
"Hallo, Al."
"Da-dad, Kha-Khanza keguguran. Sekarang dia koma," kata Al dengan napas tercekat. Dia tidak bisa menyembunyikan kesedihan pada suaranya.
"Apaaa?!"
Daddy Vanno langsung berteriak hingga membuat semua orang yang berada di rumah Ken terkejut. Mommy Retta yang berada di sampingnya pun cukup terkejut.
"Ada apa, Mas?" Mommy Retta tampak khawatir.
Daddy Vanno menolehkan kepala ke arah mommy Retta. Wajahnya sudah pucat seolah tidak teraliri darah sama sekali. Saat itu, panggilan telepon Al sudah terputus. Daddy Vanno mengerjap-ngerjapkan kedua matanya sebelum menyampaikan berita buruk tersebut.
"Kha-Khanza kecelakaan. Sekarang ada di rumah sakit," ucao daddy Vanno.
"Tidaakkkk!"
__ADS_1
Mommy Retta langsung berteriak histeris. Dia menangis meraung-raung. Apalagi, saat mengetahui jika Khanza keguguran dan mengalami koma. Mommy Retta bahkan tidak sadarkan diri beberapa kali.
Malam itu juga, daddy Vanno dan semuanya langsung berangkat ke Surabaya. Hingga menjelang dini hari, Daddy Vanno dan keluarga sudah tiba di rumah sakit.
Mommy Retta masih sering pingsan saat dalam perjalanan. Bahkan, saat hendak berjalan menuju ICU tempat Khanza dirawat, Mommy Retta juga sudah pingsan beberapa kali. Mommy benar-benar tidak sanggup melihat keadaan Khanza.
Daddy Vanno dan juga Ken langsung membawa Mommy Retta ke kamar khusus untuk keluarganya. Mereka tidak ingin membuat mommy semakin histeris saat melihat keadaan Khanza. Daddy Vanno akan mengizinkan mommy melihat keadaan Khanza jika emosinya sudah lebih stabil.
Mommy Retta ditemani oleh Gitta sementara Daddy Vanno dan juga Ken bergegas untuk menemui Al.
Khanza sudah dipindahkan ke ruang ICU pasca operasinya. Dia dinyatakan koma setelah menjalani operasi kemarin. Keluarga besar Khanza masih berada di rumah sakit untuk melihat keadaan Khanza. Mommy Retta yang terlihat sangat terpukul dengan kejadian ini.
Al yang melihat kedatangan Ken dan daddy Vanno, semakin sedih. Air mata yanh semula sempat kering, kini sudah mulai menganak sungai. Air matanya kembali luruh.
"Da-Dad," Al seakan tak kuasa menahan tangisnya.
__ADS_1
Daddy Vanno dan Ken langsung duduk di samping Al dan menepuk-nepuk punggungnya. Mereka benar-benar terpukul dengan peristiwa ini. Mereka berusaha saling menguatkan. Bukan hanya Al, mommy Retta, dan daddy Vanno yang terpukul dengan peristiwa ini. Tapi, Ken dan Gitta juga tak kalah terpukulnya. Mereka benar-benar tidak menyangka jika kejadiannya akan seperti ini.
Setelah cukup tenang, Al mulai menceritakan kejadian yang dialami oleh Khanza. Al berulang kali meminta maaf kepada daddy Vanno dengan kejadian tang menimpa Khanza. Dia merasa gagal menjadi suami dan calon ayah untuk menjaga istri dan calon anaknya.
"Maafkan aku, Dad. Aku merasa gagal menjaga Khanza," lagi-lagi Al hanya bisa meneteskan air mata sambil menundukkan kepala. Dia benar-benar merasa tidak berguna saat itu.
"Sudah Al. Jangan merasa seperti itu. Ini semua musibah. Semua sudah menjadi takdir kita menjalani ini semua. Tidak kurang-kurang kita berhati-hati, tapi jika ini sudah menjadi takdir-Nya, kita bisa apa?" Daddy Vanno menepuk-nepuk punggung Al berusaha untuk menenangkannya.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Ken. "Daddy benar, Al. Gue yakin lo sudah berusaha sebaik mungkin untuk menjaga Khanza. Gue percaya itu. Ini bukan salah lo, Al. Jadi, jangan seperti ini. Khanza butuh lo. Kuatkan diri lo untuk membantu proses penyembuhan Khanza."
Al terlihat mengangguk-anggukkan kepala. Dia menoleh ke arah daddy Vanno dan Ken bergantian. Keduanya menganggukkan kepala saling memberikan dukungan.
\=\=\=
Sabar ya, alurnya memang seperti ini. 🤧
__ADS_1