Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 275 - Mengunjungi Kota Kelahiran


__ADS_3

Begitu melihat sumber nutrisinya, Gen langsung beranjak dari perut Zee. Dia merangkak mendekati Kiara yang sudah duduk di posisinya.


"Mimim mimim, hik hik. Mimim." Gen langsung bersemangat saat mendekati sumber nutrisi tersebut.


Hap. Nyem nyem nyem nyem.


Dengan sangat rakus, Gen langsung meraup sumber nutrisinya tersebut dan menyedotnya dengan kencang seolah takut akan direbut sang daddy. Tentu saja hal itu membuat Kiara langsung mengusap kepala sang putra.


"Pelan-pelan, Sayang. Nanti keselek, lho. Ini yang bagus kakinya, jangan naik-naik begini," ucap Kiara sambil membenahi kaki Gen yang sudah mulai beraksi.


Gen yang sebenarnya sudah cukup mengantuk, hanya bisa menuruti ucapan sang mommy. Lambat laun, kedua bola mata Gen menutup dengan pelan. Hingga tak sampai dua puluh menit kemudian, Gen sudah terlelap.


Kiara segera membenahi posisi tidur Gen agar putranya tersebut tidur dengan nyaman. Kiara segera beranjak untuk mencari keberadaan Zee. Zee sudah meninggalkan kamar sejak Gen mulai asyik dengan sumber nutrisinya.


Kiara berjalan menuju teras samping saat mengetahui suaminya berada di sana dari asisten rumah tangga.


"Mas?" sapa Kiara saat Zee sedang memainkan ponselnya.


"Eh, Yang? Gen sudah tidur?"


Kiara berjalan mendekat dan mendudukkan diri di samping sang suami.

__ADS_1


"Sudah," jawab Kiara sambil ikut menatap ponsel Zee. "Lagi sibuk?" Lanjutnya.


"Enggak, Yang. Ini membalas pesan El." Zee menunjukkan layar ponselnya ke arah Kiara. Ya, Zee dan Kiara memang sudah terbiasa terbuka dengan ponsel masing-masing.


"Eh, Kak El? Ada apa? Kamu gangguin pengantin baru itu, Mas?" Kiara menatap Zee dengan tatapan menyelidik.


"Enggak, Yang. Mana ada yang seperti itu." Zee mencebikkan bibirnya sambil menarik pinggang Kiara agar menempel di tubuhnya.


"Ya kali kamu godain mereka, Mas. Kamu kan usil."


Zee mengerucutkan bibirnya. Dia tidak terima dengan ucapan sang istri.


"Mana ada aku usil, Yang. Aku usil juga hanya kepada kamu doang, ih," ucap Zee sambil langsung mellumat bibir Kiara.


Ketika mereka sedang 'beradu mulut', terdengar suara Gen menangis dari dalam kamar. Kiara buru-buru melepaskan cengkraman Zee dengan mendorongnya menjauh.


"Gen nangis, Mas." Kiara buru-buru beranjak berdiri.


Zee yang melihat hal itu, hanya bisa mendesahkan napas beratnya. "Kenapa Gen selalu punya cara untuk menggagalkan usahaku, sih. Siapa yang ngajarin itu anak?" Zee menggerutu kesal.


Setelah itu, Zee langsung beranjak berdiri. Dia mengikuti Kiara untuk beristirahat. Ya, meskipun jarum jam masih menunjukkan angka 21.15, namun Zee memutuskan untuk beristirahat. Mereka akan berangkat ke kota M pagi-pagi sekali.

__ADS_1


Keesokan pagi, Zee dan Kiara sudah bersiap sejak setelah subuh. Mereka berencana akan langsung kembali hari itu juga. Kiara melarang Zee menyetir sendiri. Hal itu dilakukan karena Gen masih terlalu kecil. Gen biasa merengek minta gendong atau pangku sang daddy jika sedang rewel. Oleh karena itu, mereka memutuskan meminta bantuan Pak Agus untuk mengantarkan mereka.


Sempat beberapa kali berhenti untuk beristirahat, mobil yang ditumpangi Zee dan juga Kiara tiba di rumah lama Kiara menjelang siang. Rumah yang dulu sangat sederhana, kini sudah terlihat cukup rapi dan tertata. Zee memang merenovasi rumah tersebut agar tidak rusak. Rumah itu merupakan rumah satu-satunya yang menjadi peninggalan orang tua Kiara.


Baru saja Kiara dan Zee turun dari mobil, terdengar sebuah suara dari arah samping rumah.


"Kiara?!"


Sontak saja Kiara langsung menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Sebuah senyuman langsung terbit di wajahnya. Kiara buru-buru berjalan menghampiri seorang wanita paruh baya tersebut.


"Bu, aku kangen." Kiara langsung memeluk wanita tersebut.


"Sama. Kamu bagaimana kabarnya? Sehat?"


"Alhamdulilah sehat, Bu. Bu Marni dan Pak Warto bagaimana kabarnya?"


"Alhamdulillah kami sehat. Bapak sedang panen ketela di 'tegalan' bawah itu." Bu Marni menunjuk ke arah ladangnya.


Kiara hanya bisa mengangguk sambil masih mengulas senyumannya. Hingga beberapa saat kemudian, Bu Marni melihat sosok Zee yang tengah menggendong Gen.


"Astaga, Kia. Itu putramu? Mirip sekali wajahnya dengan Mas Zee." Wajah Bu Marni tampak berbinar bahagia sambil berjalan mendekat ke arah Zee.

__ADS_1


"Bagaimana tidak mirip, Bu. Saya siram dan pupuk setiap hari saat masih di dalam kandungan. Hehehe."


"Eh, pu-pupuk?"


__ADS_2