
Zee cukup terkejut saat mendengar pertanyaan laki-laki yang ada di depannya tersebut.
"Ehm, sebelumnya saya mohon maaf, Pak. Untuk posisi sekretaris, semua sudah terisi. Bahkan, Daddy punya tiga orang staf sekretaris." Zee tampak berusaha tersenyum meski sebenarnya dia tidak benar-benar suka dengan perempuan yang ada di depannya tersebut.
"Lalu, kira-kira putri saya akan menempati posisi apa?"
"Posisi yang masih kosong, staf HRD, Pak. Jadi, jika putri Anda berkenan, dia bisa menempati posisi itu."
Semua orang yang ada di depan Zee sontak terkejut. Ekspresi yang ditunjukkan mereka hampir sama.
"Staf? Hanya staf?" Kali ini Anggita yang bersuara. Ekspresinya benar-benar terlihat kesal dan tidak terima.
Hal yang sama juga dilakukan oleh sang ibu. "Apa-apaan itu? Mana mungkin putri saya hanya menempati posisi staf? Jangan seenaknya saja memutuskan," ucap Fatma, ibu dari Anggita.
Zee cukup terkejut mendengar ucapan kedua orang wanita dihadapannya tersebut. Namun, secepatnya dia segera mengubah ekspresinya menjadi biasa saja. Zee juga berusaha tetap menampilkan wajah ramah, meskipun pada kenyataan, hatinya benar-benar kesal.
__ADS_1
"Sebelumnya, kami mohon maaf. Hanya ada posisi itu yang tersisa di kantor kami. Jika berkenan, Anda bisa menempati posisi itu. Namun, jika kurang berkenan, silahkan Anda melakukan internship di tempat lain," ucap Zee.
Mendengar perkataan Zee, keempat orang tersebut saling pandang. Mereka benar-benar tidak menyangka jika hanya ada posisi itu di GC.
"Pa, aku nggak mau di posisi itu. Bisa jatuh harga diriku di depan teman-teman nanti. Aku mau posisi yang bergengsi, Pa. Setidaknya, sekretaris atau asisten pribadi." Anggita langsung merengek kepada sang ayah.
Mendengar rengekan sang putri, Pak Chandra pun menoleh ke arah Zee.
"Apa tidak ada posisi lain yang masih bisa diisi putri saya, Mas Zee?"
Zee menggelengkan kepala sambil masih mengulas senyuman. "Mohon maaf, Pak Chandra. Seperti perkataan saya tadi, hanya ada posisi itu yang masih kosong. Jika berkenan, putri Anda bisa mendudukinya. Namun, jika tidak berkenan, mohon maaf kami tidak bisa membantu."
"Jika posisi sekretaris Pak Vanno dan Pak Ken sudah terisi semua, bagaimana jika putri saya mengisi posisi sebagai sekretaris Mas Zee. Apakah sudah terisi juga?" tanya Pak Chandra penuh harap.
Mendengar pertanyaan Pak Chandra, sontak saja Zee terkejut. Namun, sebisa mungkin dia mengatur ekspresi wajahnya. Rupanya, mereka masih belum menyerah, batin Zee.
__ADS_1
"Sekretaris saya? Anda yakin mau menjadi sekretaris saya?" tanya Zee sambil tersenyum smirk.
Tampak wajah Pak Chandra berbinar. Dia langsung mengangguk-anggukkan kepala penuh semangat.
"Iya, Mas. Saya yakin putri saya bersedia. Iyakan, Sayang?" tanya pak Chandra sambil menoleh ke arah sang putri.
Anggita pun tampak berbinar bahagia. "Iya, Pa. Aku mau. Dari pada menjadi staf, lebih baik menjadi sekretaris Mas Zee. Mana cakep lagi. Hehehe," ucap Anggita sambil mengedipkan salah satu matanya ke arah Zee.
Melihat hal itu, Zee benar-benar merasa risih. Namun, dia berusaha untuk tetap ramah.
"Baiklah. Jika Anda mau, Anda bisa menjadi sekretaris saya. Tapi, sebelum Anda mulai bekerja, saya akan memberitahu pekerjaan saya," ucap Zee sambil menoleh ke arah Anggita.
Dengan penuh semangat, Anggita mengangguk-anggukkan kepala. "Tentu saja. Aku bisa mulai mempersiapkan diri untuk tugas selanjutnya, kan?" jawab Anggita dengan penuh semangat.
Zee masih mengulas senyumannya sebelum mulai menjelaskan. "Baiklah. Saya disini tidak bekerja full seperti para pekerja yang lainnya. Bisa dikatakan, saya freelance di kantor ini. Dan, tugas saya adalah pekerjaan lapangan. Saya harus melakukan survei, dan berkoordinasi dengan orang lapangan langsung, melihat sejauh mana pekerjaan sudah dikerjakan, hingga mengadakan pertemuan dengan beberapa pihak terkait. Dan, perlu juga Anda ketahui, saya tidak punya ruangan di kantor ini. Bagaimana? Masih tertarik menjadi sekretaris saya?"
__ADS_1
\=\=\=
Bagaimana jawaban Anggita kira-kira?