Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 144


__ADS_3

Dengan kecepatan penuh, Zee menggeber kuda besinya menuju rumah sakit tempat sang mommy membawa Kiara. Sepanjang perjalanan, pikiran Zee sudah berlarian kesana kemari. Dia benar-benar khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk kepada sang istri.


Beruntung letak rumah sakit keluarga Geraldy lebih dekat dari kampus Zee dari pada butik, Zee tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai disana. Setelah memarkirkan motornya, Zee langsung berlari menuju ruangan tempat Kiara berada. Mommynya bilang, Kiara sudah dipindahkan ke ruang perawatan. 


Begitu sampai di ruang perawatan sang istri, Zee langsung membuka dan terburu-buru berjalan memasuki ruangan tersebut. Zee cukup terkejut saat melihat sang mommy tengah memeluk Kiara. Rupanya, Kiara sudah siuman. Lebih tepatnya, baru saja siuman.


Zee berjalan mendekati brankar saat sang mommy baru saja melepaskan pelukannya kepada Kiara. Mommy menoleh ke arah Zee dengan senyuman bahagianya.


"Mom, ada apa ini?" Zee tampak masih panik. Dia bergeser untuk lebih dekat kepada sang istri. Ditatapnya lekat-lekat wajah itu, dengan tangan langsung terulur menyentuh pipinya. "Sayang, ada apa? Kenapa bisa sampai pingsan begini?"


Kiara tersenyum. Meskipun wajahnya tampak lemah, namun senyuman tak luput dari bibirnya. Kiara meraih tangan Zee yang bertengger di pipinya dan mengecupnya dengan lembut sekilas. Setelah itu, Kiara membawa tangan Zee dan menyentuhkannya pada perutnya yang masih cukup rata tersebut.


Kening Zee berkerut. Otaknya masih belum bisa mencerna apa maksud tindakan sang istri. Kiara menoleh sekilas ke arah sang mertua, dan mendapatkan anggukan darinya.


Dengan wajah berbinar bahagia, Kiara hendak menyampaikan kabar bahagia kepada Zee. Namun, belum sempat Kiara bersuara, terdengar bunyi pintu terbuka dengan terburu-buru dan disusul oleh Kem yang langsung nyelonong masuk ke dalam ruang perawatan Kiara.


"Sayang, beneran aku akan punya cucu? Zee akan punya anak?" tanya Ken sambil buru-buru menghampiri Gitta.

__ADS_1


Zee yang mendengar perkataan sang daddy pun langsung kaget. 


"Apa?! A-anak?" tanya Zee masih tidak percaya. Dia menoleh ke arah Kiara, daddy, dan mommynya bergantian.


Saat menatap wajah sang istri, Kiara tersenyum sambil menganggukkan kepala. 


"I-iya, Mas. Aku hamil." Kiara menekan tangan Zee dan sedikit menggerakkannya di atas perutnya. Senyuman bahagia tak luput dari bibirnya.


Kedua bola mata Zee semakin membulat saat mendengar perkataan sang istri.


"Sa-sayang, i-ini serius? Kamu beneran hamil?" tanya Zee.


Ken dan Gitta yang melihat hal itu merasa sangat bahagia. Terutama Gitta. Dia merasa sangat bahagia anak memiliki seorang cucu dan menjadi nenek. Akhirnya, setelah hampir dua puluh tahun, akan ada tangis bayi lagi di rumahnya.


Ken menoleh ke arah sang istri yang tengah menatap putra dan menantunya tersebut. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Ken menggeser tubuhnya, dan langsung menarik pinggang Gitta hingga kini menempel pada tubuhnya.


Sontak saja tindakan tiba-tiba Ken saat itu, langsung membuat Gitta terkejut. Gitta menoleh dan menatap Ken dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


"Apaan sih, Mas. Ngagetin saja," Gitta menggerutu kesal.


"Aku juga mau seperti mereka, Yang." Ken menaik turunkan alisnya sambil memonyong-monyongkan bibirnya ke arah sang istri.


Gitta langsung mendengus kesal setelah mendengar perkataan sang suami. Belum sempat dia memprotes perkataan Ken, bibirnya langsung disambar oleh Ken.


"Eehhmmmm, eemmpphhhhh."


Mendapati serangan tiba-tiba dari Ken, Gitta langsung mendorong tubuh sang suami. Kedua matanya melotot saat menatap wajah Ken setelah pagutan bibirnya terlepas.


"Astaga, Dad. Masih saja suka iri. Sekalian buatin aku adik, deh." Zee yang mengetahui tindakan tiba-tiba daddynya tersebut.


"Cckkk, masa iya nanti Daddy momong anak dan cucu barengan? Gimana coba nanti mereka panggil Daddy?" Ken mencebikkan bibir ke arah Zee.


"Akung."


\=\=\=

__ADS_1


😱😱😱


__ADS_2