
"Ka-kalian?" sebuah suara langsung menarik perhatian Zee dan juga Kiara. Mereka segera berbalik dan mendapati dua orang perempuan sedang berdiri tak jauh dari tempat mobil Zee terparkir.
Kiara yang mengenal mereka pun langsung menjauhkan tubuh sang suami agar tidak terlalu menempel kepadanya.
"Eh, Erlin. Fay," sapa Kiara saat melihat dua orang mahasiswi yang merupakan teman satu kelasnya.
"Siapa dia, Kia? Pacar kamu?" Erlin benar-benar penasaran.
Selama ini, Kiara memang tidak mengatakan jika dia sudah menikah kepada teman-temannya. Hanya saja, ada beberapa teman yang memang kebetulan mengetahui siapa Kiara karena keluarga mereka ada yang memiliki kerja sama dengan GC.
Namun, mereka yang mengetahui identitas Kiara, tidak serta merta langsung membocorkan informasi tersebut. Mereka tidak punya cukup nyali untuk melakukan hal itu. Apalagi, bodyguard yang diam-diam mengawasi Kiara, akan langsung mengurus mereka yang membicarakan Kiara sembarangan di luar kelas.
Kiara terlihat bingung harus menjawab apa kepada dua orang temannya tersebut. Dia menoleh sekilas ke arah Zee untuk meminta pertimbangan. Hingga sebuah anggukan dari Zee, cukup membuat Kiara mengerti.
"Ehm, sebenarnya, ini adalah suamiku, Er. Kami sudah menikah sekitar dua tahun yang lalu," jawab Kiara.
"Apa?!"
__ADS_1
Kedua teman Kiara tersebut cukup terkejut mendengarnya. Dia sama sekali tidak menyangka jika Kaira sudah menikah.
"Kamu beneran sudah menikah? Kok bisa?" Kali ini Faya yang bersuara.
"Ccckkk. Tentu saja bisa. Lebih baik segera menikah jika sudah merasa mampu semuanya. Dari pada pacaran banyak menambah dosa." Bukan Kiara, namun Zee yang menjawab ucapan tersebut dengan ketus.
Kiara sedikit mencubit pinggang sang suami. Dia merasa tidak enak kepada teman-temannya ketika Zee menjawab ketus seperti itu.
"Ngomongnya, Mas. Nggak usah judes begitu juga kali," bisik Kiara.
Kiara yang melihat ekspresi sang suami, hanya bisa mendesahkan napas berat. Setelah itu, dia segera menarik Zee agar kembali masuk kedalam mobil.
"Sudah. Sekarang, langsung berangkat ke kantor saja. Kita bicara lagi di rumah," ucap Kiara setelah mengecup tangan Zee dan mendorong tubuh suaminya tersebut agar memasuki mobil.
Mau tidak mau, Zee hanya bisa mengikuti ucapan Kiara. Setelah berpamitan, Zee segera menyalakan mobilnya dan berlalu dari tempat tersebut.
Setelah mobil Zee tidak terlihat lagi, Kiara segera berbalik dan menghampiri kedua orang temannya tersebut.
__ADS_1
"Maafkan sikap suamiku, ya. Maklum, dia memang agak ketus gitu ngomongnya," ucap Kiara.
"Kamu kok bisa nikah sama orang nggak romantis begitu sih, Ki? Pasti orangnya juga dingin banget. Mana sama cewek judes lagi." Erlin langsung menggerutu protes.
Namun, Kiara hanya bisa tersenyum sambil mengajak kedua orang temannya tersebut berjalan menuju kelas mereka. Kiara merasa tidak perlu menjelaskan bagaimana Zee bersikap terhadapnya jika di rumah. Memang benar Zee akan ketus dan judes kepada orang lain, tapi tidak dengan keluarga apalagi istrinya. Dan, untuk hal itu, cukup Kiara yang mengetahuinya.
Sementara itu, Zee langsung mengendarai mobilnya menuju kantor. Tak butuh waktu lama, mobil tersebut sudah terparkir dengan sempurna di tempat parkir khusus.
Zee langsung bergegas menuju ruangannya setelah memastikan mobilnya terparkir dengan sempurna. Namun, langkah kakinya terhenti saat merasakan sebuah pesan masuk pada ponsel yang berada pada saku bajunya.
Zee segera mengambil ponsel tersebut dan membuka pesan yang baru saja masuk. Lagi-lagi, kening Zee berkerut begitu membaca pesan dari sebuah nomor baru lagi.
Jadilah laki-laki yang berjiwa besar. Jangan berjiwa tahu, lembek.
•••
Masih mencoba mengusik lagi, nih. 🤔
__ADS_1