
Masih lanjutan tadi, ya. Jangan dibaca siang hari saat puasa.
***
Kiara mencengkram lengan Zee dengan erat. Dia juga langsung memejamkan mata begitu Zee sudah langsung bergerak cepat di bawah sana.
Heghh. Heghh. Heghh.
Zee bahkan tidak mengendurkan serangan. Ki ini, Kiara benar-benar menerima serangan dari segala penjuru. Kedua tangan dan mulut Zee tak tinggal diam. Erangan-erangan pun mulai keluar dari bibir keduanya.
"Ya-yangg, ganti formasi, ya." Zee menatap wajah Kiara yang masih memejamkan kedua matanya.
Belum sempat Kiara menjawab, Zee sudah langsung membalikkan tubuhnya. Kini, posisi Kiara sudah nangkring dengan sempurna di atas.
"Eh, ma-mass?" Kiara masih kaget karena tindakan tiba-tiba Zee.
"Gerakin, Yang. Maju, mundur, kanan, kiri, begitu." Zee mulai bergerak-gerak gelisah.
Kiara masih diam tak bergerak. Dia tahu dengan pasti apa yang disukai oleh sang suami. Dengan gerakan pelan, Kiara menunduk dan mengecup bibir suaminya tersebut sebentar, hingga membuat kedua bola mata Zee terbuka.
Cup.
"Mau yang serangan penuh, tapi janji tangannya jangan nakal," goda Kiara sambil langsung melepaskan bajun yang sejak tadi masih nyangkut pada bahunya.
__ADS_1
"Hhhmm." Zee sudah mulai merem melek saat merasakan gerakan di bawah sana.
Dan, beberapa saat kemudian, Kiara mulai menjadi tukang bangunan. Dia sudah mulai ngelas, ngebor, bahkan ngecor. Gerakannya pun tidak hanya maju, mundur, kanan, dan kiri. Namun, ada lagi gerakan yang membuat Zee kelojotan merasakan ngilu karena jepitan dan sedotan di bagian bawah sana.
Zee hanya bisa mendesis-desis sambil merem melek. Ingin rasanya dia menggapai apa saja yang ada di depannya tersebut. Apalagi, si kembar menggemaskan tampak menantangnya dengan bersorak-sorak sambil melompat-lompat kegirangan ke kanan kiri bahkan atas bawah.
Namun, tentu saja Zee tidak bisa melakukannya karena kedua tangannya dipegang Kiara dengan erat seolah menjadi tali kekang.
Gerakan Kiara terhenti saat dia sudah melepaskan sesuatu yang mendesaknya untuk keluar sejak tadi. Kiara langsung ambruk diatas tubuh Zee dengan napas memburu.
Zee membiarkan Kaira mengatur napasnya yang memburu. Hingga beberapa saat kemudian, Zee langsung membalik posisi. Kali ini, dia ingin jadi penyerang yang membidik lawannya langsung. Zee sudah merasa cukup jadi pemain bertahan.
Setelah memastikan tenaga Kiara sudah kembali pulih, Zee langsung bergerak. Kali ini, dia ingin mengebor untuk mendapatkan sumber apa yang diburunya.
"Tahan sebentar, Yang. Sudah mau sampai." Zee masih memacu kecepatan dengan tenaga maksimalnya.
Dan, benar saja. Tak berapa lama kemudian, sebuah ledakan pun berhasil mereka dapatkan bersama-sama. Keduanya ambruk dengan napas memburu. Bahkan, Zee tidak beranjak sama sekali dan membiarkan ledakan tersebut meluber kemana-mana.
Zee dan Kiara masih ngos-ngisan mengatur napas mereka. Hingga beberapa saat kemudian, terdengar sebuah gedoran pintu dari luar.
"Amiii. Uta! Mimi cempeng! Amiii."
Sontak saja Kiara dan Zee kaget dengan gedoran pintu tersebut. Kiara segera mendorong tubuh Zee agar segera beranjak. Setelah itu, keduanya buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Zee yang bergerak lebih cepat. Dia segera menyambar celana pendek dan kaos yang diambilnya sembarangan di walk in closet. Zee berjalan terburu-buru menuju pintu saat suara gedoran Gen semakin keras.
Ceklek.
Terlihat Gen sudah cemberut kesal di dalam gendongan Ken.
"Gen?" Zee langsung mengambil alih putranya tersebut dari gendongan sang daddy.
"Habis ngapain sih, Zee. Lama banget buka pintunya." Ken langsung menatap tajam ke arah sang putra.
"Biasa, Dad. Ngisi amunisi." Zee menjawab tanpa rasa bersalah.
"Cckkk. Sekali-kali coba isi amunisi satu atau dua kali dalam satu minggu. Bukan satu atau dua kali dalam satu hari. Kasihan Gen," ucap Ken.
"Emang Daddy bisa ngelakuin itu?"
"Ya…,"
\=\=\=
Ya apa Ken?
Sudah ada jatah vote, sisa kan satu buat Zee ya. Jika berkenan, kasih hadiah juga banyak-banyak. Terima kasih.
__ADS_1