
Setelah mendengarkan penjelasan Ken, Kiara menjadi lebih tenang. Dia tidak sekalut tadi dan bisa memahami penjelasan tersebut.
"Jadi, kamu sudah mengerti kan, Sayang?" tanya Gitta sambil mengusap bahu menantunya tersebut.
Kiara menganggukkan kepala sambil menoleh ke arah Gitta.
"Iya, Mom. Aku sudah mengerti, kok. Memang benar apa yang disampaikan Daddy. Sebaiknya, kita mengikuti apa yang diinginkan oleh mereka sambil mempersiapkan semua buktinya. Lagi pula, kali ini kan hanya pemeriksaan, bukan penangkapan Mas Zee." Kiara menoleh ke arah Zee.
Melihat hal itu, Zee langsung mendekat dan mendaratkan sebuah kecupan singkat pada bibir sang istri. Mendapati tindakan tiba-tiba dari Zee, sontak saja Kiara terkejut dan merasa malu. Apalagi, saat itu kedua mertuanya masih berada di depan mereka.
"Apaan sih, Mas? Jangan mulai, deh." Kiara mencubit paha Zee dengan gemas.
"Maaf, Yang. Aku gemas sekali denganmu. Bisa-bisanya kamu yang sudah punya satu anak, menggemaskan begini. Rasanya pengen gigit," ucap Zee sambil hendak mendekat ke arah Kiara.
Ken dan Gitta yang mendengar ucapan sang putra hanya bisa mendengus kesal. Gitta buru-buru berpindah tempat duduk di samping Ken.
__ADS_1
Ken yang tak mau kalah dengan putranya, langsung duduk menempel pada bahu sang istri. Tentu saja hal itu membuat Zee kesal.
"Cckkk. Daddy ngapain nempel-nempel Mommy seperti itu? Kasihan Gen jika kegencet nanti, Dad." Zee langsung protes saat melihat tingkah orang tuanya.
"Nggak bakal kegencet. Kamu tenang saja Zee. Daddy sudah sangat berpengalaman ini."
Zee hanya bisa diam saat melihat sang daddy masih menempel kepada mommynya. Setelahnya, keluarga Ken kembali beraktivitas seperti semula sambil menunggu kedatangan para anggota polisi yang berniat untuk memberikan surat panggilan kepada Zee.
Dan, benar saja. Malam itu setelah makan malam, beberapa orang dari pihak kepolisian mendatangi kediaman Ken. Mereka membawa surat panggilan untuk Zee. Tentu saja Zee akan bersikap kooperatif.
Kiara yang melihat kedatangan para anggota kepolisian, juga tidak terlalu panik. Dia percaya jika mertuanya sudah menyiapkan yang terbaik untuk suaminya tersebut. Lagi pula, Kiara sudah mulai tahu siapa keluarga Geraldy sebenarnya.
Malam itu, pemeriksaan yang dilakukan oleh Zee ternyata tidak memakan waktu lama. Hanya sekitar dua jam, pemeriksaan Zee sudah selesai. Setelah melengkapi beberapa berkas, Ken dan Zee pun diperbolehkan untuk pulang.
Namun sebelum pulang, Ken sempat berbicara dengan Nico, pengacara keluarga Geraldy, untuk mempersiapkan semuanya dengan baik.
__ADS_1
"Anda tenang saja, Pak Ken. Saya sudah mendapat informasi dari Pak Juan. Sepertinya, besok pagi kita sudah bisa mulai bergerak," ucap Nico.
Ken menggelengkan kepala. Dia tampak tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Nico.
"Jangan terburu-buru, Nic. Aku ingin semuanya berjalan dengan baik. Dan, aku juga mau semua yang berhubungan dengan keluarga tiri Kiara benar-benar menyesal telah berani mengusiknya."
"Aku akan mengirimkan beberapa data kepadamu. Besok pagi, kamu hubungi Pak Iskandar dari Surabaya. Beliau sudah mengetahui apa yang harus dilakukan. Untuk selanjutnya, kamu bisa bekerja sama dengan pengacara GC di Jawa Timur."
Kening Nico berkerut saat mendengar penjelasan Ken.
"Maksud Anda, apa kita akan membuka kasus penipuan tentang jual beli lahan Mbak Kia di Jawa Timur, Pak?"
"Benar sekali."
\=\=\=
__ADS_1
Mohon maaf, up gantian ya.
Yang penting bisa up semua. Bantu dukung cerita ini dengan klik like, komen dan vote sebanyak-banyaknya. Mohon bantu promosi juga, ya. Terima kasih.