
Sepanjang perjalanan, Mama Retta terus saja menggerutu. Papa Vanno hanya diam pasrah mendengar omelan sang istri. Jika dia menjawabnya, bisa dipastikan dia akan semakin banyak menelurkan album solo.
***
Beberapa hari berlalu, kini Kiara tengah duduk di ruang makan rumah sang mertua. Di usia kehamilan yang sudah memasuki bulan kelima ini, Kiara masih terlihat sangat aktif. Hingga beberapa kali dia harus terus diingatkan untuk tidak terlalu capek dalam beraktivitas.
"Nanti Zee pulang jam berapa, Sayang?" tanya Gitta. Dia berjalan menuju ruang makan sambil membawa semangkuk kolak pisang yang masih mengeluarkan asapnya. Air liur Kiara langsung menetes saat melihat makanan yang ada di depannya tersebut.
"Ehm, sepertinya jam dua atau jam tiga, Mom. Kata Mas Zee, hari ini nggak mampir kantor," jawab Kiara sambil tidak mengalihkan pandangannya dari kolak pisang yang berada di depannya tersebut.
Gitta yang melihat ekspresi Kiara, langsung memintanya untuk menyantap kolak tersebut. Ketika mereka sedang berbicara, terdengar sebuah suara dari pintu depan depan. Gitta dan Kiara sudah sangat hafal dengan suara tersebut, langsung menoleh.
"Lho, kamu disini, Sayang?"
"Iya, Ma. Tadi Mommy bilang jika buat kolak pisang. Jadi, aku kesini mau nyobain, hehehe." Kiara masih tersenyum sambil menunjukkan mangkuk kolaknya.
Kedua wanita yang ada di depan Kiara tersebut langsung tersenyum. Mereka sangat bahagia saat melihat Kiara bisa makan apa saja tanpa memuntahkannya kembali.
"Mommy mau kemana?" tanya Gitta sambil menoleh ke arah wanita paruh baya tersebut. Ya, wanita yang baru saja datang tersebut adalah mommy Retta.
"Nggak kemana-mana. Mommy bosan di rumah. Daddy kamu pergi main golf."
Gitta cukup terkejut saat mendengar jawaban mommy Retta. "Main golf? Sama Mas Ken, Mom?" tanyannya penasaran.
__ADS_1
"Entahlah. Daddy kamu nggak ngomong tadi. Ada apa?"
Gitta menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaan sang mertua.
"Beberapa minggu lalu, Mas Ken ikut main golf dengan Pak Surya. Entah bagaimana caranya, baju Mas Ken ganti, Mom. Awalnya, aku nggak menyadari. Namun, keesokan hari, ada yang mengirimkan paket. Dan ternyata, itu baju yang dipakai Mas Ken kemarin saat main golf."
"Awalnya, aku tidak curiga sama sekali. Namun, aku mencium ada parfum perempuan dan bekas lipstik di samping kerahnya. Aku langsung menyidang Mas Ken saat itu juga."
"Meskipun sebenarnya, aku sudah menduga ada yang sengaja mengerjai Mas Ken, namun aku harus tetap tegas. Jika dibiarkan terus-terusan, aku khawatir jika Mas Ken akan kebablasan, Mom." Gitta menjelaskan kepada sang mertua.
Mommy Retta mengangguk setuju. "Kamu benar, Git. Kita harus tegas dengan para laki-laki. Jika mereka bertingkah, siapkan kurungan untuk membuat mereka jera."
Gitta mengangguk setuju. Sementara Kiara, dia hanya mendengarkan pembicaraan kedua wanita di depannya tersebut.
"Kia dimana, Bi?" tanya Zee saat bertemu dengan Bi Ani, asisten rumah tangga di ruang tengah rumahnya.
"Lho, Mbak Kia belum pulang, Mas Zee. Dari tadi siang di rumah Ibu."
"Di rumah Mommy?"
"Iya, Mas. Tadi siang Ibu menelpon dan memberitahu jika beliau membuat kolak pisang. Mbak Kia langsung kesana."
Zee mendesahkan napas berat ke udara. Sudah dipastikan jika sang istri akan disabotase oleh mommynya.
__ADS_1
"Baiklah, Bi. Terima kasih. Aku akan menjemput Kia setelah bersih-bersih."
Setelah itu, Zee langsung bergegas membersihkan diri. Tak butuh waktu lama, dia sudah selesai. Kini, Zee sudah bersiap untuk pergi ke rumah orang tuanya.
Zee berjalan menuju rumah mommynya. Hanya butuh waktu sekitar tiga menit untuk sampai di sana. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Zee langsung nyelonong masuk. Dia segera mencari keberadaan sang istri. Namun, tidak terlihat Kiara di ruang tengah maupun di ruang makan.
Zee berjalan menghampiri mommynya yang terdengar sedang berbicara dengan asisten rumah tangga di teras belakang.
"Mom," sapa Zee setelah menemukan mommynya.
"Eh, sudah pulang?" Gitta seger menoleh ke arah Zee.
"Hhhmmm. Kia dimana?"
"Tidur di kamar kamu. Kasihan, kecapekan dia."
Zee mengangguk mengerti. Setelah itu, dia hendak berbalik menuju kamarnya yang berada di rumah orang tuanya. Melihat hal itu, Gitta langsung mencegah sang putra.
"Mau kemana, Zee? Nggak usah aneh-aneh. Biarkan Kia istirahat, jangan di ajak main." Gitta memperingatkan sang putra.
"Sebentar saja, Mom. Butuh daya ini," jawab Zee sambil berjalan menuju kamar. Dia tidak mempedulikan ucapan sang mommy.
"Ini ada charger di dinding jika butuh daya, Zee!" Gitta masih berteriak.
__ADS_1