Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 92


__ADS_3

Mendengar perkataan Zee, wajah Danu tampak memucat. Ya, dia sadar jika sebenarnya apa yang dilakukannya itu adalah sebuah kesalahan.


Kesepakatan jual beli tanah itu sudah dilakukan sejak dua bulan yang lalu. Bahkan, pembayarannya pun juga sudah diberikan sebesar lima puluh persen. Sertifikat tanah dan semua surat-surat yang dibutuhkan, juga sudah dipegang oleh pemerintah desa. 


Entah apa yang membuat keempat warga tersebut berniat untuk menghalangi proyek Zee. Padahal, semua perlengkapan pembangunan resort tersebut sudah hampir selesai. Bahkan, bahan materialnya pun sudah didatangkan.


"Jika Pak Danu dan saudara yang lainnya mau meminta tambahan harga, mohon maaf kami tidak bisa. Kesepakatan sudah kita bicarakan di awal. Kita juga berdiskusi selama berminggu-minggu tentang harga ini. Jika Anda ingin meminta tambahan harga, itu sudah diluar kesepakatan kita," ucap Zee dengan ekspresi datarnya. 


Danu tampak bingung. Wajahnya mendadak pucat. Belum sempat Danu menanggapi perkataan Zee, terlihat dua orang laki-laki datang. Kedua laki-laki tersebut lebih muda dari Danu. Mungkin, seusia Ken. Zee menatap kedua orang yang baru datang tersebut dengan tatapan datar.


Laki-laki yang memakai celana pendek, langsung duduk berhadapan dengan Zee. Sementara laki-laki yang satunya berdiri di belakang Danu. Tatapan matanya langsung menghunus tajam ke arah Zee. Namun, hal itu tidak membuat Zee bergeming.


"Jadi ini pemilik proyek tersebut?" ucap laki-laki bercelana pendek tersebut. "Masih muda rupanya."


"Iya. Saya yang bertanggung jawab pada proyek ini." Zee balas menatap ke arah laki-laki tersebut.

__ADS_1


"Baguslah jika pimpinannya langsung yang datang kesini. Langsung saja, seperti yang kamu tau, lahan kami paling luas dari lahan yang lainnya. Lokasi lahan kami juga berada di dekat jalan utama. Oleh karena itu, kami berempat menginginkan tambahan harga untuk lahan-lahan kami," ucap laki-laki tersebut.


Laki-laki tersebut tampak yakin jika Zee akan mengabulkan apa yang diinginkannya. Pak Iskandar menoleh dan menatap Zee. Dia sudah ketar-ketir mendengar perkataan laki-laki tersebut. Pak Iskandar khawatir jika Zee akan langsung marah, mengingat dia masih sangat muda. Biasanya, anak muda cenderung masih sulit mengontrol emosinya. 


Selain itu, Pak Iskandar cukup mengenal papa dan daddynya Zee. Mereka bukan orang yang bisa diajak main-main. Pak Iskandar hanya bisa memperhatikan Zee. Dia sendiri takut salah bicara.


"Saya tidak akan mau membayar harga diluar kesepakatan." Zee berkata sambil masih menatap ke arah tiga laki-laki yang ada di depannya tersebut.


Laki-laki bercelana pendek tersebut tampak meradang. Dia menatap sengit kepada Zee.


"Tentu saja. Kesepakatan kita ada hitam diatas putih. Kenapa aku harus menuruti keinginan kalian?" 


Kali ini, laki-laki yang masih berdiri yang bersuara. "Jika kamu tidak mau menuruti keinginan kami? Kamu pasti akan menyesal setelah ini," ucapnya.


Zee mencebikkan bibirnya sambil mengangguk-anggukkan kepala. Tentu saja dia sudah punya rencana lain. Bagi Zee, kehilangan tanah mereka berempat tidak terlalu berakibat besar. Memang benar lahan mereka lumayan luas. Namun, letak lahan mereka berada pada bagian paling ujung bagian barat. Zee bisa melebarkan wilayah tersebut di bagian selatan.

__ADS_1


"Kami tidak khawatir untuk masalah itu, Bapak-bapak. Sekali lagi kami tegaskan bahwa kami tidak akan membayar lebih dari kesepakatan. Jika kalian ingin menuntut tambahan biaya, lebih baik kesepakatan kita gagal. Dan, kalian harus mengganti uang yang sudah kami kirimkan. Tentu saja, ada tambahan pelanggaran kerjasama pastinya."


Tanpa menunggu respon dari mereka bertiga, Zee segera beranjak berdiri. "Baiklah, kami permisi dulu. Pengacara kami yang akan mengurus pembatalan kesepakatan. Permisi."


Zee segera beranjak keluar rumah dengan diikuti oleh pak Iskandar. Sementara ketiga laki-laki yang ditinggalkan Zee tersebut tampak bingung. Mereka tidak menyangka jika Zee berani kehilangan tanah tersebut.


"Bagaimana ini? Jika harus mengembalikan uang itu, aku tidak mungkin sanggup. Apalagi jika harus ada dendanya. Uang itu sudah aku belikan mobil dan motor baru." Danu kelihatan panik.


"Sama. Aku juga sudah membelikan ponsel mahal yang seharga motor baru untuk anakku." Laki-laki yang bercelana pendek ikut menimpali.


"Kita harus ke rumah Pak Yono. Dia kan mantan lurah. Seharusnya, dia bisa memberi kita solusi. Dia juga kan yang menganjurkan kita meminta tambahan uang," ucap laki-laki satunya.


\=\=\=


Hehehehe, jodoh Zee masih ngumpet di bawah pohon tauge. Bagi yang tidak sabar, bisa di skip.

__ADS_1


__ADS_2