
Kiara yang sempat menangis dalam dekapan Zee, langsung melepaskan pelukannya saat mendengar pertanyaan aneh dari sang suami. Dengan mata yang masih sembab karena menangis, Kiara melepaskan pelukan sambil mengerucutkan bibir.
"Apaan sih, Mas? Mana ada yang seperti itu?" Kiara tampak merajuk.
Zee yang melihat tingkah sang istri, menjadi semakin gemas. Dia langsung menghujami pipi Kiara dengan beberapa kecupan. Bi Ani yang melihat tingkah pasangan muda tersebut, langsung pamit undur diri. Dia merasa malu sendiri jika masih berada di sana.
Kiara mendorong tubuh Zee setelah sang suami tak berhenti uyel-uyel pipinya. Kini, bahkan tangan Zee mulai menjalar kesana kemari. Dia benar-benar tidak menyadari saat itu masih berada di luar rumah.
"Apaan sih ini, Mas? Masih di luar rumah juga, ih," protes Kiara.
Seketika Zee menghentikan aktivitasnya. "Baiklah kalau begitu, ayo masuk dulu. Kita lanjut di dalam kamar," ucap Zee sambil menarik lembut tangan sang istri.
Kiara hanya bisa pasrah saat tangannya ditarik oleh Zee. Dia mengekori langkah kaki Zee menuju kamar. Setelah itu, Kiara membantu Zee menyiapkan baju ganti sementara Zee tengah membersihkan diri.
Tak berapa lama kemudian, Zee sudah terlihat keluar dari kamar mandi. Dia segera mengambil baju ganti yang sudah disiapkan oleh Kiara. Zee mengedarkan pandangannya ke seisi kamar, namun tidak menemukan keberadaan sang istri.
Dia segera menyambar ponselnya yang tergeletak di atas nakas, dan berjalan keluar kamar. Zee berniat mencari keberadaan sang istri saat ponselnya berbunyi. Terlihat nama sang daddy di layar ponsel tersebut. Zee segera menyambungkan panggilan telepon sang daddy.
"Hallo, Dad?"
"Hallo, Zee. Daddy sudah dengar apa yang terjadi tadi siang. Bagus, Daddy bangga kepadamu, Boy. Kamu sudah menawarkan opsi terbaik kepada Pak Chandra."
"Hanya itu yang bisa aku lakukan, Dad."
"Daddy tau itu. Daddy juga sebenarnya tidak begitu tertarik menerima putrinya itu di kantor. Tapi, kita tidak mungkin menolaknya secara langsung, kan?"
__ADS_1
"Iya. Daddy benar."
"Jadi, kapan kamu Ke Surabaya?"
"Besok, Dad. Aku sudah koordinasi dengan Om Radit."
"Bagus. Semakin cepat kamu ke sana, semakin baik. Biar semua masalahnya segera clear. Kalau bisa, segera selesaikan yang di Kota M. Kalau perlu, kamu langsung kesana."
"Iya, Dad. Aku juga berencana akan langsung kesana."
"Kamu ajak Kia?"
"Tidak, Dad. Aku khawatir dengan kondisi kandungannya."
"Memangnya dia mau kamu tinggal?" tanya Ken di seberang sana.
Terdengar helaan napas di seberang sana. Entah Zee sadar atau tidak. Saat ini, Kiara tengah berada pada fase nggak mau ditinggal lama-lama oleh Zee. Namun, Ken juga tidak bisa menjelaskannya.
"Semoga Kia mau kamu tinggal."
"Cckkk, kenapa Daddy ngomongnya begitu?"
"Nggak apa-apa. Sudah, Daddy tutup dulu teleponnya. Ini nungguin Mommy kamu masih di kasir."
"Oke, Dad."
__ADS_1
Setelah itu, panggilan telepon ayah dan anak tersebut terputus. Zee melanjutkan niatnya mencari keberadaan Kiara yang ternyata sedang berada di dapur. Dia melihat Bi Ani sedang menyiapkan makan malam.
Kenapa Kiara tidak membantu? Jawabannya karena Bi Ani melarangnya. Bi Ani benar-benar melarang Kiara melakukan aktivitas apapun karena khawatir kenapa-napa. Apalagi, luka kemarin juga masih belum sembuh sepenuhnya.
Zee mendekat ke arah Kiara yang sedang duduk. Dia memeluk tubuh sang istri dari belakang. Sebuah kecupan mendarat pada bahu Kiara dengan lembut. Kiara langsung menoleh saat merasakan pelukan Zee.
"Mas?"
"Hhhmmm, lagi apa?" Zee masih tidak memindahkan wajahnya pada bahu Kiara. Bahkan, saat ini dia sudah mulai mengendus-endus leher sang istri.
"Lihat Bi Ani masak. Bibi ngelarang aku bantuin, Mas."
"Iya. Jangan aktivitas berat dulu. Tunggu sampai Dedek kuat di sana," ucap Zee sambil mengusap-usap perut Kiara yang masih datar tersebut.
"Iya, Mas."
"Sayang, besok aku harus berangkat ke Surabaya," ucap Zee. "Nggak lama, kok. Paling satu atau dua hari."
Tubuh Kiara tampak menegang. Dia langsung menolehkan wajahnya ke arah Zee. Entah mengapa tiba-tiba air mata Kiara langsung luruh begitu saja. Zee yang melihat hal itu langsung panik.
"Eh, eh, kenapa menangis? Aku hanya sebentara, Sayang. Nanti jika sudah pulang, aku kasih hadiah, deh." Zee membujuk Kiara sambil mengusap air mata yang sudah membasahi pipi sang istri tersebut.
"A-apa?"
"Kamu bebas ngapa-ngapain tubuhku, deh. Bebas."
__ADS_1
"Eh,"