
Sesampainya di kantor, Zee langsung menggendong Gen turun dari mobil dengan tangan kirinya. Tangan kanannya juga sudah menenteng perlengkapan Gen.
Sementara Gen yang berada di dalam gendongan Zee, sudah asyik mengenyot botol susu favoritnya. Zee hanya menganggukkan kepala saat ada beberapa karyawan yang menyapa kedatangannya.
Gen yang melihat beberapa orang tengah menyapa mereka, langsung mengangkat sebelah tangannya sambil menggerak-gerakkannya seperti orang 'dada'. Entah mengapa Gen suka sekali menyapa orang-orang.
Zee segera membawa Gen menuju ruangan sang daddy. Beruntung sepagi ini Ken sudah ada di kantor.
"Daddy ada?" tanya Zee pada Pak Doni, sekretaris Ken.
"Ada, Mas. Bapak baru saja datang." Pak Doni menganggukkan kepala sambil mengulas senyumannya. Tak lupa juga dia menyapa Gen karena kebiasaan anak itu juga harus di sapa. Dia pasti akan sangat rewel jika merasa di abaikan.
"Ao Gen, mau main sama Om?" ucap Pak Doni.
Gen langsung menggelengkan kepala sambil melingkarkan salah satu lengannya pada leher Zee. Rupanya, hari ini Gen mau nempel dengan daddynya.
Setelah itu, Zee segera mengajak Gen memasuki ruang kerja Ken. Terlihat Ken sedang fokus pada beberapa berkas yang sudah berserakan di atas meja.
__ADS_1
"Dad," sapa Zee begitu sudah memasuki ruangan Ken.
Seketika Ken mengangkat keoalanya dan menatap ke arah pintu. Senyumnya merekah saat melihat sang cucu sudah datang.
"Eh, Gen ikut?" ucap Ken sambil berdiri dan merentangkan kedua tangannya.
Gen yang melihat hal itu, langsung mengulurkan tangannya minta di gendong. Hap. Tubuh bayi gemoy tersebut kini sudah berpindah tangan.
"Aku nitip Gen dulu, Dad. Ada hal yang harus aku selesaikan," ucap Zee sambil meletakkan sebuah tas yang berisi perlengkapan Gen.
"Iya. Aku harus memeriksa ulang proposal kemarin."
Ken tampak mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, dia langsung mengajak cucunya tersebut bermain di atas karpet begitu Zee sudah keluar dari ruangannya. Pagi itu, Ken dan Zee harus bergantian menjaga Gen.
Sementara di tempat lain, Kiara langsung menoleh saat merasakan ada yang menarik lengannya. Tatapan matanya mendadak ketakutan saat menyadari siapa orang yang sudah mencengkram lengannya tersebut.
"Yu-Yudha?" cicit Kiara. Dia benar-benar terkejut saat melihat keberadaan Yudha ada di sana.
__ADS_1
Yudha? Ya, dia adalah mantan calon suami Kiara dulu sebelum menikah dengan Zee. Yudha anak mantan kepala desa di desa Kiara dulu. Yudha juga seorang residivis. Kiara baru tahu rupanya Yudha sudah keluar dari penjara karena beberapa kasus yang menjeratnya.
"Iya. Ini aku. Kenapa? Kamu merindukanku, hhmmm?" tanya Yudha. Jangan lupakan tatapan matanya terlihat begitu bernafssu saat menatap Kiara. Cengkraman tangan Yudha juga semakin mengerat saat mendapati Kiara sudah mulai memberontak.
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan!" Kiara berusaha memberontak.
"Jangan kira aku akan melepaskanmu lagi! Sudah cukup aku kehilanganmu dulu. Kini, aku tidak akan membiarkanmu jauh dari jangkauanku," ucap Yudha dengan tatapan berkilat-kilat.
Kiara hendak berteriak. Dia berdoa semoga ada yang melihat laki-laki tersebut tengah mengintimidasinya. Namun sayang, saat itu Kiara ditarik sedikit ke arah belakang sebuah rak yang berisi aneka sabun mandi. Tidak ada orang yang melihat posisi mereka.
Yudha mencengkram rahang Kiara hingga membuat bibirnya mengerucut karena Yudha menekan kedua pipi Kiara. Tentu saja hal itu membuat Kiara semakin ketakutan. Dia khawatir jika Yudha akan bertindak semakin nekat. Kiara juga tidak bisa berteriak atau memukul Yudha karena kedua tangannya sudah dikunci oleh Yudha.
Yudha yang melihat bibir menggoda Kiara, langsung saja kalap. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Kiara dan berniat untuk menciumnya. Namun, belum sempat niat Yudha terlaksana, tiba-tiba tubuh Yudha sudah terpental ke belakang hingga menabrak rak yang ada di belakangnga.
Braakk.
Jangan lupa tinggalkan dukungan buat othor ya, terima kasih
__ADS_1