Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 153


__ADS_3

Setelah drama sebelum tidur, akhirnya Kiara bisa benar-benar terlelap di dalam pelukan Zee. Zee menghujami banyak kecupan pada wajah Kiara. Dia benar-benar sangat bersyukur bisa menikah dengan Kiara. Dan kini, istrinya tersebut sudah mengandung.


Keesokan hari, Zee berangkat ke kampus pagi-pagi sekali. Dia ada jadwal ujian pada jam pertama dan kedua pada hari terakhir itu. 


Menjelang pukul sebelas siang, Zee sudah bersiap untuk pulang. Dia berjalan menuju tempat parkir motornya. Tiba-tiba El berjalan menghampiri Zee.


"Mau langsung pulang?" tanya El sambil mensejajari langkah kaki Zee.


"Iya."


"Boleh gue ke rumah lo?" tanya El ragu-ragu. "Sekalian mau jenguk Kiara."


"Boleh. Bareng aja."


"Gue ambil mobil dulu. Lo duluan, deh."


"Okay. Gue tunggu di rumah."


"Iya."


Setelahnya, Zee dan El berpisah. Zee menuju tempat parkir sepeda motor, sementara El menuju tempat parkir mobilnya.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Zee sudah sampai di rumah. Dia segera mencari keberadaan Kiara yang ternyata sedang berada di teras samping sambil membaca novel online. Kiara langsung mengulurkan tangan saat melihat Zee sudah berada di depannya.

__ADS_1


"Kenapa pulang cepat, Mas?" tanya Kiara setelah mengecup tangan Zee.


"Hari ini hanya dua mata kuliah." Zee mendudukkan diri di samping Kiara. Tangannya seperti biasa mengusap-usap perut sang istri yang masih rata tersebut.


"Mau makan apa mandi dulu?"


"Mandi dulu, deh. Oh iya, El sedang dalam perjalanan ke sini. Nanti makan siang bareng saja."


"Eh, Kak El kesini?"


"Iya. Tadi ketemu saat mau pulang."


"Kalau begitu, aku siapkan baju ganti kamu, Mas. Kamu mandi dulu. Aku akan minta tolong Bibi buat makan siang." Kiara hendak beranjak berdiri, namun Zee menahannya.


Kiara hanya bisa mencebikkan bibir. "Aku ini hamil, Mas. Nggak sakit. Lagipula, aku juga nggak merasakan apa-apa. Aku akan bosan nanti jika nggak ngapa-ngapain, Mas." 


Zee mendesahkan napas beratnya. Setelah itu, segera beranjak berdiri dan menarik tangan Kiara dengan lembut. Zee mengajak Kiara ke kamar dan membiarkan sang istri menyiapkan baju ganti untuknya.


Setelah selesai, Kiara segera beranjak ke dapur untuk meminta bantuan asisten rumah tangga menyiapkan makan siang. Seperti perkataan Zee tadi, mereka akan menjamu El untuk makan siang di sana.


Tak berapa lama kemudian, Zee terlihat sudah selesai mandi dan berganti baju. Hal itu juga bertepatan dengan kedatangan El. Zee segera mempersilahkan El masuk. El juga langsung menanyakan kabar Kiara saat sudah bertemu dengannya.


"Bagaimana kabar kamu, Kia?"

__ADS_1


"Alhamdulillah baik, Kak," jawab Kiara yang saat itu sudah duduk di samping Zee.


"Sudah berapa usia kandungannya?" Lagi-lagi El bertanya.


"Mau masuk minggu ke enam, Kak."


"Waahh, sudah selama itu kalian nggak nyadar jika Kia hamil?" El bertanya sambil menatap ke arah Zee dan juga Kia bergantian.


Kali ini, Zee yang menjawab pertanyaan El sambil mendengus kesal. "Mana kami tau jika Kia sedang hamil. Dia juga nggak ada tanda-tanda awal kehamilan. Jadi, kami mah gas terus aja."


Kia langsung malu saat mendengar jawaban Zee. Bisa-bisanya sang suami mengatakan hal itu.


El mendesahkan napas beratnya setelah mendengar jawaban Zee. "Sepertinya, hamil atau tidak, kalian nggak akan mengendorkan serangan, deh." El menatap Zee dan Kiara bergantian.


"Jika nanti kandungan Kia sudah kuat sih, kami pasti geber terus. Tapi sekarang, kami harus latihan bersabar dulu. Ya, hitung-hitung ngumpulin tenaga buat nanti."


"Cckkk, dikira motor apa digeber?" El hanya bisa berdecak kesal.


Siang itu, obrolan Zee dan El ters berlanjut hingga makan siang. Bahkan, El masih betah di rumah Zee hingga menjelang sore.


\=\=\=\=


Jangan lupa tinggalkan jejak ya.

__ADS_1


__ADS_2