
Seperti dugaan Kiara, Zee benar-benar menanyakan hal-hal aneh kepada dokter Andara. Kiara hanya bisa menundukkan kepala sambil sesekali menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Dia benar-benar malu mendengar pertanyaan Zee.
"Jadi, nggak apa-apa kan Dok jika aktivitas ranjang dilakukan sering-sering?" tanya Zee antusias.
Dokter Andara mengerutkan kening bingung. Dia masih belum mengerti maksud pertanyaan Zee.
"Maksudnya sering itu bagaimana, Mas Zee? Seberapa sering yang dimaksud?"
"Ehm, itu, anu, Dok. Aktivitas itu dilakukan sehari dua sampai tiga kali. Apa tidak apa-apa, Dok?"
Kedua manik dokter Andara langsung membulat saat mendengar ucapan Zee.
"Apa maksudnya dua sampai tiga kali, Mas Zee? Kalian melakukannya sebanyak itu setiap hari?"
"Ehm, i-itu…," Zee menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia benar-benar malu menatap wajah Doktet Andara.
"Astaga, Mas Zee. Kalian ini benar-benar, ya. Sudah seperti minum obat saja sampai tiga kali sehari." Dokter Andara hanya bisa geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Zee hanya bisa tersenyum snyengir sementara Kiara menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia benar-benar merasa malu.
"Tapi kami tidak selalu melakukan tusukan langsung kok, Dok," ucap Zee sambil memberanikan diri menatap wajah dokter Andara.
Lagi-lagi Dokter Andara terkejut mendengar ucapan Zee. "Maksudnya bagaimana, Mas Zee?"
"Ehm, i-itu, Dok. Kami juga sering pakai ini dan ini." Zee menjawab sambil menunjukkan jari dan bibirnya.
Seketika Dokter Andara langsung memijat pangkal hidungnya. Dia benar-benar pusing dengan apa yang Zee ucapkan. Beliau harus bersusah payah untuk menenangkan diri sebelum kembali bersuara. Hingga beberapa saat kemudian, Dokter Andara sudah terlihat tenang.
Dokter Andara menatap Zee dan juga Kiara bergantian sebelum menjelaskan sesuatu.
"Ada beberapa calon ibu yang merasa sangat tidak nyaman saat melakukan hubungan suami istri. Namun, ada juga beberapa wanita yang merasa lebih bersemangat untuk melakukannya saat hamil."
"Saya tidak melarang Mas Zee dan Mbak Kia melakukan hubungan suami istri, tapi alangkah baiknya, Mas Zee juga mempertimbangkan keadaan calon ibu dan juga calon buah hati kalian. Boleh-boleh saja melakukannya. Tapi, usahakan Mas Zee jangan terlalu memaksa Mbak Kia. Saya khawatir Mbak Kia bisa kecapekan, dan akan membahayakan calon buah hati kalian nanti."
Wajah Kiara sudah benar-benar merah saat mendengar penjelasan Dokter Andara. Namun, hal berbeda diperlihatkan oleh Zee. Rupanya, Zee salah fokus penjelasan Dokter Andara.
__ADS_1
"Saya tidak memintanya kok, Dok. Saya juga tidak memaksa Kia untuk melakukannya. Justru Kia yang sering memaksa saya, Dok." Zee mengatakan yang sebenarnya dengan ekspresi tanpa dosa.
Kini, hancur sudah harga diri Kiara. Jika ada lubang menganga di depannya, Kiara akan senang hati untuk menceburkan diri di dalamnya dan mengubur dirinya rapat-rapat. Dia benar-benar sangat malu. Rasa-rasanya, Kiara sudah tidak punya muka lagi untuk bersitatap dengan Dokter Andara.
Lagi-lagi dokter Andara terkejut saat mendengar ucapan Zee. Beliau menoleh dan menatap Kiara yang kini sudah menutupi wajahnya kembali dengan kedua telapak tangan.
Dokter Andara tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Kalau itu, sepertinya bawaan bayi, Mas Zee. Kamu harus lebih banyak bersabar menghadapinya," ucap Dokter Andara.
"Saya sangat-sangat sabar kok, Dok. Bahkan, saya dengan sukarela akan melakukannya, pasrah," jawab Zee dengan sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
Kiara mencubit paha Zee sambil menoleh ke arahnya.
"Apanya yang sukarela dan pasrah? Mana ada pasrah tapi paling keras desahannyyaa."
"Hhaa?"
Jika kalian jadi Dokter Andara, apa yang akan kalian lakukan?
__ADS_1
Cuss tulis di kolom komentar, 🤭
Jangan lupa tinggalkan jejak buat Zee ya, kasih like, komen dan vote juga. Biar dia semangat empat lima ngadepin Kiara yang sedang ngidam. 😂😂