Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 50


__ADS_3

"Eh, balapan?"


"Ja." Zee tampak mengangguk-anggukkan kepala dengan penuh semangat. "Ji au cepelti Tedi cama Papa bayapan ci meyyah, ci icam. Yyeeeee."


"Eh, kalian balapan motor, Mas?" Gitta langsung menoleh ke arah Ken yang sedang berdiri tak jauh dibelakang tubuhnya. Gitta menatap Ken dengan tataoan tajamnya.


Sontak saja Ken langsung membulatkan kedua bola matanya. Dia gelagapan harus menjawab apa atas pertanyaan sang istri.


"Eh, enggak, Yang. Mana mungkin aku balapan dengan daddy." Ken menggelengkan kepala dan menggoyangkan kedua tangannya.


Gitta terlihat menyipitkan kedua matanya tidak percaya. Pasalnya, dia lebih mempercayai ucapan polos sang putra dari pada perkataan sang suami. 


"Yakin kalian tidak balapan, Mas?"


"Tentu saja, Yang. Mana mungkin kami balapan? Kalaupun balapan, nggak mungkin juga kami main di jalanan Jakarta yang rame banget seperti itu. Mungkin, itu Zee dengar saat kami ngobr, Yang." Ken masih mengelak.


Sebenarnya, Ken dan daddy Vanno memang pernah menjajal sirkuit dengan motor sport beneran. Tentu saja itu bukan untuk ajang balapan. Mereka hanya mencoba saat ada tawaran dari perusahaan otomotif yang bekerja sama dengan mereka.


Ken benar-benar tidak menyangka jika putranya mendengar semua obrolan mereka. Mulai sekarang, Ken harus lebih berhati-hati dengan Zee. Bisa-bisa, putranya tersebut akan membocorkan aktivitas yang dilakukannya secara sembunyi-sembunyi tersebut. Apalagi jika bukan aktivitas di dunia otomotif.


Meskipun GC mempunyai perusahaan otomotif di eropa, namun Ken dan dadsy Vanno tidak serta merta bisa memakai semua produk mereka dengan leluasa. Apalagi jika bukan karena para istri yang selalu mampu membuat mereka tak berkutik.


Gitta mencebikkan bibirnya sbil berbalik dan mulai mengganti baju Zee. "Awas saja jika nanti masih main motor lagi, Mas. Aku pastikan Mommy juga akan mengetahuinya," ucap Gitta sambil mengeringkan tubuh sang putra.

__ADS_1


"Mana mungkin kami melakukan hal itu, Yang." Ken mendekat ke arah tempat tidur. Dia sudah melihat sang putra yang sudah asik memainkan mobil remote control di tangannya. Entah sejak kapan putranya itu mendapatkan mainan.


Ken masih mengamati Gitta yang sedang mengeringkan tubuh Zee. Dia masih diam tak bergerak saat Gitta tengah memakaikan minyak telon pada perut putranya tersebut. Gitta yang menyadari jika sang suami mengamatinya, langsung menoleh.


"Ada apa?" Gitta menaikkan alisnya sambil menoleh ke arah Ken.


"Aku juga mau seperti itu, Yang." Pinta Ken. Dengan tidak tau malu Ken langsung melepas handuk yang melilit pada pinggangnya dan segera memberikannya pada Gitta. "Mau dihandukin juga seperti Zee," lanjutnya.


Sontak saja Gitta langsung mendelik tajam sambil membulatkan kedua bola matanya. Dia benar-benar tidak mempercayai apa yang dilakukan sang suami. Seketika Gitta langsung mengambil bantal dan melemparkannya pada Kj yang sudah mulai melambai-lambai tersebut.


"Mass!" Gitta benar-benar geram. "Jangan suka ngadi-ngadi, deh. Keringin sendiri sana. Nggak usah ngawur." Gitta masih bersungut-sungut kesal sambil kembali mengurusi sang putra. Beruntung Zee tidak melihat tinggah sang daddy yang terkadang melebihi tingkah Zee saat rewel.


Ken langsung mengerucutkan bibirnya saat berjalan menuju walk in closet. Dia menggerutu tidak jelas saat merasa diabaikan oleh sang istri. Gitta hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah sang suami yang selalu saja cemburu dengan sang putra.


Tak berapa lama kemudian, Ken terlihat sudah rapi. Dia memakai celana jean dan kemeja hitam yang digulung hingga siku. Ken juga sudah selesai bersiap untuk berangkat ke kantor cabang yang berada di Surabaya. Dino yang juga sudah berada di bawah, sedang menunggunya untuk sarapan.


"Om Coyus, cuka apa?" tanya Zee yang ternyata sedang duduk dipangkuan Dino sambil memainkan mobil-mobilannya.


"Ehm, apa ya? Om suka makan buah dan sayur," jawab Dino.


"Uah?"


"Iya. Zee tidak suka buah?"

__ADS_1


"Cuka. Uah becal."


"Eh, buah apa yang besar?"


"Uah meyyon."


"Buah melon?"


"Ja." Zee tampak mengangguk-anggukkan kepala dengan antusias. "Tedi tak cuka uah." Lanjut Zee.


"Eh, Daddy tidak suka buah?" Dino tampak penasaran dengan apa yang dikatakan Zee. 


"Ja. Tedi tak cuka uah. Tedi cuka mimi cucu ami."


Sontak saja Ken yang saat itu tengah berjalan mendekati Dino dan Zee langsung menghentikan langkahnya. Dia terkejut dengan perkataan sang putra. Hal yang sama juga dirasakan oleh Dino. Dia cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Zee.


"Maksudnya mimi seperti Zee juga?"


"Dinooo!"


Glek.


\=\=\=

__ADS_1


Nggak usah diperjelas juga kali, Din 🤧


Ken pastinya jadi malu tuh. Memang si Zee suka sekali membuat daddynya senam jantung.


__ADS_2