
Mbak Arin yang memang sudah tahu betapa gesreknya keluarga atasannya tersebut, hanya bisa mendesahkan napas ke udara. "Seperti kamu tidak tahu sifat mertua kamu, Gitt."
Gitta hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Tak berapa lama kemudian, daddy Vanno terlihat keluar dari ruangan mommy Retta. Tentu saja dengan baju yang sudah berganti. Gitta yang melihat hal itu langsung beranjak menuju ruangan mommy Retta.
"Lho, kamu sudah datang, Sayang?" sapa mommy Retta saat melihat Gitta memasuki ruangannya.
"Sudah sejak tadi, Mom." Gitta mengatakannya sambil menahan senyumannya.
Mommy yang menyadari hal itu hanya bisa mendesahkan napas ke udara. "Daddy kamu itu memang ada-ada saja. Mau ke Bandung saja minta 'sangu'."
Gitta terkekeh sebentar sambil menggelengkan kepala. "Hehehe, ternyata Daddy sama saja dengan Mas Ken, Mom."
"Sama plek, persis. Mommy juga heran, mommy yang mengandung selama sembilan bulan dan melahirkan, tapi kenapa sifat Ken mirip sekali dengan Daddynya. Nggak ada yang mirip-mirip sama mommy, nih."
"Hehehe, mungkin gantian bagi-bagi peran, Mom." Gitta kembali terkekeh.
"Cckkk, bagi-bagi peran apa. Bagi-bagi bibit sih mungkin. Mommy hanya bisa berharap semoga Zee tidak mewarisi gen gesrek Geraldy."
Namun, setelah mengatakan hal itu, mommy dan Gitta langsung mendesahkan napas ke udara bersama-sama karena menyadari sesuatu.
"Sepertinya sulit," ucap mommy Retta dan Gitta bersamaan. Mereka sama-sama menyadari jika kemungkinan itu sangat kecil.
Tak berapa lama kemudian, klien mommy Retta sudah datang. Gitta dengan cekatan membantu mommy untuk melayani klien tersebut.
__ADS_1
***
Siang itu, mama Risma, mama kandung Gitta menghubungi jika Zee tertidur di rumahnya. Gitta bersyukur putranya tersebut benar-benar bisa beradaptasi dengan baik.
Tak berapa lama kemudian, Ken juga menghubungi Gitta. Rupanya, meeting hari itu sudah selesai.
"Iya, Mas?" saya Gitta setelah panggilan telepon terhubung.
"Yang, kamu pulang jam berapa?"
"Sore sih, Mas. Ini masih belum selesai. Ada apa?"
"Aku pulang cepat hari ini."
"Enggak. Daddy nggak jadi ke Bandung hari ini."
"Eh, benarkah? Kenapa, Mas? Padahal tadi sudah minta 'sangu' kepada Mommy," ucap Gitta.
"Katanya sekalian saja besok di selesaikan semuanya. Daripada bolak balik. Eh, Daddy minta 'sangu' apa, Yang?"
Gitta mencebikkan bibir. "Cckkk, pura-pura nggak tau kamu, Mas. Daddy dan kamu itu kan sama persis. Sama plek."
Terdengar decakan di seberang sana. "Sepertinya itu hanya akal-akalan Daddy saja Yang, biar dapat sangu double."
__ADS_1
Gitta meresapi perkataan sang suami sebelum menjawabnya. "Berarti kamu juga begitu, Mas? Lain kali, aku harus waspada."
Diseberang sana, Ken memukul-mukul bibirnya yang telah keceplosan.
***
Sore itu, Gitta terlihat keluar dari butik. Dia tengah berjalan menuju mobil, saat sebuah suara memanggil namanya. Seketika Gitta menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah sumber suara. Kening Gitta berkerut saat melihat siapa yang datang.
"Ada apa? Ada urusan apa kamu datang kemari?" tanya Gitta. Ekspresi wajahnya terlihat datar saat menatap ke arah orang tersebut.
"Git, gue minta tolong dong. Tolong carikan pekerjaan buat gue."
"Ccckkk, masih bisa ya lo minta tolong untuk dicarikan pekerjaan. Memangnya kedua orang tua lo kemana? Memangnya harta yang dulu kalian ambil sudah habis?!"
"Ccckkk, lo masih saja mengingat masa lalu. Itu kan sudah berlalu, harusnya lo buang masa lalu dan memulai hidup baru saat ini, bukannya masih di ingat terus," gerutu wanita tersebut.
Gitta mencebikkan bibir setelah mendengar perkataan wanita tersebut.
"Kita memang tidak bisa hidup di masa lalu. Tapi, masa lalu itu ibarat kaca spion kendaraan yang sesekali harus kita lihat agar terhindar dari bahaya saat sedang berkendara. Bagi gue, masa lalu adalah spion yang bisa dijadikan pelajaran untuk perjalanan hidup kedepannya. Dan bagi gue, lo adalah bahaya di kehidupan gue. Untuk itu, gue dan keluarga gue sebisa mungkin menghindari bahaya itu."
\=\=\=
Siapa ini? Ada yang masih ingat?
__ADS_1