Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 187


__ADS_3

"Tenang, kita akan mencari cara agar kita bisa mengeruk keuntungan dari suami Kiara itu," ucap sang ibu.


Ferdi tampak mengangguk-anggukkan kepala setuju. Mereka tidak mengetahui sedang berhadapan dengan siapa.


Sementara di rumah, Kiara masih menggerutu kepada sang suami. Dia memprotes saat Zee memberikan uang dua ratus juta kepada Narti dan Ferdi. Menurut Kiara, uang itu terlalu banyak. Kiara khawatir jika Narti dan Ferdi akan memanfaatkan Zee dan keluarganya.


"Mas, kenapa kasih uang sebanyak itu kepada mereka? Itu terlalu banyak, Mas. Aku nggak mau jika mereka punya alasan untuk memeras kamu nantinya," Kiara masih menggerutu setelah selesai membersihkan diri.


Zee yang saat itu tengah duduk di tepi tempat tidur pun langsung mengulurkan tangannya ke arah Kiara.


"Apa yang kamu khawatirkan, Yang?" Zee memeluk Kiara yang masih berdiri di depannya sambil uyel-uyel perut buncitnya.


"Kamu terlalu baik memberi mereka uang, Mas. Kamu tidak khawatir jika nanti mereka semakin berani datang kemari dan akan meminta tambahan uang lagi?" Kiara mengusap surai hitam Zee dengan lembut.


Zee melepaskan wajahnya dari perut buncit Kiara. Dia mendongak untuk menatap wajah sang istri sambil menyunggingkan senyuman.


"Apa kamu tau, Yang, sebenarnya aku sudah mengetahui rencana kedatangan ibu dan kakak tiri kamu ke Jakarta."


Kiara cukup terkejut saat mendengar ucapan Zee. Kedua bola matanya membulat saat mendengar informasi yang baru saja Zee sampaikan.


"Serius, Mas? Kok bisa tau? Bagaimana bisa?"

__ADS_1


Zee menarik tubuh Kiara agar duduk di sampingnya. Kiara menurut dan langsung duduk. Dia begitu penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh sang suami.


"Sebenarnya, Daddy menempatkan beberapa orang suruhannya untuk mengawasi gerak gerik Ferdi dan ibunya. Daddy berpikir, jika suatu saat mereka bisa saja datang menemui kita, dengan dalih keluarga."


"Dan, ternyata apa yang daddy katakan memang benar terjadi. Dua hari yang lalu, orang suruhan Daddy memberi kabar jika Ferdi dan ibunya berangkat ke Jakarta. Sudah bisa dipastikan, mereka akan datang ke rumah kita."


"Daddy menyiapkan beberapa orang suruhannya untuk mengawasi kedatangan Ferdi dan ibunya. Hingga mereka bisa mengetahui rencana apa yang akan dilakukan mereka. Bukan suatu hal yang sulit untuk memasang penyadap pada mobil dan ponsel mereka," jelas Zee.


Kiara cukup terkejut saat mendengar penjelasan Zee. Namun, dia yang sudah mulai mengetahui siapa Geraldy, tidak terlalu kaget mendengar hal itu.


"Lalu, kenapa kamu memberikan uang sebanyak itu, Mas? Apa tidak apa-apa nanti?"


Zee tersenyum sambil mengusap pipi Kiara sebelum mengecupnya beberapa kali. "Anggap saja itu sebagai upah karena pernah memberikan tempat tinggal untuk kamu, Yang."


"Jangan terlalu dipikirkan, Yang. Mereka tidak akan berani berbuat aneh-aneh kepadamu. Kita akan segera mengetahui rencana mereka."


"Tapi, aku khawatir jika mereka berbuat nekat, Mas." Kiara mengeratkan pelukannya kepada Zee.


Mendengar jawaban sang istri, Zee tersenyum semakin lebar. Dia bisa merasakan perasaan Kiara semakin besar terhadapnya.


"Kenapa? Kamu mengkhawatirkanku, Yang?" tanya Zee sambil mengusap punggung Kiara.

__ADS_1


Terdengar hembusan napas kesal dari Kiara. "Tentu saja aku mengkhawatirkan kamu, Mas. Aku nggak mau terjadi apa-apa terhadap kamu."


"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Yang. Jika mereka datang lagi kemari dan berbuat ulah, kamu tinggal menuntut balik atas tanah yang telah mereka jual tersebut. Aku punya buktinya jika mereka menjual tanah tanpa izin pemilik resminya. Dua lahan warisan ayah kamu dijual mereka tanpa izin kamu, kan?"


Kiara mengangguk-anggukkan kepala. "Iya, Mas. Aku baru tau saat tanah-tanah itu berganti sertifikat."


"Dan, lahan yang dibeli perusahaan Daddy kemarin, itu yang ketiga?"


Kiara mengangguk sebagai jawaban. Zee menghela napas dalam-dalam. Dia sudah mendengar penjelasan itu dari orang suruhan daddynya.


"Kamu tenang saja. Aku akan mengurus mereka. Sekarang, yang harus kamu pikirkan adalah calon buah hati kita. Jaga pola makan dan perhatikan asupan gizi seperti apa yang disampaikan oleh Dokter Andara."


"Iya, Mas."


"Jangan sampai telat minum vitamin, Yang. Oh iya, aku lupa tadi menanyakan apa ada vitamin untuk membesarkan si junior, ya?" Zee menerawang.


Pukk. Kiara memukul paha sang suami dengan kesal sambil melepaskan pelukannya.


"Kamu ingin memperbesar junior siapa, Mas? Junior kamu apa junior calon anak kamu?"


\=\=\=

__ADS_1


Junior siapa?


__ADS_2