
Dua hari berlalu, kini semua anggota keluarga Zee sedang berada di rumah. Kebetulan hari itu adalah weekend, bisa dipastikan Gitta dan Ken akan memonopoli sang cucu.
Kiara baru saja selesai mengganti popok Gen setelah mandi pagi. Zee pagi itu sedang berolahraga dengan sang daddy di depan rumah. Seperti biasa, mereka melakukan olahraga ringan dengan bermain basket bersama. Entah mengapa laki-laki dari keluarga Geraldy tersebut sangat suka dengan olahraga basket.
"Bagaimana skripsi kamu, Zee?" tanya Ken sambil melakukan pemanasan.
"Lancar, Dad. Tinggal revisi sedikit dan sidang."
"Kapan sidangnya?"
"Sekitar tiga minggu lagi."
Ken mengangguk-anggukkan kepala mengerti. "Bagus. Setelah itu, kamu bisa fokus ke keluarga dan perusahaan," ucap Ken.
Zee menghentikan aktivitas pemanasannya. "Aku mau langsung lanjut S2, Dad."
Ya, Zee memang berniat untuk lanjut S2 langsung setelah lulus S1. Menurut Zee, jika keinginannya tersebut tidak segera dilaksanakan, Zee khawatir jika suatu saat niatan untuk melanjutkan S2 akan pudar.
Ken masih menatap wajah sang putra sambil melakukan gerakan ringan. Dia cukup mengerti karakter putranya tersebut. Jika ingin memberikan nasehat, Ken harus memberikan berbagai macam sudut pandang agar Zee bisa memikirkan sendiri semuanya.
"Kamu yakin mau langsung lanjut S2?"
__ADS_1
"Iya, Dad."
Ken menghentikan gerakannya sebentar sambil berbalik menghadap Zee.
"Kamu sudah memikirkan semuanya dengan matang?"
"Ehm, iya, Dad. Jika aku tidak lanjut S2, aku khawatir nanti niat itu hilang."
"Jangan khawatir jika niat itu akan hilang, Zee. Kamu tau, dulu daddy lanjut S2 saat usia Daddy dua puluh delapan tahun. Dan, saat itu kamu sudah masuk taman kanak-kanak."
Zee masih diam mendengarkan ucapan daddynya. Dia merasa, daddynya akan menjelaskan sesuatu.
"Coba kamu pikirkan baik-baik. Sekarang, kalian sudah memiliki Gen. Dia masih kecil, dan tentu saja membutuhkan perhatian ekstra dari kamu dan juga Kia. Daddy yakin, kamu tidak mau melewatkan masa-masa golden age anak kamu. Masa itu, tidak akan pernah terulang lagi seumur hidup kamu, Zee."
"Selain itu, kamu juga punya beberapa proyek yang sudah kamu mulai sebelum ini. Meskipun tidak seratus persen kamu handle sendiri, tapi kamu pasti akan terjun juga ke lapangan untuk mengontrolnya."
"Dan, yang harus lebih kamu pikirkan adalah istri kamu. Bukankah kamu sudah berjanji untuk mengizinkan Kia melanjutkan kuliah? Jika kamu dan Kia sama-sama kuliah, Daddy yakin waktu kalian akan disibukkan dengan tugas-tugas dan aktivitas kampus. Dampak dari semua itu tentu saja anak kamu dan hubungan pernikahan kalian yang masih baru mulai."
"Jika hanya salah satu yang kuliah, itu masih bisa dimaklumi. Kamu juga masih bisa mengantar jemput Kia dan membantunya mengerjakan tugas agar tidak terlalu membebaninya. Selebihnya, kalian masih punya waktu untuk quality time. Gen juga masih mendapatkan banyak waktu dari kalian. Ya, sama-sama bagi tugas lah," ucap Ken sambil mengambil bola basket dan mulai melakukan dribbling ringan.
Zee masih tampak diam mencerna ucapan sang daddy. Sepertinya apa yang dikatakan Daddy masuk akal. Jika aku ambil S2 sekarang, pasti akan sangat sibuk nanti jika Kia juga akan kuliah, batin Zee.
__ADS_1
"Sepertinya Daddy benar. Aku akan membicarakannya lagi dengan Kia nanti," jawab Zee pada akhirnya.
Ken menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah Zee.
"Itu lebih baik. Lagi pula, apa kamu mau membiarkan istri kamu kuliah tanpa pengawasan dari kamu. Dia baru melahirkan lho, Kia juga tengah menyusuii," ucap Ken.
Kening Zee berkerut mendengar ucapan sang daddy.
"Memangnya kenapa? Apa hubungannya kuliah dengan habis melahirkan dan sedang menyusui."
"Ya, siapa tahu ada yang melirik. Wanita yang sedang menyusuii kan terlihat lebih montogk-montogk."
😱😱😱
\=\=\=
Masih saja itu yang diributkan sih Ken 🤧
Jangan lupa mampir di cerita baru othor ya, 'Tetangga Kamar'. Kasih komen, like dan vote sebanyak-banyaknya.
Bantu klik favorit juga ya. 🤗
__ADS_1