Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 240


__ADS_3

Tak terasa acara wisuda Zee sudah selesai. Zee juga sudah berfoto dengan beberapa teman kampus yang satu angkatan dengannya. Tak terkecuali El. Hari itu, El juga mengikuti acara wisuda. Beberapa hari lagi, dia akan bertolak ke Amerika untuk melanjutkan kuliahnya.


Revina juga sempat datang dan mengucapkan selamat kepada Zee dan juga El. Dia belum wisuda karena masih berada satu tingkat di bawah Zee dan El.


"Jadi lanjut kuliah di US, El?" tanya Ken setelah sesi foto putra dan sahabatnya itu selesai.


"Jadi, Om. Beberapa hari lagi berangkat."


"Daddy dan Mommy kamu, okay?"


"Iya, Om. Mereka kasih izin, kok."


"Syukurlah. Mereka cukup bagus dalam mendukung pendidikan putranya," ucap Ken tanpa menyadari bahaya akan menimpanya.


"Apa kamu bilang, Mas? Jadi, menurut kamu aku kurang mendukung pendidikan Zee, begitu? Menurut kamu, aku menghambat pendidikan Zee yang mau melanjutkan kuliah di luar negeri, begitu?" Gitta langsung berapi-api sambil menatap wajah sang suami dengan tatapan tajamnya.


Glek glek glek. 


Siaalan! Aku keceplosan bicara, batin Ken.


Sukurin, Dad. Siap-siap puasa beberapa hari nih. Temani aku puasa, hahaha. Batin Zee sambil menahan senyumannya.

__ADS_1


"Eh, Yang, bu-bukan begitu maksudku tadi." Ken buru-buru berbalik dan menghampiri sang istri.


"Lalu, seperti apa maksud kamu, Mas?" Gitta masih menatap tajam Ken.


"Ya, kamu sudah mendukung pendidikan Zee dengan baik, Yang. Kamu juga bahkan memberikan dukungan juga untukku melanjutkan kuliah, kan?"


"Tau, lupa." Gitta langsung berjalan meninggalkan Ken dan orang-orang yang masih berada di sana.


Ken yang melihat hal itu langsung bergegas mengejar sang istri. Mereka bahkan melupakan Zee dan Kiara yang tengah menggendong Gen.


"Orang tua lo masih saja suka ribut absurd ya, Zee," ucap El saat melihat kepergian Gitta dan Ken.


Kiara yang mendengar ucapan sang suami langsung menoleh. "Memangnya kamu nggak gitu ya, Mas? Nggak takut jika nggak kebagian 'jatah'?"


Sontak saja Zee menoleh ke arah Kiara. Kepalanya langsung menggeleng dengan cepat dengan ekspresi memelas.


"Yaahh, kalau itu jangan ditanyakan, Yang. Harga pas itu, nggak bisa ditawar lagi."


El yang mendengar ucapan Zee hanya bisa mengelus dada. Dia hanya bisa berdoa semoga bisa terhindar dari sifat bucin seperti Zee dan orang tuanya. Eh, di amini nggak sih ini?


Malam hari, Gitta mengajak Gen tidur di kamarnya karena kekesalannya terhadap Ken sejak tadi siang. Ken benar-benar merutuki kelemesan mulutnya yang tidak bisa di saring.

__ADS_1


"Makanya, Dad. Jangan suka lemes kalau ngomong. Jika Mommy sudah ngamuk seperti itu, apa yang bisa Daddy lakukan? Mau bujuk Mommy? Emang bisa bagaimana caranya coba?" Zee masih sempat-sempatnya meledek sang daddy.


"Cckkk. Mommy kamu itu memang unik. Dia nggak bakalan mempan dibujuk dengan barang-barang mewah."


"Tentu saja. Coba bujuk Mommy dengan membelikan tas, sepatu, atau baju branded. Pasti Mommy akan bilang, aku nggak mau. Jika aku mau, aku bisa beli pabriknya. Hahahaha." Zee langsung tergelak begitu mengingat ucapan mommynya setiap Ken menawarkannya sesuatu.


Ken hanya bisa mendengus kesal mendengar ucapan sang putra yang memang benar adanya. Setelah cukup mengobrol, kedua laki-laki tersebut segera kembali menuju kamar masing-masing.


Begitu Zee membuka pintu kamarnya, terlihat Kiara sudah menunggu Zee sambil duduk di tepi tempat tidur. Tatapan matanya berbeda dari sebelum-sebelumnya.


Zee mengerutkan kening sambil menutup dan mengunci pintu kamarnya tersebut. Sambil berjalan menghampiri sang istri, Zee masih menatap Kiara dengan ekspresi bingung.


"Ada apa, Yang?" tanya Zee.


"Malam ini, mau buka puasa, nggak?"


"Hhaa?"


\=\=\=


Waahh kira-kira dijawab apa ya sama Zee? 🤭

__ADS_1


__ADS_2