Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 148


__ADS_3

"Ha-hamil?" Revina cukup terkejut mendengar perkataan Zee. Namun, dia berusaha untuk mengontrol ekspresinya. Revina harus membesarkan hatinya untuk mulai melupakan Zee. 


Benar, Zee bukanlah jodohnya. Akan ada laki-laki lain yang akan menjadi jodohnya. Pasti itu, batin Revina. Hayo, ada yang tahu siapa jodoh Revina? 🤭


Zee tersenyum sambil mengangguk. "Iya. Kia sedang hamil saat ini. Usia kehamilannya masuk minggu ke lima. Kami bahkan tidak menyadari hal itu sampai kemarin dia jatuh pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit."


"Eh, pingsan, Kak?"


"Hhhmmm. Sepertinya, dia kecapekan."


"Apa kondisinya sudah baik-baik saja?"


"Iya. Kondisinya sudah lumayan membaik. Sejak kemarin, dia sudah mendapatkan cairan infus. Dan, hari ini sudah diperbolehkan pulang."


"Syukurlah. Ehm, apa boleh kapan-kapan aku mampir ke rumah Kak Zee? Sekalian mau kenalan." Revina tersenyum penuh harap.


"Boleh, kok. Boleh banget. Nanti, sekalian ajak El. Dia sudah tahu dimana rumahku."


"Lho, Kak Zee tidak tinggal di rumah Om Ken?" Revina cukup terkejut. Pasalnya, dia tidak tahu jika selama ini Zee sudah pindah.


"Aku sudah pindah, Rev. Tapi rumahku tidak jauh dari rumah Daddy, kok."


Revina mengangguk mengerti. Setelah itu, obrolan mereka kembali dilanjutkan hingga jadwal ujian Zee selanjutnya dimulai. Hati itu, Zee menyisakan ujian untuk satu mata kuliah lagi.


Sekitar satu jam kemudian, Zee sudah selesai mengerjakan ujiannya. Dia bergegas untuk langsung pulang. Zee sudah tidak sabar untuk menemui sang istri yang sudah berada di rumah.


Begitu sampai di rumah, Zee langsung buru-buru mencari Kiara. Namun, langkah kakinya terhenti saat suara mama Retta memanggilnya.


"Zee, mau kemana?" Suara mama Retta terdengar dari arah dapur.

__ADS_1


Zee menghentikan langkahnya dan berjalan menemui sang nenek.


"Mau ke kamar, Ma. Mama sejak tadi di sini?"


"Iya lah. Mama juga ikut jemput Kia di rumah sakit tadi."


"Lalu, dimana Kia sekarang, Ma?"


"Istri kamu di atas. Oh iya, Zee, sekarang istri kamu kan sedang hamil muda. Mulai sekarang, pindah kamar kamu di lantai satu. Jangan biarkan istri kamu naik turun tangga. Dan, kamu harus cari asisten rumah tangga. Jangan biarkan Kia mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri."


"Iya, Ma. Nanti aku akan minta tolong Mommy untuk mencarikan asisten rumah tangga."


Setelah mengobrol cukup lama, Zee segera beranjak menuju kamarnya. Mommynya juga sudah keluar dari sana sejak beberapa waktu yang lalu. Zee melihat Kiara yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuhnya terlihat segar. Sepertinya, Kiara baru saja selesai mandi.


"Kau baru mandi?" tanya Zee sambil berjalan mendekat ke arah Kiara.


"Iya, Mas. Sudah makan?" Kiara balik bertanya sambil mengamati wajah Zee yang kini sudah berada di depan tubuhnya.


Kiara mencebikkan bibir saat mengikuti langkah kaki sang suami. "Aku hamil, Mas, bukan sakit."


"Iya, tau. Tapi, aku hanya tidak mau kamu sampai pingsan seperti kemarin."


Kiara hanya bisa pasrah. Dia menuruti perkataan Zee untuk berbaring. Setelah memastikan sang istri duduk nyaman di atas tempat tidur, Zee langsung bergegas membersihkan diri.


Tak butuh waktu lama bagi Zee untuk membersihkan diri. Setelah berganti baju dengan kaos dan celana pendek, Zee langsung ikut bergabung dengan Kiara di atas tempat tidur. Zee merebahkan diri di samping Kiara dengan kepala berada di dekat perutnya.


Zee senang sekali uyel-uyel perut Kiara. Rasanya, hal itu akan menjadi kebiasaan baru baginya. Sesekali ciuman Zee juga mendarat pada perut Kiara yang masih rata tersebut. Meskipun geli, namun Kiara membiarkan sang suami melakukannya.


"Mulai sekarang, aku mau gini terus jika di rumah." Zee masih uyel-uyel perut Kiara. Bahkan kini, Zee sudah mengangkat baju rumahan Kiara, sehingga wajah Zee langsung menempel pada kulit perut Kiara.

__ADS_1


"Eh, mana ada yang seperti itu, Mas? Aku kan juga harus beraktivitas." Kiara berusaha menjauhkan wajah Zee, namun tidak berhasil.


"Aku tidak akan mengizinkannya. Aku nggak mau kamu pingsan lagi." Zee justru mengecupi perut Kiara hingga memutar ke samping. Bahkan, tangan kanannya sudah mulai menjalar kesana kemari.


Belum sempat Kiara memprotes perkataan dan tindakan Zee, terdengar suara ponsel milik Zee yang diletakkan di atas nakas. Sambil menggerutu kesal, Zee segera beranjak dan memeriksa panggilan tersebut. Setelah mengetahui siapa si penelepon, Zee langsung menyambungkan panggilan tersebut.


"Hallo, Dad. Ada apa?"


"Zee, kamu sudah pulang?"


"Sudah. Ini sudah di rumah."


"Kamu bisa ke kantor sekarang? Ada yang mau daddy bicarakan."


Zee mendengus kesal. "Aku sibuk, Dad. Nanti saja bicara di rumah."


"Eh, kamu sibuk apa? Bukannya sudah selesai ujian?"


"Sibuk menyapa calon anakku."


"Astaga! Kamu sudah menjenguk anakmu, Zee? Jangan sering-sering dijenguk. Nanti dia akan kaget saat lahir dan melihat bapaknya jadi punya rambut."


"Lah,"


\=\=\=


Nasehat yang sangat …. 😩


Kalau ketemu Ken, kira-kira mau diapain nih?

__ADS_1


Jangan lupa sisihkan vote buat Zee ya 🤗


__ADS_2