Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 99


__ADS_3

Keesokan pagi, Zee buru-buru hendak ke rumah Kiara untuk mengambil ponselnya. Bahkan, sebelum sarapan dia sudah bersiap untuk berangkat.


Seperti kemarin, Pak Iskandar datang pagi-pagi buta untuk menjemput sang cucu. Namun, dia bertemu dengan Zee di halaman rumah yang terlihat buru-buru.


"Eh, jadi balik ke Surabaya, Mas? Kenapa pagi sekali? Belum sarapan lho." Pak Iskandar menghampiri Zee yang hendak menuju mobil.


"Saya ambil ponsel dulu, Pak. Tertinggal di rumah warga semalam."


"Oh, begitu. Pantas saja semalam Pak Ken menghubungi saya."


Zee menghentikan langkah untuk menuju mobil. "Daddy menghubungi Bapak?"


"Iya. Katanya tidak bisa menghubungi Mas Zee. Sepertinya, Bapak dan Ibu akan menyusul kemari."


"Eh, Daddy akan kesini?"


"Sepertinya begitu, Mas. Semalam bilang mau menyusul Mas Zee karena tidak bisa dihubungi."


Zee hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Dia yakin jika orang tuanya pasti akan menyusulnya. Zee tahu sang mommy pasti khawatir sekali.


"Boleh aku pinjam ponselnya, Pak?"


"Oh, boleh." Pak Iskandar merogoh saku celananya dan menyerahkan ponselnya kepada Zee. "Silahkan, Mas."


Setelah itu, Zee segera menghubungi sang daddy.


"Hallo, Dad."


"Zee? Kamu kemana saja?" Suara sang daddy terdengar lega.


"Maaf, ponselku ketinggalan di rumah warga, Dad."


"Kamu ini buat mommy kamu khawatir saja. Tau nggak, Daddy jadi nggak bisa ngapa-ngapain."


Ponsel Ken diambil alih oleh Gitta.


"Kamu kemana saja, Sayang? Kamu benar-benar membuat Mommy khawatir." Suara Gitta terdengar bergetar di seberang sana. Sudah dipastikan, mommynya Zee tersebut sedang berusaha menahan tangis.


"Maaf, Mom. Ponselku ketinggalan di rumah warga semalam. Aku baru ingat saat hendak tidur. Tidak enak membangunkan warga malam-malam." Zee berusaha menjelaskan agar sang mommy bisa sedikit lebih tenang.

__ADS_1


"Baiklah. Lain kali, jangan diulangi. Kami sangat khawatir sekali, Sayang."


"Iya. Maaf, Mom."


"Kami sedang menuju ke tempatmu. Ini sudah separuh perjalanan lebih. Tunggu kami."


"Eh, ngapain Mommy dan Daddy kemari?"


Belum sempat Gitta menjawab pertanyaan Zee, Ken terdengar mengambil alih ponsel tersebut.


"Kami mau liburan susulan. Semalam kamu menggagalkan liburan Daddy."


"Astaga, Dad. Masih saja ingat yang gagal."


"Tanggung Zee. 'Nyereti gulu ngisor'." Ken segera menutup panggilan telepon tersebut sebelum Zee sempat menjawab perkataannya.


Zee hanya bisa mendesahkan napas ke udara karena tingkah absurd sang daddy. Dia segera mengembalikan ponsel pak Iskandar dan segera beranjak menuju rumah Kiara untuk mengambil ponsel.


Pagi itu, udara masih dingin. Cahaya matahari pun belum mulai menampakkan diri. Jam di dashboard mobil Zee juga masih menunjukkan pukul 05.46 pagi. Zee bergegas memacu mobilnya menuju rumah Kiara.


Karena masih sepi, sekitar dua puluh menit kemudian, Zee sudah sampai. Dia segera memarkirkan mobilnya di tempat semalam. Setelah itu, Zee segera berjalan menuju rumah Kiara. Dia menyusuri jalan menurun yang dilewatinya semalam.


Ketika pagi, tampak jelas hanya ada lima rumah di sana. Namun, yang paling ujung terlihat tidak ditempati. Zee bergegas menuju rumah Kiara.


Namun, saat hendak mencoba membuka pintu, pintu tersebut terkunci dari dalam. Zee mendengar teriakan minta tolong dari dalam. Karena panik, Zee langsung menendang pintu yang terbuat dari triplek tersebut hingga jebol. Dengan cepat dia membuka grendel pintu dan memasuki rumah Kiara.


Kedua bola mata Zee langsung membulat dengan sempurna saat melihat Kiara sedang berusaha dilecehkan oleh seorang laki-laki. Baju bagian atasnya pun sudah compang-camping tidak berbentuk.


Melihat hal itu, Zee benar-benar geram. Dia langsung menendang laki-laki itu dan memukulnya hingga jatuh tersungkur. Tanpa basa basi, Zee langsung menghajar laki-laki tersebut.


Kiara yang ketakutan, langsung berteriak-teriak minta tolong. Hingga beberapa saat kemudian, Pak Warto dan beberapa warga di sekitar datang. Mereka ikut membantu memisahkan Zee dan laki-laki tersebut. Sementara Kiara, langsung dibantu oleh istri pak Warto dan seorang perempuan lainnya.


"Yudha? Kenapa kamu bisa disini? Bukannya kamu berada di penjara?" tanya Pak Warto setelah mengetahui bahwa laki-laki tersebut ternyata Yudha, anak Yono si mantan lurah.


Belum sempat Yudha menjawab pertanyaan Pak Warto, terdengar suara gaduh dari luar. Semua orang menoleh ke arah luar. Terlihat Yono dan beberapa orang lainnya memasuki rumah sempit Kiara.


Mereka semua saling pandang. Yudha tampak ketakutan saat melihat sang ayah di sana.


"Kamu kabur lagi dari penjara?" Tatapan Yono mengarah pada Yudha.

__ADS_1


"A-aku…," Yudha tampak ketakutan.


"Sudah berapa kali aku bilang pertanggung jawabkan perbuatanmu! Jangan seenaknya kabur dari penjara!" Suara Yuno menggelegar di rumah Kiara. Tatapan matanya tertuju pada Kiara yang saat itu tengah terisak. "Kamu masih saja terobsesi dengan wanita m*r*han ini? Sudah berapa kali aku bilang jika dia perempuan j*l**g. Dia sudah menjajakan tubuhnya kepada banyak orang. Ayah tidak sudi mempunyai menantu seperti dia!"


Yudha tampak tidak terima. "Aku menyukainya, Yah!"


"Makan rasa sukamu itu! Kamu tidak sadar jika kamu sudah dijebak oleh wanita itu, hah? Bahkan, tubuh kotornya sangat menjijikkan. Dia harus diusir dari desa ini karena bisa membawa petaka."


"Tidaakkk! Jangan, Yah. Jangan usir dia." Yudha langsung merengek kepada sang ayah. Sikapnya sama sekali tidak mencerminkan usianya.


"Aku tidak peduli. Wanita ini harus segera di usir!"


"Ya, usir, dia!"


"Suruh pergi dari sini."


"Buat malu desa."


"Kalau tidak mau, arak keliling desa."


"Dasar sampah!"


Umpatan banyak sekali dilayangkan untuk Kiara dari beberapa warga. Sedangkan Kiara, dia masih menangis tersedu-sedu dalam dekapan seorang wanita.


Zee yang melihat hal itu menjadi sangat geram. Dia tidak dapat menahan emosinya saat itu.


"Diam semuanya! Jangan suka bicara seenaknya tanpa bukti!" Zee hampir berteriak.


"Siapa kamu? Jangan ikut campur urusan desa kami." Bentak seorang laki-laki.


"Tentu saja aku akan ikut campur jika menyangkut Kiara!" Zee tak mau kalah.


"Cckkk, apa urusan Kiara denganmu, hah?! Memangnya kamu mau membela wanita murahan seperti dia?"


Amarah Zee sudah sampai ubun-ubun. Dia terlihat sangat emosi. Zee tidak terima saat melihat perempuan ditindas di depan matanya.


"Iya. Aku akan membelanya. Bukan hanya membela Kiara, tapi aku juga akan menikahinya. Kalian dengar itu?!"


\=\=\=\=

__ADS_1


Otewe nikah nggak sih ini? 🤭


Tinggalkan jejak untuk pencet like ya, gratis lho. 🤗


__ADS_2