
Keesokan pagi, Zee sudah berolahraga keliling komplek. Dia juga sempat mampir di rumah orang tuanya. Terlihat sang daddy tengah mengeringkan Ngenes di teras samping.
"Mommy mana, Dad?" tanya Zee sambil berjalan menghampiri sang daddy.
"Ke rumah Mama kamu."
"Ngapain ke sana pagi-pagi begini?" Zee mendudukkan diri sambil meneguk air minum yang sudah diambilnya dari dapur.
"Antar bakwan kesukaan Papa."
Zee mengangguk-anggukkan kepala. Dia masih melihat sang daddy yang sedang mengusap-usap bulu Ngenes.
"Hari ini kamu jadi ngajarin Kia nyetir mobil?" tanya Ken sambil masih mengeringkan tubuh Ngenes.
"Iya, Dad. Mumpung weekend."
Ken berdiri sambil mengangkat Ngenes. Dia berjalan mendekati Zee yang duduk di sofa teras tersebut.
"Dengar Zee, Daddy tau kamu dan Kia masih sama-sama beradaptasi. Tapi, Daddy berharap, kalian berusaha keras untuk mulai membuka hati. Terutama kamu. Daddy tau kamu juga nggak pernah dekat dengan perempuan lain selain Revina. Tapi, Daddy minta mulai saat ini, kamu jaga jarak dengan Revina."
"Kamu sudah menikah. Jaga perasaan istri kamu. Mulai sekarang, tidak ada istilah terlalu dekat dengan perempuan lain selain istri kamu. Berteman boleh, tapi sewajarnya. Mengobrol boleh, tapi sewajarnya. Ingat, jangan jadikan suatu kebiasaan berubah menjadi kedekatan, dan lama-lama menjadi pepetan dan terus berganti jadi selingkuhan."
Zee mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia setuju dengan perkataan sang daddy.
"Iya, Dad. Aku juga tidak mungkin terlalu dekat dengan Revina. Aku sudah menikah sekarang."
Zee tidak mungkin mengatakan kepada sang daddy jika Revina mempunyai perasaan terhadapnya.
"Bagus. Itu baru anak Daddy."
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara Gitta dari ruang tengah. Dia berjalan menghampiri suami dan putranya di teras samping.
"Kamu di sini, Zee?" tanya Gitta.
"Iya, Mom."
"Sama Kia?"
"Enggak. Tadi mampir habis lari-lari."
Gitta mengangguk-anggukkan kepala. "Mau sarapan di sini?"
Zee menggelengkan kepala sambil beranjak berdiri. "Enggak deh, Mom. Aku mau pulang saja. Mau nyicipin masakan Kia."
Mendengar perkataan sang putra, Ken langsung menoleh. "Cckkk, mau nyicipin masakan apa lapis lempit Kia, Zee?"
Ken menoleh ke arah sang istri. "Itu anak kamu kenapa lemes sekali sih mulutnya, Yang? Dilumasi apa itu mulut bisa lemes begitu?"
"Sama seperti kamu, Mas." Gitta menjawab sambil ngeloyor pergi ke dapur.
Sementara di rumah Zee, dia sudah selesai mandi dan sarapan. Zee menunggu Kia yang sedang bersiap-siap di balkon kamarnya. Hari itu, Zee berniat untuk mengajari sang istri nyetir mobil.
Kia yang sudah selesai bersiap pun menghentikan langkah saat melihat sang suami tengah berdiri di balkon sambil menatap jalanan yang terlihat tak jauh dari rumah mereka. Entah mengapa jantung Kiara selalu berdegup kencang saat berdekatan dengan sang suami.
Meskipun mereka sudah sekitar dua bulan menikah, namun Kiara masih merasa grogi saat berdekatan dengan sang suami di saat seperti ini. Apalagi, saat dia melihat Zee yang hanya berdiri diam seperti itu. Entah mengapa menurut Kiara, suaminya itu benar-benar menggoda. Bahkan hanya berdiam diri seperti patung seperti itu pun sudah membuat hati Kiara berdesir hebat.
Zee bukannya tidak menyadari Kiara diam-diam menatapnya. Dia melihat dari pantulan kaca dan menyadari jika sang istri sedari tadi menatapnya. Bahkan, Zee mengetahui jika Kiara sama sekali tidak bergeming menatapnya dengan posisi yang sama.
__ADS_1
Sambil masih berada di posisi yang sama dan tidak menoleh, Zee bersuara. "Sampai kapan kamu mau mengagumi suamimu?"
Sontak saja perkataan Zee membuat Kiara gelagapan. Kiara yang saat itu masih memegang handuk pun tak sengaja menjatuhkannya karena terkejut. Dia semakin gugup saat Zee menoleh dan berjalan ke arahnya.
Wajah Kiara sudah sangat merah hingga ke telinganya. Zee yang melihat hal itu benar-benar merasa sangat gemas. Ingin rasanya dia mengajak Kiara menyetir 'mobil-mobilan' dengan perseneling alami miliknya.
"Hari ini, kita tunda saja belajar nyetir mobilnya, ya. Aku mau ngajarin kamu nyetir mobil virtual dulu."
"Eh, mobil virtual? Apa itu, Mas?" Kiara tampak panik saat Zee mulai mendekat ke arahnya.
"Jika mobil asli kamu harus membuka mata untuk menjalankannya, tapi mobil ini bisa bisa kamu kendarai dengan memejamkan mata. Tapi, tenang saja. Persenelingnya asli lho."
"Benarkah? Mobil apa itu yang bisa dikendarai sambil memejamkan mata?"
Tanpa menjawab, Zee langsung menunjukkannya. Zee menarik tubuh Kiara hingga kini keduanya ambruk di atas tempat tidur. Tidak sampai situ saja, Zee sudah mulai menyusupkan tangannya pada bagian dalam baju sang istri.
"Eehhmm, Mas. A-apa inih?" Kiara hanya bisa pasrah dengan tindakan Zee.
Zee melepaskan tangannya dan langsung beranjak berdiri. Dia mulai melepaskan kaos dan celana, dan kini tinggal menyisakan celana boxerrnya. Sontak saja hal itu membuat Kiara panik. Dia sudah mulai berpikir yang tidak-tidak.
"Mas, ke-kenapa lepas baju?"
"Mau ngajarin kamu cara mengendarai mobil virtual," Jawab Zee sambil mulai menyerang sang istri.
\=\=\=
Mobil virtual, oh mobil virtual.
Suwe-suwe lak kabeh kok virtualne to Zee 🤧
__ADS_1