
Keesokan hari, Ken benar-benar mengantar Gitta ke rumah sakit. Dia tidak peduli dengan penolakan Gitta. Sejak semalam, Gitta membujuk Ken untuk membiarkan dia pergi dengan Khanza. Namun, Ken tetap menolaknya. Mau tidak mau, Gitta menuruti keinginan sang suami.
Dan, disinilah mereka berdua berada. Gitta dan Ken sudah berada di ruangan Dokter Arjuna. Dokter berusia dua puluh sembilan tersebut, terlihat sangat ramah.
Ken sedari tadi memperhatikan Dokter Arjuna yang melepas jahitan Gitta dan memberikan penanganan pada bekas luka tersebut. Dia tampak tidak suka saat melihat kening Gitta dipegang-pegang. Wajah Ken terlihat di tekuk sejak tadi.
Dokter Arjuna yang memang sudah mengetahui sikap posesif Ken hanya bisa mengulas senyuman. Setelah selesai, Dokter Arjuna meminta Gitta kembali ke kursinya. Dia akan memberikan beberapa resep obat untuk Gitta.
"Lukanya akan hilang kan, Dok?" tanya Gitta beberapa saat setelah konsultasi.
"Bisa, Bu. Bu Gitta tenang saja. Luka itu tidak akan membekas, kok."
Gitta mengangguk mengiyakan. Setelah itu, dia segera pamit dan mengajak Ken untuk segera pergi. Gitta menyadari jika suasana hati Ken sudah sangat buruk.
"Kenapa sih, Mas?" tanya Gitta saat sudah berada di dalam kendaraan.
"Masih tanya kenapa?" Ken masih mengerucutkan bibirnya. "Nggak nyadar apa itu tadi wajah si dokter dekat sekali dengan wajah kamu. Jika aku tidak ada, sudah pasti dokter itu akan semakin menjadi."
Puk. Gitta memukul paha sang suami dengan gemas.
"Kamu ini, Mas. Ada-ada saja. Mana ada yang seperti itu? Dia itu dokter, sudah sewajarnya dia melakukan hal itu. Kamu suka aneh-aneh saja, Mas."
Ken tidak menggubris perkataan Gitta. Dia hanya mengerucutkan bibir sambil menatap jalanan di depannya.
***
Beberapa hari berlalu, Zee tampak sudah semakin sehat. Dia sudah mulai aktif beraktivitas seperti biasanya.
Pagi itu, Zee sudah rapi setelah dimandikan dan dipakaikan baju oleh Gitta.
"Sayang, nanti ikut Daddy ke kantor, ya. Mommy harus sekolah dulu." Gitta menangkup pipi Zee dengan kedua tangan sambil sesekali menciumi pipi gembulnya.
"Ami au cuwah? (Mommy mau sekolah?)" Zee menatap wajah Gitta.
"Iya, Sayang. Nanti, Zee ikut ke kantor sama Daddy, ya. Nanti juga ada Papa di sana."
"Papa?"
"Iya. Nanti Zee juga bisa bareng Papa di sana."
"Beyyi ainan, Mi? (Beli mainan, Mi?)"
Gitta hanya bisa menghembuskan napas berat saat mendengar pertanyaan sang putra. Entah mengapa jika mendengar nama papanya Zee selalu meminta mainan. Mau tidak mau, Gitta hanya bisa mengangguk.
***
__ADS_1
Ken membawa Zee ke kantor hari itu. Dia juga membawa perlengkapan kebutuhan Zee. Ken hendak menitipkan sang putra sebentar kepada daddy Vanno, selama dia melakukan rapat.
"Zee, nanti ikut papa dulu ya. Daddy mau meeting dulu." Kata Ken sambil menoleh menatap wajah sang putra yang kini tengah digendongnya.
"Iting?" Ulang sang putra yang kini sudah melepaskan kenyotan pada botol minumnya. Dia menatap daddynya dengan wajah bingung.
"Rapat Zee, daddy mau kerja, cari uang buat beli susunya Zee." Kata Ken berharap putranya tersebut mengerti apa yang dikatakannya.
"Indak au. Au cucu Ami." Protes Zee.
"Zee kan sudah besar, sudah nggak boleh mimi cucu Mommy, gantian Daddy."
"Indak aauuu, au cucu Ami. Huaaaa aaaaa," langsung saja Zee melempar botol susunya dan menangis meraung-raung.
Saat itu, kebetulan mereka sudah sampai di depan pintu sebuah ruangan yang berada di ujung lorong. Tiba-tiba, pintu ruang tersebut terbuka dan menampilkan sosok laki-laki yang terlihat terkejut melihat anak laki-laki yang menangis meraung-raung.
"Astaga, Ken! Kamu apakan Zee bisa sampai nangis begini?!"
"Aku hanya bercanda tadi, Dad. Eh, malah Zee sudah keburu menangis histeris begini." Kata Ken.
"Apa sih yang kamu katakan sampai Zee menangis begini?" Gerutu daddy Vanno. "Ayo Zee, gendong Papa. Biarkan daddy kamu sendirian nggak ada temannya. Nanti ikut pulang ke rumah Papa, mau?" Tawar daddy Vanno setelah berhasil mengambil alih Zee dan berusaha menenangkannya.
Seketika batita tersebut menggeleng sambil memeluk leher papanya.
Mendengar apa yang dikatakan sang cucu, sontak saja daddy Vanno langsung menoleh dan menatap tajam ke arah sang putra.
"Kamu ini, Ken. Bisa tidak sehari saja nggak jahilin anak kamu. Suka sekali buat Zee nangis begini. Lagian, anak kamu juga masih belum dua tahun. Biarkan dia mendapat asupan nutrisi terbaiknya. Heran deh, kelakuan kamu ini menurun dari siapa sih," gerutu daddy Vanno.
Kira-kira sifat Ken menuruni sifat siapa ya? 🤔
Ken yang mendengar perkataan sang daddy hanya bisa mendengus kesal. Dia langsung meletakkan tas yang berisi keperluan Zee di atas meja daddy Vanno.
"Aku nitip Zee dulu, Dad. Aku ada meeting ini, sudah terlambat." Kata Ken sambil beranjak keluar.
Namun, langkah kakinya terhenti saat mendengar panggilan sang putra.
"Tedi ana?"
Ken langsung menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap Zee.
"Daddy kerja dulu, Zee. Nanti Daddy jemput. Sekarang, Zee main dulu sama Papa, ya."
"Indak oyeh ambil mimi cucu Ami."
Ken hanya bisa menghembuskan napas beratnya sambil mengangguk. Sementara daddy Vanno yang melihat hal itu hanya bisa tergelak. Ken semakin kesal dibuatnya.
__ADS_1
"Kebiasan deh, Dad. Jangan mangap gitu kalau tertawa," gerutu Ken.
"Hahaha, memang harus begini jika tertawa."
"Sekarang ganti, jangan mangap, tapi mendesis."
"Eh, mana ada yang seperti itu. Nanti saja jika sedang sama mommy kamu baru bisa. Hahahaha."
Ken menggerutu tidak jelas sambil meninggalkan ruangan daddy Vanno. Setelah Ken menghilang dari balik pintu, daddy Vanno langsung menoleh menatap wajah sang cucu.
"Zee sudah sarapan?"
"Cudah."
"Sudah mimi susu?"
"Cudah mimi Ami."
"Sudah main?"
"Beyyum. Au ain ama Papa." Zee merentangkan kedua tangannya ke arah daddy Vanno.
Melihat hal itu, seketika wajah daddy Vanno langsung berbinar bahagia. "Baiklah, ayo kita bermain." Daddy Vanno langsung meraup Zee ke dalam gendongannya.
Namun, saat daddy Vanno hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka. Terlihat Dinda, sang sekretaris memasuki ruangan tersebut dengan membawa beberapa berkas.
"Ada apa?" tanya daddy Vanno.
"Ini ada berkas dari Singapura, Pak. Siang ini, semuanya harus sudah selesai diperiksa dan dikirim."
Daddy Vanno hanya bisa menghembuskan napas berat sambil menoleh ke arah sang cucu.
"Zee, mau main dulu sama Mbak Dinda?" tawar daddy Vanno.
Balita tersebut hanya menggelengkan kepala sambil memeluk erat leher daddy Vanno. "Indak au. Ji indak au main boneta (Tidak mau. Zee tidak mau main boneka)"
"Eh, boneka?" Daddy Vanno terlihat bingung.
"Ja. Ji au ain obin sepelti aki-aki." Jawab Zee penuh semangat.
"Eh, kakek-kakek?"
\=\=\=\=\=
Piye to No, Vanno 😪
__ADS_1