
Ken menoleh ke arah kolam renang papa Evan. Terlihat sudah banyak sekali ikan berbagai jenis berenang bebas di dalamnya. Ken hanya bisa menghembuskan napas beratnya saat melihat keadaan kolam renang yang sudah tidak bisa diselamatkan tersebut.
"Zee Sayang, kenapa beli ikan sebanyak ini, hhmmm?" tanya Ken sambil menoleh ke arah sang putra.
"Ji au unya itan anyak, Ted. (Zee mau punya ikan banyak, Dad.)"
Ken hanya bisa mendesahkan napas ke udara. Dia tidak akan pernah bisa menolak keinginan putranya. Selama itu baik dan dia masih mampu mewujudkannya, Ken pasti akan melakukan apapun permintaan sang putra.
"Baiklah, tadi Zee beli ikan apa saja?"
"Anyak, Ted. "itan yeye icam, itan toi meyah, itan apus-apus, itan bantal, itan cupi-cupi yang tecil itu, Ted, cama itan capung."
Hhhhhh. Lagi-lagi Ken merasa bingung bagaimana menjelaskan nama-nama ikan kepada putranya tersebut.
__ADS_1
"Sayang, namanya buka ikan apus-apus, tapi ikan sapu-sapu. Tuh, yang kecil-kecil banyak di pinggiran, namanya bukan ikan cupi-cupi, tapi ikan Gupi. Itu, yang bergerombol namanya ikan buntal, Dan yang di dekat bola itu, namanya ikan ******, bukan capung."
Zee tampak menatap wajah sang daddy. Entah apa yang dipikirkannya. Namun, Zee kembali melanjutkan bermainnya tanpa menggubris nama-nama ikan yang disebutkan oleh sang daddy.
Melihat sang putra tengah berjalan kembali menuju kolam renang yang kini airnya hanya tinggal setinggi lima puluh sentimeter, Ken segera menyusul sang putra.
"Mau apa?" tanya Ken sambil berjongkok di samping Zee yang sedang membawa serokan ikan.
"Ji au cewoki ikan, Ted." 😩😩
Berhubung Zee belum bisa mengucapkan huruf 'R', dia hanya bisa mengucapkan kata seadanya.
Tak berapa lama kemudian, Gitta terlihat datang dengan membawa baju ganti untuk Zee. Dia yang sudah mendengar kedatangan Ken, segera menyiapkan air untuk sang suami mandi sekalian.
__ADS_1
Sore itu, Ken, Gitta dan Zee kembali ke Jakarta. Ken menyerahkan semua sisa urusan di Surabaya kepada Dino dan tim kuasa hukum mereka. Sudah ada banyak pekerjaan yang menunggu Ken dan Gitta di Jakarta.
Menjelang pukul sepuluh malam, Ken dan Gitta sudah tiba di rumah. Zee yang saat itu sudah terlelap, langsung dibawa oleh Gitta ke tempat tidurnya. Setelah itu, dia segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ken yang saat itu baru saja menerima panggilan dari sang daddy, segera beranjak menuju tempat tidur. Dia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Sebuah senyum terbit dari bibirnya. Otaknya sudah mulai menyusun adegan-adegan film yang akan dimainkannya. 🙄
Belum sempat Ken berjalan mencapai pintu, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Terlihat Gitta baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe.
"Lho, kok sudah selesai, Yang?" Wajah Ken terlihat ditekuk.
"Memangnya harus ngapain lama-lama di kamar mandi, Mas? Jika sudah selesai yang keluar. Nggak seperti kamu, sudah selesai tapi masih saja 'dijejel-jejelne', Mas." Gitta langsung berjalan melewati Ken menuju walk in closetnya.
Sementara Ken hanya bisa nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Malam itu, Ken dan Gitta langsung beristirahat. Tubuh mereka benar-benar kelelahan.
__ADS_1
Keesokan harinya, ternyata Zee sudah bangun terlebih dahulu. Semalam, dia kehausan dan merengek tidur dengan Gitta dan juga Ken. Alhasil, Gitta menidurkan Zee di ranjangnya setelah menyusui.
"Tedi, ao angun. Ji au yihat heyicopel."