
Beberapa saat kemudian, mobil yang dikemudikan Zew sudah memasuki area rumah sakit. Dia langsung berteriak-teriak minta tolong. Beberapa perawat yang memang sudah mengenal Zee pun langsung bergegas membantunya.
Para perawat tersebut langsung membawa Kiara menuju ruang persalinan yang memang khusus disiapkan untuknya. Zee yang memang belum memberi kabar kepada Dokter Andara jika Kiara hendak melahirkan, langsung berteriak-teriak meminta tolong memanggilkan beliau.
Beruntung saat itu Dokter Andara sedang bertugas. Dokter Andara yang saat itu sedang melakukan kunjungan pasien di lantai delapan, begitu selesai langsung bergegas menuju ruang persalinan untuk memeriksa Kiara. Sementara di ruang persalinan, seluruh persiapan untuk proses melahirkan sudah mulai disiapkan.
Dokter Andara yang saat itu tengah berjalan menuju ruang persalinan, langsung bertanya kepada salah seorang perawat senior. "Semua persiapan sudah dilakukan?"
"Sudah, Dok. Seperti permintaan Dokter, semua persiapan untuk Bu Kia melahirkan, sudah disiapkan sejak beberapa hari yang lalu."
Ya, Dokter Andara memang meminta untuk mempersiapkan seluruh peralatan untuk proses persalinan Kiara, mengingat dia adalah cucu menantu Vanno, pemilik rumah sakit tersebut. Dokter Andara sudah cukup tahu dengan tingkah keluarga itu saat menghadapi proses kelahiran dari para seniornya.
Zee yang melihat kedatangan Dokter Andara pun langsung mengikuti beliau yang saat itu berjalan memasuki ruang bersalin untuk memeriksa Kiara. Dokter Andara tidak menyadari jika Zee mengikuti dan langsung berdiri di sebelahnya agak ke belakang.
Zee langsung berteriak terkejut saat melihat posisi Kiara dan Dokter Andara yang hendak memeriksanya. Entah dari mana dia sudah memakai baju khusus seperti para perawat.
"Astaga, Dok! I-itu mau ngapain? Mau diobok-obok?"
Mendengar pertanyaan Zee yang tiba-tiba, sontak saja membuat Dokter Andara terkejut. Dia langsung berbalik dan mendapati Zee tengah berdiri di depannya.
"Mas Zee? Ngapain disini?"
__ADS_1
"Kok malah balik tanya, Dok. Tentu saja aku mau nemeni Kiara."
Dokter Andara hanya bisa mendesahkan napas berat sebelum menjawab ucapan Zee. Sepertinya, nanti dia harus mempersiapkan kesabaran ekstra saat menghadapi suami ajaib modelan Zee seperti itu.
"Kalau mau nemenin Mbak Kia, disampingnya sana, Mas. Kalau disini, bagian saya dan suster." Dokter Andara meminta Zee bergeser di samping Kiara. Setelah itu, beliau berbalik dan mulai memeriksa keadaan Kiara yang sudah sangat kesakitan.
Belum menyerah, Zee lagi-lagi bersuara. "Aku hanya ingin melihat proses kelahiran putraku, Dok."
"Nanti saja jika sudah lahir. Lagian, Mas Zee kan sudah sering melihat bahkan menjenguknya, kan?" jawab Dokter Andara sambil mendengus kesal.
Belum sempat Zee menanggapi ucapan Dokter Andara, terdengar suara rintihan dari Kiara.
"Dok, sa-sakittt."
Zee yang mendengar ucapan Dokter Andara, menjadi panik. Dia tahu jika sudah pembukaan sembilan, sebentar lagi akan sempurna. Proses melahirkan akan bisa segera dilakukan.
Zee langsung bergeser ke samping Kiara. Tanpa merasa malu dengan yang lainnya, Zee langsung mendaratkan kecupan bertubi-tubi pada pipi, kening, kelopak mata, pelipis, hidung, bahkan beberapa kali pada bibir Kiara.
"Sayang, Sayang, kamu harus kuat. Kamu pasti bisa. Putra kita pasti bangga sekali dengan mommynya nanti. Kamu pasti bisa, Yang." Lagi-lagi Zee menghujami Kiara dengan kecupan bertubi-tubi.
Dokter Andara dan perawat lainnya hanya bisa mendengus kesal dengan tingkah Zee.
__ADS_1
"Mas Zee, nanti saja jika mau mencium Mbak Kia. Biarkan Mbak Kia mendapatkan pasokan oksigen yang banyak," ucap Dokter Andara.
Zee menoleh ke arah Dokter Andara sambil mendengus kesal. "Aku kan mau kasih dukungan buat Kiara, Dok."
Memang ada dukungan model begitu, Zee? 🤧
Kiara masih terus merintih kesakitan sambil mencengkram lengan Zee dengan erat.
Belum sempat Dokter Andara menanggapi ucapan Zee, Kiara lagi-lagi merintih semakin keras. Dokter Andara segera memeriksa, dan ternyata sudah lengkap pembukaan Kiara. Segera saja, Dokter Andara membantu proses kelahiran.
"Mbak Kia, pembukaannya sudah lengkap. Bersiap-siap, ya. Tunggu aba-aba saya, jangan mengejan dulu," ucap Dokter Andara sambil menatap ke arah Kiara.
Kiara hanya mengangguk sambil berusaha menahan rasa sakit.
"Atur napas. Pada hitungan ketiga, dorong sekuat tenaga. Satu, dua, tiga. Sekarang!"
"Eeuughhhhhh…"
"Atur napas, dicoba lagi, Mbak Kia."
Hah hah huh huh hah hah huh huh.
__ADS_1
Mendengar instruksi Dokter Andara, Zee ikut tarik napas dan mengejan.
"Aduh, kenapa aku jadi ikut mulas."