Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 242


__ADS_3

Tangan Zee masih sibuk di bawah sana. Kiara bahkan sudah tidak bisa berkonsentrasi dengan apa yang ditanyakan oleh sang suami. Dia hanya bisa memejamkan mata dengan erat dan merintih setiap gerakan tangan Zee mulai nakal di bawah sana.


Setelah jari tangan Zee cukup lama bekerja, akhirnya tanggul Kiara berhasil jebol juga. Kiara ngos-ngosan dengan napas saling memburu. Dadanya naik turun untuk mengatur napasnya yang terasa tersedot habis.


Zee membiarkan Kiara mengatur napasnya sementara dia segera bersiap-siap. Zee menyiapkan perlengkapan tempurnya dan tentu saja medan pertempuran.


Setelah berhasil melepaskan seragam, kini Zee memindahkan tubuh Kiara ke tengah medan pertempuran. Dia sudah mulai bersiap-siap membidik sasaran yang sudah lebih dari satu bulan ini diincarnya.


Apakah Zee akan membiarkan sasarannya terlalu lama? Oh, tentu saja tidak. Dia pun sudah tidak sabar untuk segera melancarkan serangan dan mengeluarkan pasukannya yang sudah mengeram lama di dalam sangkar.


"Kamu sudah siap, Yang?" tanya Zee yang sudah berada di gerbang utama lahan pertempuran.


Kiara menatap sang suami dengan kening berkerut. Tentu saja dia bisa merasakan sesuatu yang besar sudah mulai bergerilya di bawah sana. Sambil mengerucutkan bibir, Kiara menjawab pertanyaan Zee.


"Apa yang kamu tanyakan, Mas? Kamu bertanya tapi senapan kamu sudah kamu selundupkan di medan pertempuran."


Zee hanya bisa nyengir saat melihat ekspresi Kiara. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Zee langsung mulai beraksi.

__ADS_1


"Bilang jika terasa sakit dan terlalu besar, Yang," ucap Zee sambil mulai gerilyanya dengan gerakan sangat pelan, benar-benar pelan.


Kiara hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan memejamkan mata dengan erat sambil meresapi inchi demi inchi senapan akan membuatnya semakin melek melek tersebut mulai menyusup semakin dalam pada lahan pertempurannya.


"Aahhh, ke-kenapa semakin besar, Masss?" Kepala Kiara langsung tersentak saat merasakan tabrakan benda tumpul.


"Uughhh. Dia sudah menahan terlalu lama, Yang. Jadi, pasukannya sudah menumpuk dan berdesakan di dalam sana." 🙄


Kiara hanya bisa merintih manja saat Zee mulai menggoda dengan gerakan pelan-pelan.


Kedua orang yang baru sama-sama berbuka puasa tersebut, masih meresapi sesuatu yang baru kembali bisa dirasakannya setelah sekian lama menunggu.


Zee sengaja memperlambat gerakannya. Dia menunggu reaksi Kiara yang sudah tidak sabar. Zee sangat suka sekali mendengar Kiara merengek dan merintih di bawahnya.


Dan, benar saja. Tak berapa lama kemudian, Kiara sudah merengek sambil bergerak-gerak gelisah. Rupanya, dia sudah tidak sabar lagi menunggu serangan Zee.


"Maassh, ke-kenapa pelan-pelan begini sih? Bukanya jalan tol sudah dibuka lebar oleh Gen." Kiara semakin tidak sabar. Dia tidak canggung lagi bergerak-gerak ke kiri, ke kanan, bahkan ke atas pun dilakukannya. 🤔

__ADS_1


"Masih sempit, Yang." Lagi-lagi Zee masih menggoda Kiara.


"Ce-cepetin, Mas." Kiara sudah merengek tidak sabar.


"Baiklah, siap-siap kalau begitu," ucap Zee. Namun, dia masih bergerak dengan cukup lambat.


Kiara yang sudah sangat geram dengan tingkah sang suami, langsung membuka kedua matanya dan menatap tajam ke arah Zee.


"Mas, kalau mau menumbuk cepetan, ih. Keburu gersang lagi ini. Jika sampai…, aahhhh maassshhh." Belum selesai Kiara berucap, Zee sudah langsung menggempur di bawah sana.


Sontak saja napas Kiara langsung memburu. Dia mulai meracau dan menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan karena tidak menyangka akan menerima serangan Zee yang bertubi-tubi dan semakin cepat tersebut.


"Ma-malam ini, kita lembur ya, Yang?" ucap Zee ditengah-tengah gempurannya.


"Jepluk aku, Mas."


Othor caveks, dua bab isinya buka puasa dan gempur-gempuran. Jangan lupa tinggalkan jejak buat othor ya, jika ramai, jadi semangat up nih.

__ADS_1


__ADS_2