
"Ma-masss?"
Kiara mendadak panik saat tangan sang suami melingkar pada perutnya. Ditambah lagi, kini tangan tersebut sudah mulai merambat naik-naik ke puncak gunung harta, eh bukan ding, gunung sumber kehidupan yang menggemaskan.
Kiara bergerak-gerak gelisah. Zee bahkan tidak menggubris reaksi Kiara yang terlihat kegelian tersebut.
Awalnya, Zee hanya menggerakkan tangan kirinya. Namun, setelah jari jempolnya menyenggol 'kancing' alami tersebut, mendadak Zee merasakan desiran aneh pada tubuhnya. Dia bahkan mengulanginya berkali-kali.
Tindakan Zee tersebut, langsung membuat Kiara gelinjangan tak karuan. Karena gerakannya sudah semakin menjauh, Zee menggunakan kedua tangannya untuk berpegangan pada si kembar menggemaskan agar tidak terjatuh. Terjatuh? 😩
"Ma-mass? I-ini?" Kiara tampak panik dengan tindakan Zee.
"Tidak apa-apa. Mulai sekarang, kamu harus terbiasa dengan ini semua." Zee mengucapkannya sambil mendekap tubuh Kiara dengan erat. Jangan lupakan juga bagian bawahnya yang sudah mulai diselipkan pada 'bahan satenya'
Mau tidak mau, Kiara hanya bisa pasrah. Siang itu, aktivitas Zee dan Kiara hanya berkutat pada mandi memandikan. Kini, tubuh keduanya sudah benar-benar polos. Kedua tangan Zee dan Kiara juga sudah penuh dengan busa. Meskipun Kiara tampak malu-malu, namun dia berusaha untuk membalurkan cairan sabun tersebut pada tubuh Zee.
Hingga sekitar lima belas menit kemudian, Zee segera menyudahi acara mandi memandikan tersebut. Dia sudah tidak sabar untuk segera memulai acara masak-memasaknya.
Zee segera menarik handuk dan melilitkannya pada pinggangnya, meskipun, handuk tersebut tidak mampu menutupi 'tusuk sate alaminya'. Hal yang sama juga dilakukan oleh Kiara. Ketika keduanya sudah selesai, tiba-tiba Zee langsung membopong tubuh Kiara keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Hal tiba-tiba yang dilakukan oleh Zee tersebut benar-benar membuat Kiara tersentak kaget. Namun, Kiara langsung melingkarkan kedua tangannya pada leher Zee.
Zee membawa tubuh Kiara ke atas tempat tidur. Dia membaringkan tubuh sang istri di sana. Wajah Kiara benar-benar terasa panas. Bahkan, rambut basahnya langsung mengenai bantal mereka.
Zee menatap wajah sang istri lekat-lekat. Kedua pasang mata mereka bertemu. Seolah saling berbicara, tatapan mata keduanya seakan tak terlepas. Zee merangkak naik ke atas tempat tidur pelan-pelan, dan mengunci tubuh sang istri dengan tubuhnya.
"Katakan, apa kamu ingin berhenti, hhmm?" Zee berbisik pada rahang Kiara hingga telinga. Jangan lupakan kecupan-kecupan basah yang didaratkan Zee pada leher Kiara.
"Eehhhmmmm." Hanya suara gumaman yang keluar dari bibir Kiara.
"Mau lanjut?" Zee kembali menggoda Kiara. Kali ini, bibir Zee sudah mulai turun pada bahu polos Kiara.
Zee sedikit menarik sudut bibirnya. Rupanya, dia berhasil memancing keinginan sang istri. Kali ini, Zee mulai melukis pada leher hingga bahu Kiara. Lukisan alami yang hanya mampu dibuat oleh bibir, bukan oleh kuas atau pensil warna.
Beberapa saat kemudian, hanya terdengar suara Kiara. Kedua tangan Kiara mere*mas kain penutup tempat tidur tersebut dengan sangat erat. Kepalanya bahkan menggeleng ke kanan dan ke kiri untuk meluapkan apa yang dirasakannya.
Kali ini, bukan hanya Kiara yang terpancing. Zee pun sudah mulai terpancing. Dia segera melepaskan bibirnya pada kanvas alami sang istri. Zee langsung berdiri dan melepaskan penutup tubuh Kiara. Sontak saja hal itu membuat Kiara panik. Namun, dengan cepat Zee menenangkan sang istri.
"Jangan khawatir, aku akan segera menutupi tubuh ini dengan selimut alamiku. Tapi sebelum itu, aku mau mencoba sesuatu." Zee mengerling nakal ke arah sang istri.
__ADS_1
Belum sempat Kiara menjawab perkataan sang suami, Zee tiba-tiba sudah melorot turun hingga sampailah dia pada 'persimpangan jalan' tersebut. Kedua bola mata Zee langsung berbinar bahagia saat melihat sesuatu yang terpampang nyata di depannya.
Kiara benar-benar merasa sangat malu. Ingin sekali dia menutup portal 'persimpangan jalan' tersebut, namun Zee sudah bergerak dengan cepat di bawah sana. Tindakan Zee tersebut benar-benar membuat Kiara memekik tertahan. Hingga tak berapa lama kemudian, Kiara sudah kelojotan kesana kemari seperti ikan yang sedang kelojotan kekurangan air.
Tak berapa lama kemudian, giliran Zee yang sudah tidak sabar. Dia segera beranjak berdiri dan melepaskan handuk yang melilit pinggangnya. Tiuuunggg.
Kiara yang melihat hal itu langsung berusaha untuk duduk dengan menyangga tubuhnya dengan kedua tangan. Kedua bola matanya langsung membesar saat melihat sesuatu pertama kali.
Glek
Glek
Glek
Reflek tangan kanan Kiara langsung memegang lehernya. "Te-tenggorokanku?"
\=\=\=
Huaaa kenapa memangnya tenggorokannya Kia? 😩😩
__ADS_1