Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 28


__ADS_3

Keesokan pagi, Ken sudah bersiap untuk memandikan Zee. Dia masih sibuk mengejar putranya tersebut yang sedang berjalan kesana kemari di halaman depan, hanya dengan menggunakan popok dan kaos dalam saja. Zee bahkan sudah berjalan menuju tanaman bunga-bunga Gitta yang sudah berjejer rapi di dalam pot.


"Zee, ayo mandi dulu bareng Daddy. Nanti keburu siang ini." Ken masih berusaha membujuk sang putra.


"Andi calang? (Mandi sekarang?)" Zee menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sang daddy.


"Iya. Ayo, mandi sekarang. Mau ya?"


"Indak au. Ji au angkap colo (Ndak mau. Zee mau nangkap coro/kecoak)"


"Eh, jangaann!" Ken langsung panik. Dia segera memburu Zee dan langsung menggendongnya. Jika dibiarkan, putranya tersebut pasti dengan senang hati nyemplung ke dalam got atau tempat berlumpur lainnya.


Zee yang kaget dengan tindakan sang daddy yang tiba-tiba, langsung menangis dengan kencang. 


"Huuaaaa huuaaaa, tuyyunn huuaaa. Tedi tuyyuunnn." Zee masih menangis meraung-raung saat digendong Ken masuk rumah.


Gitta yang mendengar sang putra menangis dengan kencang langsung buru-buru keluar dari dapur. Dia berjalan tergopoh-gopoh ke arah sang putra.


"Astaga, Mas! Kamu apain sih, sampai nangis begini?" Gitta menggerutu kesal sambil mengambil alih Zee ke dalam gendongannya.


"Nggak aku apa-apain, Yang. Tadi Zee mau nangkapin kecoa lagi," ucap Ken sambil mengerucutkan bibirnya. Benar-benar mirip sekali dengan Zee. Gitta sampai heran melihat dua laki-laki beda generasi ini saat sedang merajuk.


"Astaga! Zee mau nangkap kecoak lagi?" Gitta menatap wajah sang putra yang masih sesenggukan.


Wajah polos Zee yang sudah penuh dengan air mata tersebut tampak menggemaskan. Kepalanya mengangguk kecil sambil menatap ke arah Ken.

__ADS_1


"Au ain ama colo, Mi (Mau bermain sama coro/kecoak, Mi)"


Gitta langsung bergidik ngeri membayangkan apa yang dikatakan sang putra. Jika anak lain akan ketakutan saat melihat binatang yang bisa terbang tersebut, tapi tidak dengan Zee. Dia akan bersemangat mengejar kemana perginya binatang tersebut.


"Nggak boleh, Sayang. Kecoak itu tidak boleh dibuat mainan. Dia jorok dan banyak kumannya."


"Whewhek?" (whewhek\=kotor/jorok)


"Iya, Sayang. Whewhek. Zee nggak boleh mainan kecoak lagi, ya?"


"Ndak au, Ji cuka telbang. (Ndak mau, Zee, suka yang bisa terbang)"


"Nanti minta Papa belikan pesawat yang bisa terbang, okay?" tawar Gitta.


"Indak au. Ji au yang telbang. Ji ndak unya bulung telbang. Huahuahua. (Nggak mau. Zee mau yang bisa terbang. Zee nggak punya burung yang bisa terbang)"


"Apa maksudnya itu burung yang bisa terbang, Mas? Jangan-jangan kamu cekokin Zee jika dia hanya punya burung 'anggrem', Mas?"


"Hehehe, aku kan hanya bercanda, Sayang. Aku bingung jawab pertanyaan anak kamu jika mandi bareng. Dia cerewet sekali tanya ini itu, aku bingung jawabnya." Kilah Ken.


"Astaga! Wajah saja anak kecil suka bertanya, Mas. Awas saja jika kamu cekokin Zee aneh-aneh lagi. Aku pastikan punyamu juga akan 'anggrem'."


Belum sempat Ken menyahuti perkataan Gitta, terdengar suara mommy Retta dari pintu depan.


"Zee, Sayang! Mama datang bawa bubur, nih," ucap mommy Retta sambil berjalan memasuki rumah. Dia langsung berhenti saat melihat anak, cucu, dan menantunya berdiri di ruang tengah. "Eh, ada apa?" lanjutnya.

__ADS_1


"Nggak ada apa-apa, Mom. Biasalah, Mas Ken suka iseng ngajarin yang aneh-aneh sama Zee." Gitta menjawab sambil mendekat ke arah mommy Retta.


Mommy langsung menatap tajam ke arah Ken. Dia bisa melihat sang putra tengah salah tingkah. "Awas jika kamu ketularan Daddy kamu, Ken. Mommy pastikan, Gitta akan mencari Nyedit dua."


"Eh, jangan, Mom! Satu saja sudah buat para laki-laki pusing tujuh keliling, apa lagi nambah lagi. Bisa-bisa rontok semua rambutku, Mom." Ken masih menggerutu.


"Biarin." 


Perdebatan anak dan ibu pagi itu berakhir saat sopir mommy Retta sudah menjemputnya. Hari ini, mommy Retta harus pergi ke hotel untuk mengadakan pertemuan bulanan dengan para staf.


Sementara itu, Ken juga sudah bersiap berangkat ke kantor. Di tangan kanannya sudah ada jas dan tas laptop. Sementara tangan kiri, sedang menggendong Zee.


"Mas, nanti siang jangan lupa ada acara di rumah mertuanya Khanza. Awas sampai lupa."


"Iya, Yang. Aku juga pasti ingat, kok. Nggak enak juga jika tidak datang. Mommy dan Daddy langsung ke sana juga kan?"


"Iya."


Setelah itu, Ken segera menurunkan sang putra. Tak lupa juga dia langsung menciumi pipi gembul Zee sebelum berangkat ke kantor. 


"Zee, Daddy berangkat ke kantor dulu, ya? Nanti kita bermain lagi, okay?"


"Ote. Anti ain goyang buyung ya, Ted?"


"Apa?!"

__ADS_1


\=\=\=


Opo sih maksud e Zee? 🙄


__ADS_2