Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 93


__ADS_3

Siang itu juga, Zee langsung menghubungi tim pengacara GC. Zee meminta mereka segera datang dan menyiapkan semuanya. Kalau pun keempat warga tersebut tetap meminta penambahan harga, dia akan melepaskannya. Sedangkan jika mereka meminta untuk meneruskan, Zee akan menyiapkan perjanjian baru. Zee tidak ingin ada masalah seperti ini di kemudian hari.


Zee kembali ke rumah orang tua pak Iskandar siang itu. Sepertinya, dia akan menginap lagi di sana malam itu.


"Kata Bapak, ada empat warga yang 'rewel'. Kenapa tadi hanya ada tiga?" tanya Zee sambil menyantap makan siang yang sudah disiapkan oleh istri pak Iskandar.


"Oh, sebenarnya yang satu itu tidak terlalu mengurusi masalah ini, Mas. Yang terakhir ini adalah seorang gadis. Dia sudah ditinggal oleh ibunya sejak kecil. Ayahnya, menikah lagi sejak dia masuk SMP. Dia tinggal dengan ayah dan ibu tirinya."


"Namun, dua tahun yang lalu ayahnya meninggal karena penyakit diabetes. Sejak ayahnya meninggal, semua harta warisannya dikuasai oleh ibu dan kakak tirinya," ucap pak Iskandar.


Zee menolehkan kepala dengan kening berkerut. "Lalu, apa hubungannya dengan proyek kita, Pak?"


"Tanah yang akan kita beli itu sebagian punya gadis ini, Mas. Namun, sudah diambil alih oleh kakak tirinya. Kakak tirinya juga yang menjualnya kepada kita."


"Itu tanah warisan?"


"Iya, Mas."


"Kenapa dijual?"


"Ya, itu tadi, Mas. Kakak tiri gadis itu benar-benar serakah. Bahkan, adik tirinya itu sudah dijual kepada anak mantan lurah di desanya."


"Eh, dijual bagaimana, Pak? Jual beli manusia?" Zee tampak terkejut.


"Eh, bukan begitu, Mas. Maksud saya, di jual itu di dijodohkan. Jika mau adiknya dijodohkan dan dinikahi oleh anak mantan lurah itu, keluarganya akan mendapatkan bayaran."


"Eh, masih ada yang seperti itu?"


"Ada, Mas."

__ADS_1


"Lalu, sekarang dia sudah menikah?" tanya Zee penasaran.


"Belum, Mas. Calon suaminya saja masih belum keluar dari penjara."


"Hhaa? Dipenjara? Kasus apa, Pak?"


"Dia pengedar, Mas."


Zee mengangguk-anggukkan kepala. "Lalu, gadis itu sekarang dimana? Kenapa dia tidak kabur saja?"


"Saya dengar, dia tidak bisa kabur, Mas. Ada neneknya yang sedang sakit dan masih butuh perawatan. Dia tidak akan tega meninggalkan neneknya tersebut."


Zee lagi-lagi mengerutkan keningnya. "Kenapa ceritanya seperti cerita sinetron dan novel-novel sih, Pak."


Pak Iskandar hanya bisa tersenyum. "Terkadang, jalan hidup juga bisa seperti cerita sinetron dan cerita novel, Mas."


Obrolan kembali berlanjut hingga makan siang tersebut selesai. Hari itu, setelah pulang sekolah, Ilham kembali datang untuk menemani Zee. Dia cukup akrab dengan Zee. Ilham tidak merasa terlalu canggung lagi dengan Zee.


"Jika mereka terlalu membuat ruwet, sebaiknya dilepas saja Mas Zee. Mulai saja negosiasi dengan warga yang memiliki lahan di dekat sungai. Kami kira, lahan tersebut bisa sangat bagus jika dimanfaatkan," ucap salah seorang tim pengacara.


"Kalian yakin?"


"Iya, Mas. Lokasinya jauh lebih mudah dijangkau."


"Sebelah mana itu?" Zee yang memang belum mengetahui lokasi yang dimaksud, menjadi sedikit bingung.


"Lewat jalur barat, Mas. Setelah itu, ke selatan, dan belok ke timur. Lokasi itu akan tembus dengan lahan kita yang dari utara. Jika mas Zee mau, kami bisa memberikan alamat pemilik lahan tersebut."


Zee tampak mengangguk-anggukkan kepala. Dia sudah cukup mempunyai gambaran.

__ADS_1


"Baiklah, nanti malam akan coba aku lihat. Berikan alamat pemilik lahan tersebut."


"Eh, yakin malam-malam akan kesana, Mas?"


"Iya. Besok aku harus kembali ke Surabaya."


"Kenapa nggak sekalian besok saja, Mas."


"Besok aku harus berangkat pagi-pagi. Nggak akan sempat."


"Tapi, Mas Zee yakin akan berangkat sendiri?"


"Nanti aku minta Ilham, cucunya pak Iskandar menemani."


Mereka mengangguk-anggukkan kepala setuju dengan perkataan Zee. Setelah itu, obrolan kembali di lakukan. Hingga menjelang petang, para tim pengacara tersebut sudah berpamitan.


Namun, kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Setelah makan malam, Ilham justru sibuk dengan tugas dan PR sekolahnya. Zee tidak tega jika harus meminta Ilham untuk menemaninya. Sedangkan pak Iskandar juga tidak bisa mengantarkannya.


Mau tidak mau, Zee akhirnya berangkat sendiri ke rumah pemilik lahan tersebut. Zee tidak punya banyak waktu untuk menunggu timnya. Dia harus segera mencari alternatif sebisa mungkin.


Zee mengendarai mobilnya menuju rumah yang dimaksudkan oleh tim pengacaranya. Zee yang memang sudah mengetahui lokasi tersebut, memarkirkan mobilnya di jalan utama. Zee juga sudah bertanya kepada beberapa warga tentang rumah yang dicarinya.


Dia berjalan menyusuri jalan desa yang sedikit masuk. Rumah yang dicarinya agak masuk gang. Zee melangkah menyusuri jalanan makadam yang sudah mulai rusak tersebut. Dengan berbekal senter pada ponselnya, Zee juga ingin melihat akses jalan menuju rumah pemilik lahan.


Namun, baru beberapa langkah Zee berjalan, tiba-tiba kemejanya ditarik dengan keras hingga Zee jatuh terjengkang. Kemeja bagian belakangnya juga robek.


Belum sempat Zee berteriak, wajahnya sudah terkena pukulan.


\=\=\=

__ADS_1


Bagi vote buat Zee dong. Biar hilal jodohnya semakin jelas kelihatan.


__ADS_2