
Malam itu, Ken, Gitta, dan juga Zee langsung bertolak ke Surabaya. Ken mengambil penerbangan malam agar putranya bisa langsung beristirahat malam itu. Selain itu, Ken tidak terlalu terburu-buru untuk berangkat ke daerah esok hari.
"Mama kapan pulang, Mas?" tanya Gitta saat mereka sedang berada di dalam pesawat. Zee sudah terlelap di atas pangkuannya sejak tadi.
"Belum tau, Sayang. Sepertinya agak lama. Papa mau ke Jepang sekalian."
"Jepang? Ada apa, Mas?"
"Nggak ada apa-apa, sih. Hanya saja, Papa ingin melihat rumah yang akan dibelinya."
"Eh, Papa beli rumah lagi di Jepang?" Gitta cukup terkejut mendengar jawaban sang suami. Pasalnya, Gitta tau jika papa Evan sudah mempunyai rumah di sana.
"Hhmmm. Papa kan memang hobi sekali membeli rumah yang model unik begitu, Yang. Apalagi, jika view yang ditampilkan juga sangat bagus."
Gitta hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Tak berapa lama kemudian, pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat dengan selamat. Ken dan Gitta segera bergegas untuk menuju rumah papa dan mama. Ya, mereka akan menginap di rumah papa dan mama selama berada di Surabaya.
"Selamat malam Den, Non," sapa Bi Nar, sang asisten rumah tangga.
"Malam, Bi. Maaf kami mengganggu istirahat malam Bibi," Gitta menjawab sambil mengulas senyumannya. Gitta sudah berjalan memasuki rumah lebih dulu, sementara Ken sedang memarkirkan kendaraan dan membawa barang-barang mereka.
"Nggak apa-apa, Non. Ehm, ini Deden kecil sudah bobok, Non?" Wajah Bi Nar berbinar bahagia saat melihat Zee.
"Iya, Bi. Ngantuk dia."
__ADS_1
"Perlu bantuan, Non?"
"Nggak usah, Bi, terima kasih. Bibi istirahat saja. Kami juga akan langsung istirahat."
"Baik, Non. Kalau begitu Bibi istirahat dulu. Selamat malam."
"Malam, Bi."
Setelahnya, Gitta segera beranjak menuju kamar Ken. Tak berapa lama kemudian, Ken segera menyusul Gitta.
"Nggak kebangun Zee, Yang?" tanya Ken sambil meletakkan kopernya.
"Enggak, Mas. Kecapekan dia. Jika sudah seperti ini, paling nanti bangun jam dua nan minta mimi. Aku bersih-bersih dulu, Mas," ucap Gitta sambil beranjak menuju kamar mandi.
"Lho, ngapain kesini, Mas?"
"Ikutan lah. Mumpung Zee sudah tidur, aku minta doping dong, Yang. Besok kan harus pergi ke daerah. Masa kamu tega biarin aku lemes nggak bertenaga," wajah Ken yang memelas membuat Gitta benar-benar geram dan ingin mengruwesnya. Bisa-bisanya Ken bilang butuh doping. Tapi pagi saja dia sampai kewalahan kasih doping atas bawah depan belakang. Ini masih minta lagi.
"Kamu ini ap…," belum sempat Gitta memprotes perkataan Ken, bibir Gitta sudah dibungkam oleh bibir Ken.
Tangan Ken bahkan sudah merayap pada pabrik kembar Gitta. Entah dapat keahlian dari mana Ken bisa langsung menemukan kunci 'kacamata' Gitta dan langsung membuka nya hanya dengan satu sentakan. Ctak. Terlepas sudah 'kacamata' Gitta.
"Ehhmmm, Masshhh. Tuman kamu eempppphhh." Lagi-lagi Gitta tidak berhasil memprotes. Ken sudah lebih dulu melucuti pakaian yang dikenakan oleh Gitta. Setelah itu, dia mulai melucuti pakaiannya sendiri. Kini, lengkap sudah keduanya polosan bersama.
__ADS_1
"Kamu ini kenapa nggak ada puas-puasnya sih, Mas. Nggak ada capek-capeknya," Gitta masih memprotes tindakan sang suami.
"Mana ada capek untuk urusan begini, Yang. Coba tanya reader deh."
"Eh, benarkah?"
\=\=\=
Coba, reader jawabnya gimana?
Ken
Gitta
Zee
Zee : "Anti cama angkel angan demes cama Ji ya. Ji macih cuka mimi cucu lho. Ji macih tecil. Anti aja talo cudah becal demes nya, tayak Tedi.
__ADS_1
Othor : "Kalau sudah besar dan seperti Daddy kamu, bukan gemes lagi Zee. Tapi gregetan. 🤧