
Langkah kaki Kiara terhenti saat keduanya menoleh ke arahnya.
"Ka-kalian?"
Kiara cukup terkejut saat melihat kedatangan ibu dan kakak tirinya. Entah bagaimana mereka bisa berada di rumahnya saat itu.
Zee yang memang sudah mengenal kakak tiri Kiara, langsung mengambil langkah tegas. Dia berdiri merapat di samping sang istri. Tangan kanannya juga langsung melingkar pada pinggang Kiara.
Melihat tindakan Zee, Narti, ibu tiri Kiara, dan Ferdi, kakak tiri Kiara, langsung mengernyitkan kening. Apalagi, melihat keadaan Kiara yang tengah berbadan dua, membuat mereka cukup terkejut. Mereka sama sekali tidak menyangka jika kehidupan Kiara terlihat baik-baik saja.
Awalnya, Narti dan Ferdi mengira jika Kiara akan mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari keluarga suaminya. Dengan begitu, Narti dan Ferdi bisa menjalankan rencana mereka. Namun, setelah melihat Kiara yang tengah berbadan dua dan perlakuan Zee kepadanya, sontak saja membuat Narti dan Ferdi cukup terkejut.
Saat kedua tamunya tersebut masih diam mematung, Zee langsung bersuara.
"Ada perlu apa kalian datang kemari?" Bukannya tidak tahu sopan santun, tapi Zee tidak ingin bermanis-manis menghadapi kedua tamunya tersebut. Zee sudah mengetahui perlakuan keduanya kepada sang istri dulu.
__ADS_1
Wajah Narti dan Ferdi cukup terkejut dengan pertanyaan Zee. Mereka tampak berusaha mengatur ekspresi wajahnya agar tidak membuat Zee dan Kiara curiga.
"Ehm, kami kemari untuk menjenguk Kiara. Sudah lama kan kami tidak bertemu," jawab Narti sambil mengulas senyuman.
"Cckkk. Menjenguk? Kenapa kalian harus repot-repot datang kemari untuk menjenguk Kiara? Bukankah dia tidak kalian anggap sebagai keluarga?" tanya Zee.
Skak. Ucapan Zee tampak langsung mengenai sasaran. Narti dan Ferdi cukup terkejut dengan jawaban Zee.
"Ti-tidak. Bu-bukan begitu," Narti menggelengkan kepala sambil menggerak-gerakkan tangannya. Dia masih berusaha menghindar dari tatapan tajam Zee.
"Lalu, apa maksud kedatangan kalian kemari?" Zee masih tidak mengalihkan tatapannya.
Zee menarik tubuh Kiara dan menuntunnya berjalan menuju sofa yang berada di depan Narti dan Ferdi. Keduanya, tampak masih mengamati interaksi Zee dan juga Kiara.
"Awas, pelan-pelan, Yang," ucap Zee, sambil membantu Kiara duduk. Dia masih terlihat over protektif terhadap sang istri.
__ADS_1
"Iya, Mas."
Setelah keduanya duduk, Zee kembali menatap wajah-wajah yang ada di depannya. Tatapan dingin Zee dan terkesan jengah, benar-benar membuat Ferdi dan Narti mengkeret.
"Kalian sudah bertemu dengan Kiara. Ada yang ingin kalian sampaikan?" tanya Zee. Sebenarnya, dia sudah gatal ingin segera mengusir kedua tamunya tersebut. Namun, Zee tidak sampai hati melakukan hal itu.
Ferdi tampak bingung. Sementara sang ibu, terlihat menoleh ke arah dalam rumah Zee dan Kiara. Dari gelagatnya, Zee sudah mulai bisa menebak maksud kedatangan kedua orang tersebut.
"Ehm, kami datang kemari karena rindu dengan Kiara. Biar bagaimanapun juga, kami adalah keluarga, ya meskipun dia adalah anak tiriku, tapi dia sudah aku anggap seperti anak kandungku sendiri," ucap Narti sambil tersenyum.
Terdengar decakan dari bibir Kiara. Dia sudah sangat jengah mendengar apa yang disampaikan oleh ibu tirinya tersebut.
"Keluarga? Sejak kapan kalian menganggapku seperti keluarga? Bahkan, saat ayah masih hidup pun, kalian sama sekali tidak pernah menganggapku keluarga. Apalagi anak kandung," Kiara mendengus kesal.
"Ti-tidak benar. Kami sama sekali tidak seperti itu. Kami sudah menganggapmu seperti keluarga sendiri. Bahkan, aku juga yang telah membiayai biaya pengobatan nenek kamu, kan?"
__ADS_1
\=\=\=
Eh, siapa yang membiayai pengobatan nenek Kiara?