Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 139


__ADS_3

Klontang.


Kiara yang saat itu sedang memegang tempat buah langsung terjatuh saat mendengar pertanyaan El. Zee dan El yang mendengar hal itu langsung menoleh ke arah sumber suara.


Kiara benar-benar salah tingkah saat mendapati suami dan sahabatnya itu menatap ke arahnya.


"Eh, ma-maaf." Kiara kikuk sambil mengambil tempat buah yang sempat terjatuh.


Zee yang melihat hal itu langsung beranjak berdiri untuk menghampiri sang istri.


"Kenapa bisa jatuh begini, hhmm?"


"Ma-maaf, Mas. Tanganku licin tadi."


"Tangan kamu licin atau kamu memang sedang membayangkan apa yang aku katakan?"


"Eh, a-apa maksudnya itu?" Kiara semakin malu saat sang suami menatapnya dengan tatapan menggoda.


Setelah itu, Zee menarik lengan Kiara dan mengajaknya untuk menemui El.


"Sudah, bereskan saja nanti. Aku kenalkan kepada sahabatku dulu."


Kiara hanya bisa mengangguk sambil mengikuti langkah sang suami menuju ruang tengah untuk menemui El. Tatapan mata El masih membulat saat melihat tangan Zee menggenggam erat tangan Kiara, hingga mereka kembali duduk. Hal itu tentu saja membuat Kiara semakin merasa kikuk.


"Kalian sudah benar-benar dekat, ya?" tanya El.


"Tentu saja kami sudah dekat. Bukan hanya dekat saja, tapi kami bahkan sudah berbagi semuanya," Zee menjawab dengan bangganya. Dia bahkan langsung menarik tubuh Kiara hingga menempel pada tubuhnya. Tak tanggung-tanggung, Zee bahkan langsung mendaratkan kecupan bertubi-tubi pada pucuk kepala sang istri.


Sontak saja hal itu membuat Kiara semakin malu. Berbeda dengan El. Laki-laki itu bahkan langsung membuka mulutnya dengan lebar.

__ADS_1


"Ka-kalian nggak malu?" tanya El terbata-bata.


Zee langsung menoleh ke arah El. "Ngapain malu? Gue kan nempel pada istri gue sendiri. Jika gue nempel pada istri orang lain, itu baru malu," jawab Zee sambil mendengus kesal.


"Cckkk, malu sama gue, Zee. Lo nggak malu apa mepet-mepet begitu? Mana kecup-kecup lagi, cih." El tak kalah kesalnya. Dia merasa matanya ternodai dengan tingkah sahabatnya tersebut. Padahal, di rumah dia juga sudah sering disuguhi hal-hal absurd dari orang tuanya.


"Ngapain gue mesti malu sama lo?" Zee masih bertingkah seenaknya. Kiara yang mendengar hal itu menepuk paha Zee dengan pelan. Setelah itu, doa sedikit menggeser tubuhnya.


"Nggak usah aneh-aneh deh, Mas. Malu ada temannya." Kiara berkata lirih.


Zee hanya mencebikkan bibir. "Iya, iya. Sekarang saja malu. Biasanya juga langsung pasrah jika di dalam kamar."


Wajah Kiara langsung memerah hingga telinganya. Dia tidak menyangka jika sang suami mengatakan hal seperti itu.


"Memangnya pasrah kenapa?" El bertanya dengan polosnya.


Lagi-lagi El kembali melongo. "Emangnya Kia ngapain lo, Zee?"


"Biasanya dia, eehmmmm…," belum sempat Zee menyelesaikan perkataannya, Kiara sudah menutup mulut sang suami dengan tangannya. Mau tidak mau, Zee menghentikan perkataannya.


Setelah itu, obrolan kembali dilakukan. Zee dan El mengobrol banyak hal hingga menjelang sore. El baru beranjak pulang saat mommynya meminta tolong untuk menjemput sang Oma.


Malam itu, Kiara sedang membereskan meja makan. Zee masih menunggunya di sofa ruang keluarga sambil mengerjakan tugas kuliah. Tak berapa lama kemudian, Kiara sudah selesai. Dia membawakan segelas jus jeruk untuk sang suami.


"Minumnya, Mas." Kiara meletakkan segelas jus jeruk di meja.


"Terima kasih, Yang."


Blush. Entah mengapa Kiara merasa malu saat sang suami memanggilnya seperti itu. Padahal, setiap kali mereka bergulat, Zee selalu memanggil Kiara dengan panggilan seperti itu. Zee menoleh ke arah sang istri. Dia tahu jika Kiara sedang tersipu malu.

__ADS_1


"Kenapa masih belum terbiasa dengan panggilan ini? Kamu nggak suka?" tanya Zee.


Kiara menggelengkan kepalanya. "Ti-tidak, Mas."


Kening Zee berkerut. "Tidak apa? Tidak suka dengan panggilan itu, atau tidak karena menjawab pertanyaanku tadi?"


"Tidak karena pertanyaan Mas Zee."


"Jadi, kamu suka?"


Kiara menganggukkan kepala sambil menunduk.


"Suka apa?" Zee masih mengejar Kiara dengan pertanyaan absurdnya.


"Su-suka yang itu tadi."


"Yang mana?"


Wajah Kiara semakin merah karena pertanyaan Zee.


"Ehm, i-itu tadi. Sa-sayang,"


"Iya, Sayang. Mau apa? Mau peluk atau mau tusuk?"


\=\=\=\=


Jika kalian di dekat Zee, mau di apain kira-kira si Geraldy itu? 


__ADS_1


__ADS_2