
Kiara yang semula sudah sangat mengantuk, langsung membuka kedua bola matanya saat mendengar perkataan sang suami. Kiara menatap Zee dengan tatapan horornya.
"Apa maksudnya itu, Mas? Kamu mau apa? Ka-kata dokter, kita kan belum boleh melakukan 'itu'?" Wajah Kiara mendadak panik saat kedua tangan Zee mulai melepas kancing baju tidurnya.
"Siapa bilang kita akan melakukan 'itu', Yang? Aku hanya ingin uyel-uyel ini," jawab Zee sambil menyentuh benda menggemaskan milik Kiara. Sontak saja hal itu membuat Kiara menggigit bibir bawahnya. Awal kehamilan ini, membuat Kiara benar-benar sensitif terhadap sentuhan. Apalagi, sentuhan tersebut terjadi pada beberapa titik sensitif tubuhnya.
"Ehhmm, Ma-mas?" Kiara masih membiarkan Zee melakukan aktivitasnya.
Hingga kini, Zee sudah berhasil melepaskan semua kancing baju tidur Kiara. Kedua bola mata Zee langsung berbunar bahagia saat menatap si kembar menggemaskan. Apalagi, karena hormon kehamilan, membuatnya terlihat semakin menantang. Zee benar-benar ingin segera melahapnya.
"Apakah si kembar akan jadi lebih menggemaskan saat hamil begini, Yang?" tanya Zee sambil masih menatap tubuh sang istri yang sudah polos di bagian atas tersebut.
"Eh, maksudnya?" Kening Kiara berkerut. Dia masih berusaha menutupi bagian depan tubuhnya. Namun, Zee segera mencegah usaha Kiara.
"Jangan ditutupi, Yang. Aku gemas sekali dengan 'boba' ini. Kenapa jadi semakin besar dan menantang, ya?" Zee langsung menyentuh dan memainkannya.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban Kiara, Zee langsung mendekatkan wajahnya pada si kembar menggemaskan Kiara. Uyel-uyel sana, uyel-uyel sini. Dan, hal itu berulang terus hingga Kiara benar-benar kelojotan.
Masih tidak mau beranjak, Zee justru semakin bersemangat. Dia dengan semangat uyel-uyel 'boba' alami Kiara. Sedat sana, sedot sini. Cubit sana, cubit sini. Pegangan sana, pegangan sini. Bahkan tak lupa juga Zee menandai eksistensinya jika dia adalah penjelajah pertama si kembar menggemaskan tersebut.
Semua tindakan Zee tersebut, benar-benar membuat Kiara mupeng. Meskipun begitu, mereka benar-benar harus menahan diri untuk tidak melanjutkan aktivitas lanjutan. Zee merebahkan diri di samping Kiara. Tangan kanannya melingkar pada perut sang istri. Sementara wajah Zee, masih uyel-uyel di tempat yang menggodanya.
Malam itu, kedua insan tersebut terlelap setelah mereka berhasil meredam apa yang sebenarnya mereka inginkan. Kiara juga masih polosan di bagian atas tubuhnya. Hanya saja, kini tubuhnya sudah terbalut selimut tebal dan berada di dalam dekapan sang suami.
Keesokan pagi, kesibukan sudah mulai terjadi seperti sebelum-sebelumnya. Hanya saja, kini Bi Ani masih membantu Kiara mengganti perban di tangannya.
"Siangan nanti, Yang. Pagi ini, kita periksa ke dokter dulu," jawab Zee sambil berjalan mendekat ke arah Kiara.
Kiara hanya bisa menganggukkan kepala. Pagi itu setelah sarapan, Zee langsung mengajak Kiara ke rumah sakit. Dia sudah menghubungi Dokter Andara, dokter kandungan, untuk memeriksa kandungan Kiara.
Karena sudah memberitahu lebih dulu, Kiara dan Zee langsung masuk ke dalam ruangan periksa Dokter Andara.
__ADS_1
"Selamat pagi, Mas Zee, Mbak Kia," sapa dokter yang terlihat masih sangat energik tersebut, meski usianya sudah tidak muda lagi. Kemungkinan, usia Dokter Andara sudah memasuki awal lima puluh tahunan.
"Selamat pagi, Dok." Zee dan Kia menjawab hampir bersamaan.
Setelah keduanya duduk di depan Dokter Andara, beliau mulai menanyakan keluhan yang dialami oleh Kiara.
"Apa ada keluhan lagi, Mbak Kia? Apa terjadi kram perut seperti kemarin?" tanya Dokter Andara. Ya, beliau lah yang memeriksa Kiara kemarin saat dia baru saja mengalami musibah.
Kiara segera menggelengkan kepala. Dia melirik ke arah Zee dengan wajah malu-malu. Dokter Andara pun mengerti apa maksud lirikan Kiara kepada Zee. Beliau mengulas senyumannya. Sedangkan Zee, dia masih belum mengerti apa maksud pertanyaan dokter tersebut.
"Peristiwa kemarin, apakah akan menyebabkan masalah di kemudian hari, Dok?" tanya Zee karena sudah tidak sabar.
"Tidak, Mas. Kemarin saya juga sudah memeriksa Mbak Kia. Tidak ada flek, ataupun gejala berat lainnya. Semuanya normal. Kandungan Mbak Kia sudah lumayan kuat. Hanya saja, Mbak Kia harus lebih berhati-hati lagi dan masih harus mengkonsumsi vitamin yang saya berikan."
"Bisakah Dokter melakukan pemeriksaan lagi? Aku merasa tidak tenang jika tidak melihat sendiri calon anakku. Ya, meskipun aku belum bisa menjenguk langsung, setidaknya aku bisa melihat melalui layar monitor kan, Dok?"
__ADS_1
Dokter Andara be like …,