
Malam itu, Ken, Gitta dan juga Zee pulang ke rumah orang tuanya yang berada di Singapura setelah hampir seharian berada di rumah sakit. Daddy Vanno juga sudah berada di Singapura hari itu.
"Bagaimana keadaan Khanza, Ken?" tanya mommy Retta sesaat setelah melihat sang putra berjalan memasuki rumah.
"Masih sama, Mom. Tapi, tadi dia sudah bisa merespon dengan gerakan jarinya. Bahkan, tadi saat Gitta dan Zee masuk, Khanza sempat meneteskan air mata," jawab Ken.
Seketika mommy Retta menangis. Gitta yang saat itu sedang menggendong Zee pun berjalan mendekat ke arah sang mertua.
"Jangan menangis, Mom. Kita berdoa semoga kondisi Khanza semakin membaik dan bisa segera sadar." Gitta mengusap-usap lengan mommy Retta.
Zee yang saat itu tengah berada di dalam gendongan Gitta, langsung mengulurkan tangan ke arah sang nenek. Mommy Retta segera meraup Zee ke dalam gendongannya sambil masih berurai air mata.
"Mama, angan angis." Zee melingkarkan kedua lengannya pada leher mommy Retta.
"Iya, Sayang. Mama tidak akan menangis lagi," jawab mommy Retta sambil menciumi pipi gembul sang cucu.
Setelah itu, mereka segera membersihkan diri. Rencananya, Ken, Gitta dan Zee akan berada di Singapura selama dua hari. Hal yang sama juga dilakukan oleh daddy Vanno.
__ADS_1
Selama Khanza di rawat di Singapura, mommy Retta bahkan tidak mau pulang ke Indonesia. Dia dan Al bergantian menjaga Khanza di rumah sakit. Mau tidak mau, daddy Vanno yang harus bolak balik Jakarta dan Singapura setiap dua atau tiga hari sekali. Bahkan, beberapa kali daddy Vanno sempat bolak balik Jakarta dan Singapura setiap hari.
Sementara di rumah sakit, Al terlihat baru saja kembali dari kamarnya yang berada di rumah sakit tersebut. Saat ini, tubuhnya benar-benar kurus. Kantong matanya juga sudah terlihat sangat jelas karena kurang istirahat. Bahkan, kumis dan bulu-bulu halus di wajahnya pun terlihat tidak diperhatikan. Ken sampai harus mengingatkannya beberapa kali baru Al bergegas membersihkannya.
Seperti biasa, Al segera berjalan menuju kamar perawatan Khanza. Dia sudah membersihkan diri dan juga sudah mencukur bulu-bulu yang ada di wajahnya. Al segera menggeser kursi dan mendekat ke arah Khanza. Seperti biasa, Al pasti akan menceritakan semua aktivitasnya kepada Khanza.
"Yang, tahu nggak. Tadi siang kakak kamu itu nyebelin banget. Masa iya dia ngomelin aku gara-gara aku numbuhin kumis dan jenggot. Dan apa kamu tahu jawaban Ken saat aku tanya mengapa nggak boleh numbuhin kumis dan jenggot? Katanya itu membuat geli."
"Ken bilang, Gitta akan ngomel-ngomel jika Ken numbuhin jenggot atau kumis. Geli dan sakit terkena rambut-rambut halus itu. Memang benar seperti itu, Yang?"
Seperti biasa, Al masih terus mengajak Khanza berbicara. Dia tidak peduli Khanza akan memberikan respon atau tidak dengan apa yang diucapkannya. Bagi Al, dia hanya ingin Khanza tidak merasa sendiri. Al ingin Khanza bisa merasakan kehadirannya dan keluarganya yang lain.
Malam itu, Al menceritakan banyak hal tentang Zee. "Yang, kamu tahu nggak, tadi siang Zee nanyain kamu terus. Dia nanya begini. 'Uncle, kenapa aunty Za tidur terus? Kenapa nggak dibangunin? Zee kangen. Daddy yang biasanya tidak mau bangun pagi, dicium-cium sama mommy jadi bangun.' Benar-benar buat geram deh itu si Ken dan Gitta. Masa iya mereka bertingkah aneh-aneh di depan Zee. Masa iya Ken bisa langsung bangun setelah Gitta menciumnya." Al terdengar menghembuskan napas beratnya.
Al masih menatap wajah Khanza lekat-lekat. "Yang, atau mungkin aku coba saja cara Gitta, ya. Sini deh, aku cium dulu. Siapa tahu tahu kamu juga bisa bangun seperti Ken. Hehehe," Al masih bercanda seperti biasa.
Dia mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Khanza. Setelah itu, Al langsung memberikan banyak sekali kecupan pada wajah sang istri. Dia menyalurkan rasa sayang sekaligus rindu pada istrinya tersebut. Hingga, Al tidak menyadari air matanya jatuh menetesi pada wajah Khanza.
__ADS_1
Setelah cukup lama bercerita, Al tidak sadar dia langsung tertidur di samping Khanza. Rasa lelah tubuhnya benar-benar sudah tidak bisa ditawar lagi. Al langsung terlelap.
Menjelang pukul dua dini hari, terlihat gerakan pada kelopak mata Khanza. Jari-jari tangannya juga bisa digerakkan dengan sedikit lebih kuat. Beberapa saat kemudian, kedua mata Khanza benar-benar terbuka. Cukup lama dia berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada di sekitarnya. Hingga secara tak sengaja, jari tangannya menyentuh rambut Al yang sudah memanjang.
Khanza menoleh sedikit ke arah samping brankar. Khanza melihat wajah itu. Wajah suaminya yang sangat dirindukan. Terlihat Al sedang tertelungkup di sana dengan kepala beralaskan tangannya.
Khanza berusaha menggerakkan tangannya untuk menyentuh wajah Al. Hingga, dia berhasil menyentuh pipi sang suami.
Al yang merasakan ada sesuatu yang menyentuh wajahnya, langsung menggeliat. Dia membuka kedua matanya pelan-pelan untuk memastikan apa yang telah menyentuh pipinya tersebut. Hingga kedua bola matanya bertatapan dengan mata Khanza yang juga menatapnya dengan penuh rasa rindu.
"Ma-mas,"
\=\=\=
Dijawab apa kira-kira? 🤭
Khanza sudah sadar ya, bagi yang tanya kapan Zee besar, sabar dulu. Beberapa part lagi akan diceritakan Zee dewasa. Mungkin bagi yang sudah tidak sabar, bisa di skip saja sampai Zee dewasa. See you aunty dan uncle online Zee.
__ADS_1
Nih, Zee kasih tecup tecup basah duyu