Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 168


__ADS_3

Keesokan hari, Zee sudah bersiap-siap sejak pagi-pagi sekali. Dia juga sudah dijemput oleh Johan. Bahkan, Johan sudah sarapan sambil menunggu Zee keluar kamar.


Sejak setelah subuh, Kiara bahkan tidak melepaskan pelukannya dari tubuh Zee. Dia sendiri sampai heran mengapa bisa punya keinginan menempel pada sang suami hingga seperti itu.


Setelah bersiap-siap, lagi-lagi Zee harus kembali duduk di tepi tempat tidur dengan Kiara masih menggelayuti lengannya. Mungkin, sebagian orang mengatakan jika Kiara sangat lebay dengan tingkahnya. Tapi, memang seperti itu yang dirasakannya. Dia benar-benar merasa berat saat berjauhan dengan sang suami.


Adakah yang pernah merasakan seperti apa yang dirasakan oleh Kia?


"Sayang, aku janji nggak akan lama. Jika urusannya selesai, aku pasti akan segera kembali." Zee masih membujuk sang istri. Dia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 06.12. Zee sudah harus berangkat sejak pukul 05.45 tadi.


Namun, karena drama yang sedang dialami oleh sang istri, Zee masih betah berada di dalam kamar. Apalagi, saat ini sang istri sedang mengandung. Bisa dipastikan ini adalah keinginan sang calon buah hati, pikir Zee.


"Apa tidak bisa dipindah ke Jakarta saja pertemuannya, Mas?" Kiara masih menyurukkan wajahnya pada leher Zee. Dia sangat suka mengendus-endus aroma sang suami.


"Tidak bisa, Sayang. Aku harus menemui banyak orang. Akan terlalu lama jika harus menunggu mereka persiapan dan datang ke Jakarta." Zee menjelaskan dengan sangat lembut agar Kiara tidak semakin bersedih.


"Kalau begitu, bisa tidak pertemuan dilakukan di Surabaya? Minta saja orang-orang dari kota M untuk datang ke Surabaya. Masih keburu juga, kan?" Kiara semakin berani. Tangan kirinya sudah mulai memainkan kemeja Zee dan sudah berhasil melepas satu kancing bagian atas. Bahkan kini, tangannya sudah mulai nyelonong masuk ke dalam kemeja Zee.


Tentu saja tindakan Kiara tersebut benar-benar menguji kesabaran Zee. Buru-buru Zee menggerakkan tangannya untuk meraih ponsel yang berada di sampingnya. Zee tidak menghentikan tangan Kiara, karena khawatir akan membuat Kiara sedih.

__ADS_1


Melihat tindakan Zee, Kiara menghentikan sendiri aktivitasnya. Dia menjauhkan tubuh dan menatap apa yang dilakukan oleh sang suami.


"Mau apa, Mas?" tanya Kiara dengan kening berkerut.


"Mau menghubungi Om Radit. Aku akan memintanya untuk memberitahu orang-orang di Kota M agar datang ke Surabaya siang ini. Mumpung masih pagi, jadi mereka keburu jika ke Surabaya," jawab Zee sambil mengulas senyumannya.


Mendengar jawaban sang suami, Kiara tampak bahagia. Entah mengapa wajah Kiara langsung berbinar bahagia. Dia benar-benar sangat bahagia. Zee yang melihat ekspresi sang istri pun langsung mengernyitkan kening.


"Kamu bahagia?" tanya Zee.


"Iya. Sangat bahagia," jawab Kiara sambil mengangguk-anggukkan kepala. 


"Kalau begitu, beri aku hadiah," ucap Zee sambil menunjukkan ekspresi serius.


"Eh, hadiah? Hadiah apa?"


"Peyuk, tium, tecup, emuuahhh," jawab Zee sambil menunjukkan pipi dan memonyong-monyongkan bibir.


Entah sadar dirinya tengah dikerjai sang suami atau tidak, Kiara langsung mendekat dan meraup wajah Zee. Dia memberikan banyak kecupan di seluruh wajah Zee. Bahkan, kecupan tersebut sudah merembet sampai leher.

__ADS_1


Mendapati bahaya yang akan mengancam kehidupan si 'anaconda berbisa', Zee buru-buru melepaskan belitan tangan sang istri di lehernya. Zee menangkup wajah sang istri dan mendaratkan beberapa kecupan singkat pada bibir yang sudah membuatnya candu tersebut.


"Sisanya buat nanti saja," ucap Zee sambil menjauhkan wajah dan mengulas senyuman.


Wajah Kiara tampak memerah dan mengangguk. Dia benar-benar merasa malu dengan tingkahnya sendiri. 


Setelah itu, Zee segera beranjak keluar dari kamar tidur mereka dan menghampiri Johan. Zee dan Johan yang memang akan berangkat ke Surabaya menggunakan jetpri, bisa berangkat sewaktu-waktu.


Melihat kedatangan Zee, Johan langsung berdiri. Dia sudah menunggu di ruang tengah.


"Berangkat sekarang Mas Zee?"


"Iya, Om. Bilang kepada semuanya juga kita meeting di Surabaya."


"Eh, yang dari Kota M juga?"


"Iya. Semuanya."


Johan melirik Kiara yang saat ini masih menempel pada lengan Zee pun mengerti. Setelah memastikan semuanya beres, Zee dan Johan segera berangkat.

__ADS_1


Meskipun dengan berat hati, Kiara akhirnya melepaskan keberangkatan Zee setelah sang suami berjanji akan pulang secepatnya.


__ADS_2