
Malam itu, ruang perawatan Kiara langsung ramai karena kedatangan keluarga besar sang suami. Bahkan, sang aunty yang kini tinggal di Surabaya pun juga datang untuk menemui Zee dan putranya tersebut.
"Aunty Za, menginap di Jakarta, kan?" tanya Zee saat mengantarkan keluarganya berjalan menuju pintu.
"Iya, Zee. Aunty dan Uncle tidur di rumah Papa. Sekalian mau bujuk Papa biar mau check up ke Singapura lagi," jawab Khanza sambil melirik ke arah sang daddy.
Papa Vanno yang merasa tersindir pun langsung mendengus kesal. "Aku masih capek. Nanti saja check upnya. Kalian saja nggak tau seberapa ngilunya setelah melakukan check up itu," ucap Papa Vanno sambil mencebikkan bibir.
Mendengar jawaban sang daddy, Khanza langsung tergelak. Dia buru-buru memeluk tubuh daddynya tersebut dari samping.
"Masa sih ngilu, Dad? Jika ngilu, kenapa Mommy selalu menggerutu jika Daddy selesai check up?"
Papa Vanno langsung menoleh ke arah dang istri. "Kamu cerita ke anak-anak kamu, Yang?"
Mama Retta hanya mencebikkan bibir sambil bersiap beranjak pergi. "Tanpa aku cerita pun mereka sudah tahu jika daddynya akan langsung ganas setelah melakukan pemeriksaan rutin."
Khanza, Ken, Gitta serta Al yang mendengar sang mommy menggerutu langsung tergelak. Mereka sudah sangat hafal dengan tingkah orang tuanya. Bisa dipastikan, sang mommy akan kesusahan bangun pagi setelah sang daddy menjalani pemeriksaan rutin.
Papa Vanno hanya bisa pasrah saat semua putra putrinya menggodanya. "Aku kan berusaha mengalihkan perhatian dari rasa sakit akibat pemeriksaan itu," ucap Papa Vanno tak mau kalah.
Semua putra putrinya hanya mengiyakan saja ucapan Papa Vanno. Mereka tidak mau berdebat lagi dengannya.
Malam itu, keluarga besar Zee berpamitan. Kini, hanya tinggal Ken, Gitta dan juga Zee yang menunggu di rumah sakit. Gitta tidak mau meninggalkan cucunya untuk pulang. Sedangkan Ken, mana mau ditinggal Gitta di rumah sakit. Alhasil, mereka semua menginap di rumah sakit bersama-sama.
__ADS_1
"Mommy dan Daddy istirahat di kamar sebelah saja. Biar aku yang nemenin Kia," ucap Zee sambil menoleh ke arah kedua orang tuanya yang sedang duduk di sofa sambil menonton acara TV.
"Yakin kamu bisa sendirian bantuin Kia jika Gen nangis nanti, Zee?" tanya Gitta.
"Yakin, Mom. Paling hanya pindahin Gen dari box bayi ke pangkuan Kia."
"Jika Gen pup bagaimana?"
Zee menoleh ke arah sang mommy sebelum menjawab. "Nanti aku bangunin Mommy, deh jika Gen pup."
Gitta mengangguk setuju. Setelah itu, dia dan sang suami segera beranjak menuju kamar sebelah untuk beristirahat. Sepeninggal kedua orang tuanya, Zee langsung berjalan menuju box bayi dan menatap putranya yang sedang tertidur pulas tersebut. Wajah Zee masih berbinar bahagia saat menyadari kini statusnya sudah bertambah menjadi seorang ayah.
Kiara yang melihat ekspresi sang suami merasa sangat bahagia. Dia benar-benar bersyukur memiliki keluarga yang sangat perhatian dan menerimanya apa adanya.
Tak berapa lama kemudian, Zee berbalik dan menghampiri Kiara. Dia duduk di samping brankar sang istri sambil menggenggam tangannya.
Kiara menggelengkan kepala sambil mengulas senyumannya. "Nggak ada, Mas."
Zee mengangguk sambil kembali menciumi tangan sang istri. Kiara yang masih penasaran pun langsung bertanya.
"Mas, boleh aku bertanya?"
Zee menghentikan aktivitasnya dan mendongakkan kepala menatap wajah sang istri.
__ADS_1
"Penasaran tentang apa?"
"Ehm, kenapa semua keturunan Geraldy selalu bernama Alexander Geraldy? Bahkan, Aunty Za pun juga memiliki nama yang hampir sama."
Zee tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Kiara.
"Kalau boleh jujur, aku juga tidak tau mengapa bisa seperti itu, Yang. Tapi, Papa Vanno punya alasan tersendiri tentang hal itu. Ya, terkait tentang penerus keluarga sih, sebenarnya."
"Oh, begitu." Kiara mengangguk-anggukkan kepala mengerti.
Zee masih menatap wajah sang istri lekat-lekat sebelum kembali bersuara. "Apa kamu keberatan jika aku memberi nama Genandra Alexander Geraldy kepada putra kita?"
Mendengar pertanyaan Zee, Kiara langsung menggelengkan kepala sambil tersenyum. Tangan kanannya juga terangkat dan mengusap pipi Zee dengan lembut.
"Mana mungkin aku keberatan, Mas. Justru, aku sangat bahagia saat kamu memberi nama itu," ucap Kiara sambil tersenyum manis.
Tak tahan melihat senyuman sang istri, Zee langsung berdiri dan mulai melahap bibir yang selalu membuat Zee candu tersebut.
Kiara yang mendapat serangan tiba-tiba, langsung gelagapan sambil memukul-mukul bahu sang suami. Namun, bukan Zee namanya jika menurut begitu saja. Kini, tangan kanannya bahkan sudah menemukan 'mainan' baru. Hingga, sesuatu yang kenyal-kenyal dan basah terasa pada tangannya, baru Zee menghentikan aktivitasnya.
Zee cukup terkejut saat melihat baju bagian depan Kiara langsung basah. Bahkan, rembesan asi tersebut terus mengalir.
"Astaga, Yang. Deras sekali pancurannya. Gen pasti nggak akan mampu menghabiskan ini," ucap Zee sambil menatap nanar sumber nutrisi sang putra.
__ADS_1
Kiara langsung paham maksud ucapan Zee. "Jika Gen tidak mampu menghabiskan, kamu mau apa, Mas?"
Mau apa Zee?