Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 106


__ADS_3

Kiara cukup terkejut dengan perkataan Zee. Dia mendadak gugup saat Zee menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Lupakan, aku hanya bercanda tadi. Aku mandi dulu." Zee langsung berbalik dan berjalan menuju kamar mandi.


Sementara Kiara, dia memegangi letak jantungnya yang berdegup sangat kencang.


"Apa-apaan itu tadi? Apa maksudnya mandi bareng?" Kiara yang bisa bergumam dan menggelengkan kepala. Kiara memilih untuk membuka beberapa paper bag yang berada di atas tempat tidur.


Dia hanya bisa mendesahkan napas ke udara saat melihat ternyata isi paper bag tersebut adalah baju tidur, dan beberapa dress tanpa lengan sepanjang lutut. Meskipun begitu, Kiara cukup bersyukur saat mertuanya tidak membelikan baju tidur yang bisa membuatnya masuk angin ataupun malu.


Beberapa saat kemudian, Zee terlihat keluar dari kamar mandi. Dia juga sudah berganti baju dengan baju ganti yang sudah dibawanya ke dalam kamar mandi tadi.


Kiara sempat menoleh sekilas ke arah Zee. Namun, dia buru-buru menundukkan pandangannya karena masih merasa malu bertatap muka dengan sang suami.


"Aku sudah selesai. Sekarang kamu bisa gantian mandi," ucap Zee sambil masih menggosok-gosok rambutnya.


Kiara segera beranjak berdiri sambil membawa baju ganti untuknya. 


"I-iya." Kiara segera berjalan menuju kamar mandi sambil masih menundukkan kepala.


Zee yang melihat tingkah Kiara hanya bisa menggelengkan kepala. Setelah itu, dia segera mengambil ponselnya untuk memesan makan malam.


Malam itu, Zee dan Kiara makan malam bersama di dalam kamar. Zee benar-benar tidak bisa keluar kamar karena sang mommy mengancamnya jika sampai berani meninggalkan Kiara sendirian di dalam kamar. Malam itu, Zee dan Kiara sepakat untuk saling lebih mengenal.


"Kamu sudah lulus SMA, kan?" tanya Zee di sela-sela aktivitasnya mengunyah makan malam.


"I-iya, sudah." Lagi-lagi Kiara tidak berani mendongakkan kepala. Entah mengapa dia masih merasa gugup saat berinteraksi dengan Zee.


Zee menoleh ke arah Kiara. Dia menatap wajah sang istri sekilas sebelum kembali bersuara.

__ADS_1


"Besok, kita akan ke rumah sakit dan berkonsultasi untuk memindahkan nenek kamu ke Surabaya. Jika memngkinkan, kita memindahkannya ke Jakarta."


Kali ini, Kiara memberanikan diri menatap wajah sang suami. Dia merasa sangat bahagia saat keluarga barunya tersebut peduli dengan sang nenek.


"Terima kasih banyak." Kiara menganggukkan kepala berkali-kali.


"Sama-sama. Mulai sekarang, keluargamu keluargaku juga. Dan, begitu juga sebaliknya."


"Iya."


"Ehm, apa kamu tidak ingin kuliah?"


Kiara mendongakkan kepala kembali. "Kuliah?"


"Iya. Kamu tidak mau melanjutkan kuliah?"


"Se-sebenarnya, sa-saya…,"


"Tidak usah merasa malu. Kita sudah menikah. Sekarang, kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Jadi, jangan lagi merasa canggung seperti itu."


"I-iya, Kak. Terima kasih." Kiara mengangguk-anggukkan kepala berkali-kali.


Zee yang baru pertama kali mendengar Kiara memanggilnya seperti itu, merasa sedikit tidak suka. Bukannya dia tidak mau dipanggil dengan panggilan 'kakak', namun Zee merasa jika dia hanya seperti kakak Kiara, bukan suaminya.


"Jangan memanggil 'kakak', aku tidak suka. Bukankah mommy sudah mengatakannya?" 


Ya, Zee mengetahui jika sang mommy sudah meminta Kiara mengganti nama panggilan kepada mereka semua. Bahkan, Zee juga mengetahui jika sang mommy memperkenalkan kepada keluarga besarnya serta panggilan yang bisa dipakainya.


"Iya, sudah."

__ADS_1


"Lalu, kenapa kamu masih memanggilku seperti itu? Apa kamu tidak menganggapku sebagai suami?"


Kiara menggelengkan kepalanya. "Ti-tidak. Bukan seperti itu."


"Panggil aku seperti yang di ajarkan mommy. Aku ingin mendengarnya."


"Sekarang?"


"Iya, memangnya kapan lagi?" Zee mendengus sambil meraih gelasnya minumnya.


Kiara merasa gugup. Dia meremas kedua tangannya di bawah meja. Namun, dia harus melakukan apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Sa-sayang?"


Pppffffftttttttttt….


\=\=\=\=


Wuaahhh, kira-kira apa yang dilakukan Zee?


Tersedak


Mendelik


Senyum-senyum sendiri


Pargoy


Ngamuk ke othor 

__ADS_1


__ADS_2