Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 59


__ADS_3

"Tedi, ao angun. Ji au yihat heyicopel." Zee yang saat itu sudah nangkring di atas perut sang daddy, langsung menepuk-nepuk pipi Ken. Balita tersebut masih berusaha untuk membangunkan sang daddy.


Ken mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Dia menatap wajah Zee yang sudah berada tepat di depan wajahnya.


Cup. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Zee sudah mendaratkan kecupan basahnya pada pipi Ken.


"Ceyamat padi." Zee sudah tersenyum lebar menatap sang daddy.


Sebuah senyuman langsung terbit pada bibir Ken. Rupanya Zee mengikuti apa yang selalu dilakukannya keoada Gitta setiap kali bangun tidur.


"Selamat pagi, Boy. Jam berapa ini? Kenapa sudah bangun, hhmmm?" Ken dengan suara seraknya meraup Zee dalam dekapannya sambil menciumi pipi gembul tersebut.


Ken menolehkan kepalanya dan mengerjap-ngerjapkannya. Apa aku tidak salah lihat? Ini masih setengah empat? Batin Ken.


"Ji au yihat heyicopel, Ted. Ke yumah papa, yuk."


Ken yang mendengar permintaan sang putra hanya bisa mendesahkan napas beratnya. Apa yang akan mereka lakukan jika pergi ke rumah daddy Vanno jam segini? Ken bisa memastikan kedua orang tuanya juga pasti masih tidur. Atau mungkin, masih cangkul-mencangkul.


Namun, jika keinginan Zee tidak dituruti, dia pasti akan merengek semakin keras. Salahkan saja daddy Vanno karena kemarin sempat mengiriminya mainan helikopter yang sebesar anak remaja tersebut. Catat, mainan helikopter. Daddy Vanno mengurungkan niatnya untuk membelikan Zee helikopter asli karena takut dengan ancaman mommy Retta.


Ken segera menurunkan Zee. Dia menoleh ke arah Gitta yang masih terlelap tersebut. Setelahnya, dia meninggalkan sebuah kecupan pada pipi sang istri sebelum beranjak dari tempat tidur.


Zee langsung mengulurkan kedua tangannya ke arah Ken untuk minta di gendong. Ken segera meraup Zee ke dalam gendongannya. Setelah itu, kedua laki-laki beda generasi tersebut langsung beranjak keluar dari kamar.


"Zee sudah tidak ngantuk lagi?" tanya Ken sambil menuruni tangga.

__ADS_1


"Indak. Ji au ain heyicopel," jawab Zee dengan penuh semangat.


Saat itu, Ken bertemu dengan asisten rumah tangga mereka. Setelah meninggalkan pesan untuk Gitta jika bangun, Ken segera berjalan menuju rumah kedua orang tuanya.


Hari yang masih belum subuh itu pun terasa dingin. Zee memeluk leher sang daddy dengan erat untuk menghalau rasa dingin. 


Ken menyadari jika sang putra sedang kedinginan. Dia mengusap-usap punggung Zee untuk menghalau rasa dingin.


"Dingin?"


"Ja. Ingin, Ted."


"Tadi di ajak bobo lagi nggak mau?"


"Au ain heyicopel."


"Tenapa geyyap, Ted?" Zee mengeratkan pelukannya saat memasuki rumah dan hanya ada sedikit cahaya dari ruang dalam rumah tersebut.


"Ini masih malam, Sayang. Jadi semua masih bobok."


"Papa?"


"Papa juga masih bobok."


"Tayo Mama?"

__ADS_1


"Mama juga masih bobok." 


"Tenapa acih bobok?"


Hadeuuhh, apakah anak kecil selalu begini jika bertanya? Apa aku dulu juga begitu? Gumam Ken.


Ken tidak menjawab pertanyaan Zee. Dia langsung menggendong sang putra menuju kamar kedua orang tuanya. Namun, saat melewati kamar tamu, Ken berhenti. Terdengar sebuah suara dari dalam sana. 


"Uuuhhhh, auuuhhhhh, Maassshhh. Aaaauuuhhh."


Zee yang juga mendengar suara tersebut langsung menatap wajah sang daddy.


"Tedi, mama tenapa? (Daddy, mama kenapa?)"


Belum sempat Ken menjawab pertanyaan sang putra, terdengar suara balasan dari daddy Vanno di dalam sana.


"Yaanngg, aduuhhh, kejepit, Yang. Kenceng banget ini, auuhh."


Zee yang sudah paham maksud kejepit pun langsung heboh. 


"Aaaaa, Tedi antu papa tedepit. Papaaa! (Aaaaa, Daddy, bantu papa kejepit. Papaaa!)"


Bugh bugh bugh.


\=\=\=

__ADS_1


Dalam hati daddy Vanno be like …..


__ADS_2