
Dino segera meminta izin untuk keluar dari ruangan. Dia harus segera menghubungi seseorang.
Sementara di dalam ruang rapat, para laki-laki yang tadi ngotot ingin menolak pembangunan resort milik GC, seketika langsung bingung. Kini, giliran tim kuasa hukum Ken yang menjelaskan kepada semua orang yang hadir saat itu.
Sebenarnya, baik pak Ilham maupun Ken sudah mengetahui jika orang-orang tersebut adalah orang suruhan atau bayaran. Mereka dibayar untuk melakukan demo penolakan pembangunan resort GC sejak beberapa hari yang lalu. Hingga beberapa perwakilan dari pendemo tersebut, dihadirkan di ruang rapat hari ini.
Ken sudah bisa menduga siapa dalang dibalik aksi tersebut. Pihak Tirta Omega, perusahaan air minum lokal tersebut yang menjadi dalang tindakan yang terjadi sejak beberapa hari yang lalu. Hal itu dipicu dengan adanya sumber air yang berada di lokasi GC. Dengan dibangunnya resort, sumber air Tirta Omega akan hilang. Tentu saja hal itu juga akan berpengaruh pada produksi air minum di Tirta Omega.
Mengapa Ken bisa mengetahui hal itu? Karena dulu saat Ken melakukan survey dan mediasi dengan warga, pihak Tirta Omega juga turut hadir. Dan orang yang mewakili Tirta Omega adalah Imron, laki-laki yang berada di ruangan tersebut.
Lalu, siapa Imroatus, Thor? Itu halunya si Ken saja. Entah meleyot kemana pikiran Ken dari Imron menjadi Imroatus, nama perempuan pula 😩
Setelah penjelasan panjang lebar dari tim kuasa hukum Ken, bapak-bapak yang tadi sempat memprotes pembangunan resort pun mulai melunak. Mereka tidak lagi bersikeras menentang pembangunan resort. Imron yang sudah melihat kekalahan di pihaknya, hanya menatap tajam ke arah Ken.
Ken juga tak mau kalah. Dia menatap wajah Imron dengan tatapan dinginnya. Setelah ini, Ken benar-benar akan membuat perhitungan dengan siapapun yang telah berani mengusiknya.
Menjelang pukul tiga, pertemuan tersebut selesai. Kedua belah pihak sepakat untuk tetap melanjutkan rencana pembangunan resort tersebut. Meskipun terlihat kurang puas, Imron tetap berusaha tenang.
"Bagaimana, Din?" tanya Ken setelah dia dan Dino berada di dalam kendaraan.
"Pihak Tirta Omega setuju untuk bertemu, Pak."
"Kapan?"
"Besok pagi."
Ken menoleh ke arah Dino. Dia terlihat tidak suka jika harus menunggu sampai esok hari.
__ADS_1
"Buat pertemuan nanti malam saja. Ajak mereka makan malam sekalian."
"Eh, Anda yakin?"
"Aku tidak mau menunggu sampai besok, Din. Lakukan segera. Malam ini, semuanya harus sudah selsai."
Dino menganggukkan kepala sambil mengeluarkan ponselnya. "Baik, Pak
Saya akan menghubungi kembali pihak Tirta Omega."
Beberapa saat kemudian, yang terdengar hanya suara Dino tengah berbicara di telepon. Sepertinya, dari percakapan yang ditangkap oleh Ken, pihak Tirta Omega setuju dengan permintaan Ken untuk bertemu saat makan malam nanti malam.
Tak berapa lama kemudian, Dino sudah menyelesaikan percakapannya. "Pihak Tirta Omega setuju untuk bertemu nanti malam, Pak."
Ken menganggukkan kepala. "Bagus. Segera kamu atur lokasinya. Aku mau, malam ini setelah selesai acara, kita kembali ke Surabaya."
Dino kembali menganggukkan kepala. "Baik, Pak." Setelah itu, dia segera mencari lokasi restoran yang nyaman untuk pertemuan mereka nanti malam.
Drrtt drrttt drrtttt.
Terdengar suara ponsel Ken yang diletakkan di atas nakas. Ken langsung bergegas menghampiri ponselnya. Terlihat nomor sang istri pada layar ponselnya. Ken segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menghubungkan panggilan video.
"Teddiiiiii!" Terdengar teriakan dari seberang sana. Ternyata Zee yang melakukan panggilan video tersebut. Wajah Zee sudah memenuhi layar ponsel Gitta. Terlihat Gitta sedang menyuapinya.
"Waahh gantengnya anak Daddy. Sedang mamam, ya?"
"Ja. Tedi tapan puyang? (Daddy kapan pulang?)"
__ADS_1
"Eh, Daddy belum selesai kerja, Sayang. Nanti jika sudah selesai, Daddy langsung pulang menemui Zee. Okay?"
Terlihat Zee mengerucutkan bibir di seberang sana. Dia terlihat tidak suka.
"Ji au bobo teyyon anti, Ted. (Zee mau bobo dikelonin nanti, Dad)" ucap Zee dengan mata berkaca-kaca.
Ken yang melihat hal itu menjadi tidak tega. "Iya, Sayang. Nanti bakal Daddy kelonin Zee kalau bobo."
Zee yang sudah berkaca-kaca tersebut menganggukkan kepala. Bibirnya sudah melengkung ke atas hendak menangis. Terlihat sekali Zee sedang menahan tangisannya. Gitta yang melihat hal itu langsung memeluk sang putra.
"Uuhh, Sayang. Jangan nangis, ya. Nanti jika sudah selesai, Daddy cepet pulang, kok."
Zee mengangguk-anggukkan kepala. Gitta mengambil alih ponselnya dan mengarahkan layarnya pada wajah.
"Sudah makan, Mas?"
"Sudah, Yang. Ini nanti ada pertemuan saat makan malam. Aku ingin menyelesaikan semuanya hari ini, jadi aku bisa segera kembali ke Surabaya."
Gitta menganggukkan kepala. "Iya, Mas. Hati-hati. Jangan terlalu dipaksakan."
"Iya, Yang. Aku mandi dulu, ya."
Gitta mengangguk dan mengarahkan layar ponselnya kepada sang putra. "Zee nggak mau pamitan nih sama Daddy?"
Zee tampak mendongakkan kepala. "Pi yu Ted. Emuuaahh." Zee mendekatkan bibirnya pada layar ponsel dan meninggalkan kecupan basahnya di sana.
"Love you too, Sayang. Emuuahhh." Ken membalas kecupan basah Zee dari seberang sana. Setelah itu, panggilan telepon tersebut terputus.
__ADS_1
\=\=\=\=
Sudah ada jatah vote, kasih vote buat Zee dong 🤧