiara merasa tenang dan nyaman berada di keluarga ini."


Daddy Vanno dan Ken tidak terima dengan perkataan mommy Retta. Namun, ketika mereka hendak protes, Zee sudah terlebih dahulu bersuara.


"Aku kuat bertahan kok, Ma. Kami masih membutuhkan waktu untuk saling mengenal."


Daddy Vanno menoleh menatap wajah sang cucu yang terlihat serius tersebut.


"Halah, Papa yakin kamu akan segera pensiun jadi pemain bertahan. Papa berani jamin jika kamu sudah melihat bentuk asli mangkuk terbalik Kiara, kamu pasti memutuskan akan berganti posisi jadi penyerang. Ingat, penyerang itu posisinya dekat dengan gawang lawan, Zee. Mulai sekarang, belajarlah untuk melakukan tendangan, baik tendangan pojok, tendangan bebas, atau kalau perlu tendangan pinalti sekalian. Biar kipernya kelojotan megap-megap."


\=\=\=


Zee lagi fokus lihatin apa itu



Kiara lagi lihatin tingkah Zee


__ADS_1


__ADS_2