
Brakkk.
Zee cukup terkejut setelah merasakan ada benturan dan teriakan yang cukup keras dari depan mobilnya. Seketika, sekitar mobil Zee langsung ramai. Teriakan dan gedoran terdengar di sana sini hingga membuat Zee kebingungan.
"Hehh! Cepat keluar!" Teriak beberapa orang yang masih menggedor-gedor pintu mobil Zee.
Suara riuh di sekeliling mobil tersebut membuat Zee tersadar. Dia segera membuka pintu mobil dan keluar. Saat itu, dia baru menyadari telah ada seorang perempuan yang tergeletak di depan mobilnya dengan bersimbah darah.
Zee masih diam mematung. Dia tidak bisa menangkap apa yang orang-orang sampaikan di sekitarnya. Hingga sebuah tepukan berhasil menyadarkan Zee.
"Jangan diam saja! Cepat antarkan ke rumah sakit!"
Zee langsung tersadar. Dia buru-buru mengangguk dan segera masuk kembali ke dalam mobil. Rupanya perempuan yang tadi di tabraknya sudah dimasukkan ke dalam mobil Zee. Dia tampak tidak sadarkan diri.
Dengan cukup panik, Zee langsung mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit keluarga Geraldy. Beruntung jarak menuju rumah sakit tersebut tidak memakan waktu lama. Hanya sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil Zee sudah berhenti di depan IGD rumah sakit tersebut. Zee langsung berteriak-teriak minta tolong.
Tak butuh waktu lama, para petugas IGD langsung membantu korban tabrakan tersebut. Mereka langsung membawa korban tersebut masuk ke ruang IGD untuk mendapatkan perawatan.
Zee masih tampak frustasi. Dia benar-benar panik saat itu. Zee tidak bisa berpikir jernih. Dia bahkan asal mengisi data pasien di bagian administrasi.
"Siapa perempuan itu, Mas Zee?" tanya salah seorang petugas senior yang sudah cukup mengenal Zee.
__ADS_1
"Aku nggak tau. Dia tiba-tiba berlari ke arah mobilku dan langsung menyeberang." Zee masih meraup wajah ya dengan kasar.
"Apa ada saksi mata?"
"Entahlah. Aku tidak ingat." Zee benar-benar tidak bisa berpikir saat itu.
"Sudah menghubungi keluarga Mas Zee?" tanya petugas senior tersebut.
Kening Zee berkerut saat menyadari pertanyaan tersebut. Dia benar-benar tidak berpikir ke arah sana.
"Daddy," gumam Zee.
Setelahnya, Zee segera merogoh ponselnya yang berada di saku celananya. Dia mulai mengetikkan nomor sang daddy untuk menghubunginya. Tak butuh waktu lama, panggilan telepon Zee sudah terhubung.
"Dad, aku butuh bantuan."
Ken yang saat itu kebetulan sedang berada di dapur untuk mengambil minum, langsung mengerutkan kening saat mendengar suara panik sang putra.
"Ada apa, Zee?" tanya Ken sambil mengedarkan pandangan ke seluruh rumah. Ken bisa mendengar nada panik dari suara sang putra.
Setelah mendengar pertanyaan sang daddy, Zee mulai menceritakan sekilas kejadian apa yang baru saja dialaminya. Ken cukup terkejut mendengar penjelasan Zee.
__ADS_1
"Dimana kamu sekarang, Zee?"
"Di rumah sakit, Dad."
"Daddy akan segera kesana. Tidak usah bilang Mommy dan Kiara dulu. Daddy tidak mau membuat mereka khawatir."
"Iya."
Setelahnya, Ken segera menutup panggilan telepon tersebut. Dia harus segera berangkat menuju rumah sakit. Saat sedang mengganti baju, tiba-tiba Gitta memasuki walk in closet dan menghampirinya.
"Mau kemana, Mas?" tanya Gitta sedikit keheranan melihat Ken sedang bersiap-siap. Pasalnya, hari ini adalah weekend dan Ken sudah bilang tidak ada pekerjaan yang harus dilakukannya.
"Oh, aku mau ke bengkel dulu, Yang. Tadi Zee baru saja telepon. Dia mau minta pendapatku." Ken berusaha mengulas senyumannya di depan Gitta.
Melihat senyuman Ken, entah mengapa Gitta mempunyai firasat yang aneh. Sepertinya, ada sesuatu yang yang sedang disembunyikan oleh suaminya tersebut.
"Kamu serius mau ke bengkel, Mas? Tidak sedang berbohong, kan?"
"Eh,"
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Masih butuh dukungan buat Zee dong. 🤗