Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 230


__ADS_3

Hari itu, Ken yang baru saja datang di kantor, langsung berjalan menuju ruangannya. Dia sudah mendapati beberapa laporan dari sekretarisnya jika ada tamu yang sudah menunggu.


Karena tahu siapa yang menunggunya, Ken segera bergegas memasuki ruangannya.


Ceklek.


Begitu pintu ruangan terbuka, sang tamu langsung menoleh ke arah Ken yang saat itu sudah berjalan memasuki ruangan kerjanya.


"Sudah lama?" tanya Ken sambil meletakkan ponsel di atas meja kerjanya. Setelah itu, Ken segera berjalan menghampiri sang tamu yang sudah menunggu di sofa ruangan tersebut.


"Belum, Pak."


"Bagaimana perkembangan laporan itu? Ingat, Juan. Aku tidak mau ada kesalahan apapun. Aku mau Ferdi langsung diseret ke dalam penjara. Jika dia dibiarkan di luar, bisa-bisa dia akan mengusik putraku lagi," ucap Ken.


"Tenang saja, Pak. Semua proses sudah berjalan dengan baik. Bahkan saat ini, Ferdi juga sudah berhasil diringkus," jelas Juan. Ya, laki-laki yang sudah menunggu Ken sejak tadi adalah Juan.


"Bagus. Segera bereskan semuanya. Jangan sampai ada yang tertinggal."

__ADS_1


"Baik, Pak." Juan segera menganggukkan kepala. Setelah itu, dia menyerahkan tab yang berisi beberapa video pengakuan Ferdi. Juan juga langsung menjelaskan tentang tuntutan yang dilayangkan kepada kakak tiri Kiara tersebut.


Ken yang melihat hal itu merasa cukup puas. Dia hanya bisa berharap semoga masalah itu segera selesai, dan Ferdi tidak akan mengusik kehidupan Zee dan Kiara kembali. Apalagi, saat ini sudah ada Gen di antara mereka.


"Lalu, untuk laporan Wawan bagaimana? Sudah beres?" tanya Ken kembali.


"Sudah, Pak. Hanya tinggal laporan akhir dan penandatangan beberapa berkas. Dan untuk itu, Mas Zee sendiri yang harus datang ke kantor polisi." Juan menjelaskan.


"Baiklah. Kamu hubungi saja Zee dan beritahu dia untuk segera ke kantor polisi. Aku tidak mau masalah ini berlarut-larut."


"Baik, Pak."


Dia mengontrol data-data perusahaan dari balik layar. Dia juga yang akan menangani jika jika ada penyusup yang berusaha untuk mencari informasi tentang GC. Dan, tentu saja Juan tidak bekerja sendiri. Dia bekerja sama dengan team IT kantor.


Siang itu juga, Zee langsung pergi ke kantor polisi sepulang dari kampus. Seperti sang daddy, Zee juga ingin semua permasalahan itu yang dialaminya segera selesai. 


Tak butuh waktu lama, Zee sudah menyelesaikan urusannya dan keluar dari kantor polisi kurang dari empat puluh menit kemudian setelah kedatangannya. Setelah itu, Zee langsung bergegas pulang.

__ADS_1


Zee langsung memarkirkan motornya begitu sampai di rumah. Saat berjalan memasuki rumah, sayup-sayup Zee mendengar suara kakek dan neneknya tengah berdebat. Zee hanya bisa mendesahkan napas berat saat menyadari tetua Geraldy berada di rumah.


"Kamu ini makin tua makin jadi, Mas. Ngalah sedikit lah sama cicit. Nggak ingat umur apa sudah jadi buyut masih saja nggak mau kalah." Suara mama Retta terdengar dengan jelas di telinga Zee.


"Kamu selalu bilang aku suruh ngalah, Yang. Nggak ingat apa aku sudah ngalahin sejak zaman Ken, Khanza, hingga Zee. Dan sekarang, aku juga harus ngalah sama Gen?" Papa Vanno nggak terima.


"Astaga, ni buyut masih saja posesif perkara squishy!" Mama Retta langsung menggeram kesal.


"Jangan panggil buyut, Yang. Aku nggak suka." Papa Vanno terdengar merajuk.


"Ccckkk. Lalu harus panggil apa? Aki?"


"Aki mobil gitu maksudnya, Yang?"


\=\=\=


Embuuhh No, Vanno.

__ADS_1


__ADS_2