
"Bisakah Dokter melakukan pemeriksaan lagi? Aku merasa tidak tenang jika tidak melihat sendiri calon anakku. Ya, meskipun aku belum bisa menjenguk langsung, setidaknya aku bisa melihat melalui layar monitor kan, Dok?"
Mendengar ucapan Zee, Dokter Andara langsung menoleh. Dia hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala. Dia sudah cukup hafal dengan tingkah aneh-aneh keluarga Geraldy.
Hal berbeda justru dilakukan oleh Kiara. Dia cukup malu saat mendengar sang suami mengatakan hal seperti itu. Kiara menoleh ke arah Zee sambil mendaratkan cubitan pada paha sang suami.
"Apaan sih, Mas? Nggak usah aneh-aneh ngomongnya. Malu sama dokter, ih." Kiara mendekatkan wajahnya yang sudah memerah dan berbisik di dekat telinga Zee.
Zee langsung menoleh ke arah Kiara dengan kening berkerut. Tanpa merasa malu, Zee justru semakin menjadi.
"Memangnya kenapa sih, Yang? Aku kan ngomong apa adanya. Kata Dokter And, aku kan memang dilarang menjenguk calon anak kita sampai kandungan kamu benar-benar kuat. Karena kejadian kemarin, aku kan jadi khawatir, Yang."
"Ya nggak usah dibilangin juga, Mas. Malu tau," Kiara masih melirik ke arah dokter Andara. Dia benar-benar merasa malu.
Mengerti jika Kiara merasa malu, dokter Andara buru-buru menyela perdebatan Zee dan Kiara.
"Sudah, sudah. Nggak apa-apa Mbak Kia. Namanya juga khawatir. Wajar jika Mas Zee ingin mengetahui keadaan calon buah hati kalian. Mari, diperiksa dulu," ucap dokter Andara sambil mengulas senyuman.
Beliau segera meminta Kiara untuk berbaring agar bisa segera melakukan pemeriksaan. Zee, dengan penuh semangat langsung mengikuti langkah kaki Kiara. Dia masih memperhatikan aktivitas yang dilakukan oleh dokter Kiara saat mulai memeriksa sang istri.
Setelah beberapa saat kemudian, dokter Andara mulai menjelaskan tentang keadaan kandungan Kiara. Dengan penuh semangat, Zee mendengarkan sambil memperhatikan layar yang memperlihatkan janin yang masih cukup kecil tersebut.
Begitu selesai melakukan pemeriksaan, Zee membantu Kiara untuk kembali ke tempat duduknya. Mereka dengan patuh mendengarkan beberapa penjelasan dari dokter Andara.
Hari itu, Zee merasa cukup lega saat melihat dan mendengar sendiri penjelasan dari dokter jika Kiara dan calon buah hatinya baik-baik saja. Setelah selesai dari dokter kandungan, Zee langsung mengajak Kiara kembali ke rumah. Dia juga mewanti-wanti sang istri agar tidak melakukan aktivitas yang membahayakan bagi kandungannya.
"Langsung ke kantor, Mas?" tanya Kiara saat mereka sudah sampai rumah.
"Iya. Mau periksa laporan yang kemarin. Ehm, sepertinya beberapa hari lagi aku akan ke Jawa Timur. Ada beberapa urusan kantor di kota M."
__ADS_1
"Eh, Mas Zee mau kembali kesana?"
"Iya. Kemarin aku juga sudah menghubungi Pak Iskandar."
Wajah Kiara tampak sedih. Kalau boleh jujur, dia ingin sekali ikut. Namun, kondisinya yang hamil muda membuatnya harus menahan keinginan tersebut. Mengetahui sang istri tengah bersedih, Zee langsung menarik tubuh Kiara ke dalam pelukannya.
"Jangan sedih. Aku nggak akan lama, kok. Jika semuanya lancar, satu hari aku juga pasti sudah kembali. Atau jika belum selesai, kemungkinan dua hari aku sudah pulang." Zee mengusap-usap punggung Kiara dan mendaratkan beberapa kecupan pada pucuk kepala Kiara.
Merasa nyaman dalam pelukan sang suami, Kiara hanya bisa menganggukkan kepala sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh Zee. Entah mengapa dia sangat menyukai aroma tubuh suaminya tersebut.
Setelah melihat Kiara cukup tenang, Zee segera melepaskan pelukannya. Dia harus bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
"Bisa minta tolong kepada Bi Ani untuk menyiapkan makan siang oseng-oseng daun pepaya muda? Nanti minta tolong sopir untuk mengantar ke kantor."
"Eh, kamu mau urap, Mas?"
"Hhhmmm, sejak tadi pagi sebenarnya aku mau makan itu." Zee tersenyum nyengir sambil menggaruk belakang kepalanya.
Setelah selesai bersiap-siap, Zee langsung berangkat ke kantor. Ketika mobil Zee memasuki area kantor, terdengar ponselnya berbunyi. Zee melirik layar ponselnya dan melihat nama sang daddy di sana.
Zee tetap menjalankan mobilnya hingga menuju tempat biasa mobilnya parkir. Setelah itu, dia baru menerima panggilan telepon dari sang daddy.
"Hallo, Dad. Ada apa?"
"Kamu dimana, Zee?"
"Ini baru sampai di kantor. Memangnya ada apa, Dad? Apa ada masalah?"
"Nggak ada apa-apa. Daddy baru saja menerima telepon dari Pak Candra. Beliau ingin menitipkan anaknya internship di tempat kita. Kamu tolong temui beliau sekarang. Dia sudah menunggu di ruangan Daddy."
__ADS_1
"Eh, harus aku yang temui, Dad?"
"Iya, lah. Jika bukan kamu siapa lagi? Daddy dan Papa kan di luar negeri sekarang," jawab Ken ketus.
Zee menghembuskan napas beratnya. Dia mendengarkan instruksi yang diberikan oleh Ken. Apa saja yang harus dilakukan oleh Zee, tak luput dari instruksi sang daddy. Setelah jelas, Zee segera menyetujui permintaan sang daddy dan menutup panggilan telepon tersebut. Setelah itu, Zee segera beranjak menuju ruangan Ken.
Begitu masuk ruangan daddynya, Zee cukup terkejut saat melihat ada empat orang yang sudah menunggunya di sana. Dia langsung berjalan mendekat ke arah tamu-tamunya tersebut.
"Selamat siang, Pak Chandra. Maaf harus menunggu lama," sapa Zee sambil mengulurkan tangan.
"Tidak apa-apa, Mas Zee. Namanya juga sibuk. Hehehe."
Zee masih tersenyum sambil menoleh ke arah tiga orang tamu lainnya. Melihat arah pandangan Zee, Pak Chandra langsung memperkenalkan mereka.
"Perkenalkan ini istri saya, Mas Zee, Fatma. Ini asisten saya, Yunita. Dan ini, putri tunggal saya, Anggita."
Zee langsung mengulurkan tangan kepada tiga orang tersebut. Setelahnya, Zee meminta mereka kembali duduk. Setelah itu, mereka berbasa basi menanyakan kabar. Begitu dirasa cukup, Pak Chandra mulai menyampaikan maksud kedatangannya ke kantor GC.
"Begini, Mas Zee, seperti yang sudah saya sampaikan kepada Pak Ken, saya ingin meminta bantuan untuk mengizinkan putri saya melakukan internship di GC. Saya berharap, suatu saat dia bisa memiliki pengalaman untuk mengelola perusahaan setelah saya pensiun nanti," ucap pak Chandra.
Zee menoleh ke arah Anggie. Dia mengamati sekilas penampilan perempuan tersebut. Dari sudut pandang Zee, dia bukan tipe pekerja kantoran. Sangat terlihat jelas dari penampilannya yang glamour. Namun, Zee tidak mungkin menolak permintaan tersebut karena sang daddy sudah memberikan izin.
"Daddy sudah memberitahu saya, Pak. Dan, putri Anda dipersilahkan untuk melakukan internship di GC. Namun, untuk posisi apa yang akan ditempati, kami yang akan menentukan."
Pak Chandra tampak bahagia mendengarnya. Dia mulai berharap jika sang putri akan mendapatkan posisi yang bagus di GC.
"Tentu saja, Mas Zee. Putri saya pasti akan menyetujuinya. Kira-kira, dia akan ditempatkan di bagian apa? Apa sekretaris?"
"Ehm,"
__ADS_1
\=\=\=
Mohon maaf, masih slow up ya. Othor ngebut edit cerita sebelah 🙏