Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 169


__ADS_3

Menjelang siang, Zee dan Johan tiba di kantor cabang Surabaya. Mereka memilih makan siang dulu sebelum menemui beberapa orang. Zee sempat melihat Pak Iskandar dan mengajaknya makan siang sekalian. Mereka sekalian ngobrol beberapa hal tentang perusahaan.


Hingga makan siang mereka pun selesai. Zee dan Johan beristirahat sebentar sebelum memulai meeting dengan beberapa orang tersebut.


Sementara di Singapura, Ken dan Gitta baru saja tiba di rumah keluarganya yang berada di sana. Rencananya, mereka akan berada di Singapura selama beberapa hari disana untuk urusan pekerjaan.


Selama kurang lebih satu minggu ini, Ken memang benar-benar sangat sibuk. Bahkan, Gitta harus ngomel-ngomel hanya untuk mengingatkan jadwal makan kepada suaminya tersebut.


"Istirahat dulu, Mas. Jangan langsung ke kantor," ucap Gitta setelah keluar dari kamar mandi. Dia baru saja selesai membersihkan diri.


"Ada yang harus aku periksa, Yang," gumam Ken sambil memejamkan mata. Saat ini, dia sedang duduk di atas sofa dengan kepala menengadah ke atas sambil memejamkan mata. Dia terlihat lelah sekali.


"Pekerjaan nggak akan ada habisnya, Mas. Kamu terlalu banyak memforsir tenaga dan tidak memperhatikan tubuh kamu." Gitta masih menggerutu kesal karena sang suami terlalu fokus pada pekerjaan.


"Nggak apa-apa. Kan ada kamu yang perhatian sama aku, Yang. Itu saja sudah cukup bagiku."


Gitta mendengus kesal saat sang suami menjawab dengan jawaban absurd seperti itu.


"Terserah lah, Mas. Jangan mengeluh jika sakit perut lagi. Nggak usah minta tolong elus-elus juga," jawab Gitta sewot.


Seketika Ken menegakkan duduknya. Dia juga langsung membuka kedua matanya dan menatap sang istri yang saat ini tengah berdiri sambil mengeringkan rambutnya.

__ADS_1


"Kok ngomongnya gitu sih, Yang? Jika bukan kamu, siapa yang akan elus-elus nanti?" Ken memasang wajah memelas sambil menatap ke arah Gitta.


Gitta yang melihat ekspresi Ken jadi teringat Zee. Entah mengapa wajah kedua ayah dan anak tersebut benar-benar mirip saat merajuk dan mengerucutkan bibir seperti itu.


"Hhh, itu karena kamu yang suka ngeyel jika dibilangin, Mas. Suka aneh-aneh kalau ngomong."


"Aku nggak suka aneh-aneh, Yang. Aku kan memang ngomong kenyataannya," ucap Ken nggak mau kalah.


Gitta hendak menyahuti ucapan Ken, namun diurungkannya saat mendengar ponsel Ken berbunyi. Ken segera menerima panggilan tersebut dan langsung menjawabnya.


"Hallo, Rick. Bagaimana?"


"...."


"...."


"Baiklah, aku akan segera ke kantor."


Setelah itu, panggilan telepon terputus. Gitta yang mendengar ucapan Ken hanya bisa mendengus kesal. Bisa dipastikan sang suami akan langsung ke kantor.


"Yang, aku ke kantor dulu, ya. Aku janji nggak akan lama, kok," ucap Ken sambil menghampiri Gitta.

__ADS_1


"Lama juga nggak apa-apa. Nggak pulang ke rumah ini juga nggak apa-apa." Gitta menjawab dengan ketus.


Ken mencebikkan bibir. Dia benar-benar gemas jika melihat Gitta tengah merajuk seperti itu.


"Ciieee, ngambek, nih? Nggak malu sama cucu?" Goda Ken.


"Cckkk, cucunya juga masih otewe, belum launching."


"Hehehe, iya, ya. Sudah, aku berangkat dulu, Yang. Love you." Ken memeluk Gitta sekilas sambil mencuri beberapa kecupan pada bibir Gitta.


Karena kesal, Gitta hanya diam saja tidak menyahuti ucapan Ken. Melihat tingkah diam sang istri, Ken hanya bisa terkekeh dan mengusak-usak rambut sang istri. Setelah itu, dia berjalan keluar kamar untuk betangkat ke kantor.


Sepeninggal Ken, Gitta langsung menggerutu kesal saat sang suami tidak mengindahkan ucapannya. Hingga beberapa saat kemudian, Gitta sudah larut dalam aktivitasnya. Dia memantau pekerjaannya melalui laporan orang-orang kepercayaannya. Dia juga sempat menghubungi sang menantu untuk menanyakan kabar.


Menjelang pukul dua siang, Gitta mendapat telepon dari sekretaris Ken yang ada di Singapura.


"Hallo, Em. Ada apa?" tanya Gitta saat panggilan Emily, sekretaris Ken, terhubung.


"Nyonya, Tuan Ken pingsan. Sekarang sudah dilarikan ke rumah sakit."


Brukk.

__ADS_1


__ADS_2